Tampilkan postingan dengan label si noor gila. Tampilkan semua postingan

Kaspolan tidak ngerti ngerti amat soal tinju. Tapi tiap ada laga tinju, kaspolan jadi semangat. Tinju lah yang bikin dia senang saat di...


Kaspolan tidak ngerti ngerti amat soal tinju. Tapi tiap ada laga tinju, kaspolan jadi semangat. Tinju lah yang bikin dia senang saat dirundung kesusahan. Selain tentunya, dua kekasih dan malaikat sahabat empat yang dia miliki. Bagi dia, Tinju bukan hanya sekedar olah raga.

Kaspolan kecil hidup di era petinju besar Evander hollyfield dan Mike Tyson. Sebuah fight week tinju di suatu sabtu juni 1997 menorehkan kesan pertama sebuah pertandingan tinju baginya. Sadis, beringas, kejam dan tak kenal ampun. Itulah Iron Mike Tyson, si leher beton.
pertandingan tinju yang sarat dengan kekerasan. Juara dunia Mike Tyson yang tujuh bulan sebelumnya berhasil merebut gelar dari Evander hollyfield bertemu lagi dengannya di jilid kedua title fight.

Tidak terduga  Tyson melakukan tindakan kontroversial dalam pertandingan tinju. Tyson menggigit telinga kanan hollyfield hingga putus sebagian. Tyson kalah karena diskualifikasi. Hollyfield kembali merebut gelar juara dunia nya.

Sejak saat itu tinju membekas di kepala kaspolan. Suatu ketika sebuah cd game tinju yang dia mainkan sepulang sekolah membuatnya mengenal sosok kawakan tinju. Mulai dari Sonny Liston, George Foreman, Joe Frazier hingga Muhammad Ali. Tapi yang paling menancap di hatinya adalah yang terakhir.

Gaya muhammad Ali sebelum memasuki ring tinju sangat memikat. Muhammad Ali Aka. Cassius Clay melakukan adzan menjelang masuk ke ring tinju. Merasa heran pada adegan itu kaspolan menjadi sungguh tertarik mengikuti cerita muhammad ali. Sang legenda tinju dunia.
Cara Muhammad Ali bertarung sungguh berbeda dengan kesan pertama tinju kaspolan yang dia dapat dari Mike Tyson. Muhammad Ali bertarung tapi menghibur. Lihat gerakan kaki nya saat dia menghadapi lawan-lawannya. Seperti orang berdansa. Berlari lari kecil berganti ganti kaki. Lincah memutari lawannya.

Bukan hanya tinju yang menjadi pemikat kaspolan terhadap Muhammad Ali. Dia kagum pada orang afrika-amerika itu yang menjadi mualaf pada umur 22 tahun. Setelah menumbangkan juara dunia yang sudah tua Sony Liston Cassius Clay mengganti namanya menjadi Muhammad Ali di atas ring tinju. Setelah menjadi mualaf Muhammad Ali menjadi muslim yang sangat taat. Berupaya tidak pernah meninggalkan sholat lima waktu dan berupaya untuk berjamaah.

Kaspolan juga kagum benar pada laku hidup Muhammad Ali. Baginya, dia bukan hanya seorang petinju, namun juga aktivis perdamaian, juru dakwah, juru runding, juru damai sekaligus seorang sufi sejati. Medali emas yang didapatnya dari olimpide sengaja Ali buang ke Sungai Ohio. Medali itu sama sekali tak pantas Ali rayakan karena berat hati deritanya akan nasib saudara sesama kulit hitam di Amerika yang mendapat perlakuan tidak adil.

Ali juga merelakan semua gelar tinjunya dicabut daripada harus ikut wajib militer di perang vietnam. Ali dengan tegas tidak ingin ikut membunuhi rakyat vietnam. terlebih katanya, orang vietkong tidak pernah menyebutnya niger (negro). Dominasi kulit putih di negerinya lah yang merendahkan warga negara berkulit hitam.

Kaspolan juga mendengar juara dunia yang berjuluk The Greatest itu di penghujung karir tinjunya menyadari bahwa tiada yang Greatest (akbar, terbesar) selain Allah. sehingga saat media mewawancarainya soal penyakit parkinson yang dia derita, Ali menyatakan bahwa dia senang dalam sakitnya. Keputusan Tuhan memberi sakit pada Ali dia anggap adalah pernyataan Tuhan bahwa tidak ada yang lebih besar dari pamor Nya. Ali memilh dan menikmati kepasrahannya terhadap takdir Tuhan tersebut. Sementara kita disini hari ini terus-menerus mengeluh pada tiap kehendak Nya.

Dari tinju dan Muhammad Ali, Kaspolan belajar kehidupan. Bagi kaspolan tinju bukan soal kalah menang. Tinju juga tidak hanya lekat dengan kekerasan. Sebab orang yang suka kekerasan hanya penasaran pada korban kecelakaan lalu lintas tanpa bersedia menolong. Tinju itu laku perjuangan hidup. Tinju itu tiidak penting sukses atau tidak, tapi tetap berjuang meskipun keadaan makin terhimpit sesak. dan tetap percaya padanya meskipun Dia tidak kunjung melibatkan Dirinya dalam persoalan hidupmu.

"Kalau ada sihir dalam tinju itu adalah tetap bertarung meski pelipis berdarah, mata bengkak penuh luka, tulang patah atau retina lepas"

-kutipan dari film tinju peraih oscar Million Dollar Baby-

Gresik, 4 Oktober 2017

Tidak ada anasir dalam hidup kaspolan yang dia sengaja bangga-banggakan. Entah itu nasab, nasib, profesi, pangkat, capaian, prestasi, a...


Tidak ada anasir dalam hidup kaspolan yang dia sengaja bangga-banggakan. Entah itu nasab, nasib, profesi, pangkat, capaian, prestasi, apalagi harta. Toh ya, semua itu memang tidak pantas sama sekali untuk dia banggakan.
Membanggakan diri itu tidak sopan dalam laku hidup kaspolan. Cukup yang pantas Membanggakan diri hanyalah Dia Yang Maha Terbesar. Yang kaspolan tahu secara mudah-mudahan benar adalah soal bangga kepada. Proud of. Salute of.
Itu pun juga Bukan bangga pada bintang film tenar, para pesohor negeri, tokoh perjuangan, pahlawan besar dalam sejarah, idola kaum remaja, musikus top five, presiden, sampai anggota dewan yang terhormat tapi mayoritas malah tidak terhormat.
Bukan itu semua. Kaspolan malah menaruh bangga Pada orang kecil di negeri ini. Mereka yang entah suka atau tidak suka harus menjalani hidupnya penuh perjuangan. Bahkan dengan tenaga ekstra, Mental baja, Hati pejuang, demi sekedar untuk memastikan hari ini bisa makan apa tidak.
Rasa bangga dilengkapi kagum kaspolan itu fixed jatuh pada kuli angkut pupuk di pelabuhan tradisional. Yang sehabis lelah bekerja mereka istirahat di gubuk kolong dermaga karena uang mereka tak cukup untuk kos. Atau ibu penjual mainan tradisional yang meskipun ia berpanas-panas panggul kesana kemari tetap saja dagangannya tak kunjung laku.
Atau mungkin bapak pedagang asongan di Simpang traffic light yang karena serba kekurangan nya hanya mampu menjual sejumlah sedikit ikat kacang.
Atau masih lebih banyak lagi saudara yang sejenis dengan mereka, bapak buta dituntun rekannya yang jualan kemoceng, bapak pengayuh sepeda yang menjual satu dua buah sapu tak kunjung laku, bapak parobaya yang jualan sekresek kerupuk sambil tertunduk lesu. bocah payung, bocah penyemir sepatu, para pengamen, para kuli bangunan. Atau mungkin para fakir pengemis yang orang dalam hati mulai menuduh mereka lebih kaya dari mereka sampai-sampai kaspolan dengar sambatan mereka. "kalau sudah kaya ngapain terus terusan ngemis cak".
Dunia dimana kaspolan tinggal saat ini cenderung anggap mereka itu orang pinggiran. Malas. Bodoh. Marginal. Terbelakang. Tidak punya daya saing. Tidak punya skill, dan cibiran miring sebagainya. Namun, di mata kaspolan mereka adalah para pembesar sejati, motivator sesungguhnya, pelaku darma kehidupan, wisudawan nilai kebaikan, juara tinju legendaris. Sebab tinju adalah bukan soal menang atau kalah. Mereka adalah petinju sejati, truely fighter.
Mereka yang dalam keterbatasan, penderitaan, yang dikepung segala ketidakamanan masa depan menolak menyerah pada ketidaksucian hidup. Sungguh aku bersumpah mereka lah yang lebih pantas dibanggakan daripada pejabat pemerintah di negara ini.

Hidup cak Kaspolan berubah drastis sekarang. Lebih banyak jurus dan kuda-kuda bersyukur yang dia kuasai. Sejak tak jadi karyawan karena tak ...

Hidup cak Kaspolan berubah drastis sekarang. Lebih banyak jurus dan kuda-kuda bersyukur yang dia kuasai. Sejak tak jadi karyawan karena tak sesuai dengan kebenaran sejati Nya. Dia lalu jadi pedagang online untuk menafkahi dirinya dan istri anak tercinta.

Roda nasib pun berputar. Awalnya dagangan laris manis. Lebih dari cukup. Tapi kini poros roda lagi posisi di bawah.. dagangan kurang laku, omzet berkurang dan penghasilan memilukan.
Namun, itu semua bukan lah dianggap penderitaan oleh cak Kaspolan.

Bersama mbak Sangidah, istri tercinta, Kaspolan selalu menganggap semua yang sudah terjadi adalah nikmat dari Nya. Rejeki melimpah, rahmat. Rejeki sulit, tetap nikmat.

Tapi kalau cak Kaspolan bilang begitu tidak lantas dia tidak pernah Sambat. Tiap ada derita langsung girang teriak lantang : ini rahmat Mu! Ya ndak gitu juga. Kaspolan itu ya tetap manusia. Kondisi jiwa nya bebas. Bisa ke kanan, Atau ke kiri. Bisa ngerasa girang banget ya juga ada sela dia down nggak karuan. Tapi yang sedang diperjuangkan Kaspolan adalah bagaimana menyikapi nya secara seimbang. Kalau pas lagi senang jangan lupa bisa jadi kamu sedih nanti nya. Begitu pula sebaliknya.

Dengan jurus itu itu Kaspolan melewati hari hari gelap terang hidupnya. Selalu di tengah. Selalu seimbang. Tak goyah. Tetap pada rel Nya. Itu lah energi hidup Kaspolan. Energi murni dari Dia dan kekasih Nya.

Dulu uang, 100 ribu sangat bernilai kecil bagi Kaspolan. Tapi kini dengan kondisi rezeki sulit, Cak Kaspolan diberi nikmat bahwa uang berapapun bila diterima dengan penuh rasa syukur ternyata juga bisa membahagiakan. Pernah cak Kaspolan dapat uang cuma 50 ribu. Tapi ia sikapi dengan tangis haru bahagia. Alhamdulillah, puji syukur sudah dapat 50 ribu. Seperti orang mendadak dapat 50 juta.

Entahlah, Kaspolan kini menikmati hari hari nya. Selalu ditolong Nya saat kesusahan. Selalu mudah menemukan campur tangan nya. Karena Dia itu Maha Bekerja.

Terima kasih Gusti.
Mugi paringo ing margi kaleresan
Kados margining manungso kang manggih kanikmatan
Sanes margining manungso kang Paduko laknati

Gresik, 30 Juli 2017

Sembilan bulan mengarungi hidup bersama, Cak Kaspolan dan Mbak Sangidah akhirnya dikaruniai oleh Allah buah hati. Mbak Sangidah dipercaya ol...

Sembilan bulan mengarungi hidup bersama, Cak Kaspolan dan Mbak Sangidah akhirnya dikaruniai oleh Allah buah hati. Mbak Sangidah dipercaya oleh Nya menjadi seorang ibu bagi anak anak Cak Kaspolan.

Baik mbak Sangidah, maupun cak Kaspolan bahagia luar biasa saat tahu istrinya positif hamil. Perasaan haru, bahagia, kaget campur aduk. Semua nuansa itu terkandung beribu hikmat dan rahmat yang bisa dipetik.

Cak Kaspolan jadi tahu, bagaimana periode awal perempuan hamil. Mbak Sangidah sering kali mual hingga berujung muntah. Wanita hamil juga dianugerahi allah penciuman yang super tajam. Sehingga sangat reaktif pada bebauan yang menyengat.

Selama hamil tidak ada pada mbak Sangidah keluhan selain mual dan muntah. Kegiatan tetap berlangsung seperti sehari hari biasanya. Istri cak Kaspolan itu ya tetep kerja. Nggak mengeluh capek. Bekerja dengan penuh kasih dan sayang. Mengobati sakit orang orang banyak. Seorang dokter yang tidak berniat mencari uang dari pasien nya. Dokter yang hanya tahu menolong manusia dan kemanusiaan.

Maka kedua nya diam diam berdoa pada allah. Supaya anak mereka menjadi yang seperti Zakaria panjatkan dalam doanya yaitu dzurriyatan toyyibah. Anak yang baik di mata ukuran allah.

Semoga kamu nanti jadi anak yang tangguh ya nak. Cak Kaspolan yakin kalau anak adalah copy paste orang tuanya. Bahkan sejak dalam umur di kandungan. Melihat mbak Sangidah yang tetap kuat bekerja dalam keadaan hamil tentu ada harapan nantinya si anak juga kuat dan tangguh. Tidak gampang mengeluh dan menyerah. Tetap teguh dan sungguh sungguh pada jalan Nya.

Gresik, 11 Juli 2017

Dalam hidup ternyata ada hal yang tidak kita sukai tetapi wajib kita lakukan. Begitulah hari hari dalam kehidupan Kaspolan akhir akhir ini. ...

Dalam hidup ternyata ada hal yang tidak kita sukai tetapi wajib kita lakukan. Begitulah hari hari dalam kehidupan Kaspolan akhir akhir ini. Kalimat kalimat sakral seperti kita harus siap senang melakukan apa yang tidak kita senangi, dan siap tidak senang melakukan apa yang kita senangi. Kalimat tadi mengganggu otak Kaspolan. Hingga perlahan mulai mengubah jalan pikir nya, tindakan nya, kebiasaan nya, perilaku nya hingga budaya hidup nya.

Begitu hebat nya kata hingga membuat Kaspolan yang sekarang jauh berbeda dengan Kaspolan yang dulu. Padahal itu semua integral. Sama sama satu cak Kaspolan. Dulu dia kalau bertindak berdasarkan suka atau tidak suka, enjoy atau tidak, passion atau nggak, gembira atau bahagia. Kalau kok dirasa banyak tidak nya pasti hatinya bergejolak ingin menolak. Enggan memilih dan mengerjakan.

Tapi laku hidup Kaspolan berbeda sekarang. Entah terkena racun pikiran dari siapa. Kaspolan begitu aneh. Tidak wajar. Tidak seperti biasanya.

Kalau dulu Kaspolan tidak suka makan masakan Bali yang bumbunya warna merah, rasanya sangat rempah, kini dia sanggup dan rela memakannya hingga habis tak bersisa meskipun sebenarnya dalam hati dia tidak senang. Akhirnya rasa tidak senang nya pada masakan Bali itu ia lumat habis, menyisakan serbuk serbuk halus keridaan untuk berkesimpulan aku suka masakan Bali. Lebih jauh saat acara makan bersama dan pas ada banyak pilihan menu, Kaspolan selalu menawarkan untuk apa yang tidak disukai teman makannya itu diberikan saja padanya.

Untuk urusan harta bendawi juga sama. Kaspolan malah menyukai apa yang  tidak disukai oleh orang kebanyakan. Dia tidak nyaman tinggal di rumah mewah saat berkilo-kilo meter dari rumahnya ada kaum miskin papa yang hidup nya tiap hari adalah perjuangan untuk urusan perut. Kaspolan juga tidak nyaman naik mobil disaat banyak sahabat sahabat nya hanya pakai sepeda untuk moda transportasi. Jangan harap Kaspolan sekarang mau ikut ikut tren motor keluaran terbaru yang desainnya makin besar makin wah makin bikin gengsi naik saat lewat perkampungan si miskin. Motor yang paling suka dikendarai Kaspolan adalah motor mungil varian terjelek dan termurah yang justru disitulah dia bangga memakainya.

Kaspolan bukan manusia dengan agama materi. Ukuran sukses dan mulia nya beda rumusan dengan apa yang mewabah di negeri nya sekarang. Saat kekayaan jadi tolak ukur.

Berbahagia lah Kaspolan seperti kata jalaludin rumi. Bahwa manusia yang tidak risau akan lebih atau kurang dalam kehidupan duniawi adalah manusia yang paling beruntung bahagia.

Gresik, 7 juli 2017

Lalu apa yang kamu lakukan bila sudah lama dan berjuta kali kamu berdoa, tapi Tuhan sepertinya tidak memberikan solusi? Harapan mu, jalan ke...

Lalu apa yang kamu lakukan bila sudah lama dan berjuta kali kamu berdoa, tapi Tuhan sepertinya tidak memberikan solusi? Harapan mu, jalan keluar yang kau nantikan sama sekali tidak kamu terima. Malah makin tebal masalah yang tiada henti menimpa mu.

Aku mau bagikan isi kepala si Kaspolan untuk mu kawan. Tak ada jaminan ini bakal bikin cara pandang hidupmu makin terang. Soal terang atau gelap itu semua prerogative mu, dan terserah semau mau kamu.

Tapi coba barang sejenak dengarkan cerita ku sebentar. "Kalau soal yang itu tak usah pusing, santai saja", celetuk Kaspolan. Tuhan adalah sang maha tanggung jawab. Jadi kenapa kita risau bila segala usaha dan doa kita tidak kunjung membuahkan hasil.

Justru pada saat saat titik nadir itu rumus tuhan malah berlaku sebaliknya. Tetap lah berharap dan tetap lah meminta pertolongan pada Nya. Kisah Kaspolan Ini ya ngikut ngikut saja aslinya kan ini nasib hidupnya nabi Zakaria. Yang oleh Allah dijadikan renta tapi tak kunjung punya generasi penerus dakwahnya.

Kalau kamu lagi nganggur, tidak banyak masalah atau beban pikiran seperti mikir hutang, mari tadabbur dari hidup nya Nabi Zakaria. Sebenarnya juga saya belum paham mengapa nabi Zakaria dinamakan demikian. mirip dengan kata zakar yang berarti laki-laki. Mungkin lewat nama itu lah Allah menjamin bahwa nabi Zakaria adalah seorang laki-laki sejati yang sanggup memiliki keturunan. Yah, meskipun penantian nya sangat lama.

Ada dari kita yang satu dua tahun istri tidak kunjung hamil menjadi stres, resah, gugup dan cemas. Bahkan ada yang sampai kecewa dengan skenario Allah. Mungkin kalau nabi Zakaria masih hidup di tengah lara mu itu dia mungkin bilang, "ah masih nunggu segitu lama nya saja kamu sudah kecewa sama Rabbmu". Bayangkan nabi Zakaria yang menunggu dari awal pernikahan sampai umur 90 tahun baru dikaruniai putra yaitu nabi Yahya.

Dalam penantian panjang nya itu nabi Zakaria menegaskan sikap hidup nya. Total penuh harap 100 persen hanya untuk Allah. Total 100 persen khusnudhon pada Nya. Apa yang dikatakannya, wahai Tuhan ku ketahuilah aku tidak pernah sekalipun kecewa dalam berdoa kepada Mu. Ucapan nabi Zakaria adalah pegangan hidup bagi Kaspolan.

Memang Kaspolan tidak selevel dengan Zakaria. Kaspolan itu cuma hamba yang angin angin an dalam iman. Kadang percaya kadang juga khawatir plus cemas. Tapi yang dilakukan Kaspolan adalah berusaha untuk selalu percaya meskipun sedang pol pol nya merasa cemas.

Maka atas usaha nya itu, atas doa nya itu, atas sikap totalnya pada Allah, nabi Zakaria menerima karunia yang sangat tidak disangka sangka. Menerima kabar hadiah kehamilan dari istri nya yang sudah renta. Seolah allah mau mematahkan anggapan normal manusia. Kalau mau hamil ya wajarnya pada usia dan masa subur, bukan pada usia kewut.

Pun demikian dengan nasib Kaspolan dan mbak Sangidah istrinya. Saat kondisi penuh tekanan, penuh stres, fisik capek, jarang bertemu tiap hari, jarang ada kesempatan bercampur. Allah malah memberikan kado istimewa untuk mereka berdua. Sambil mungkin allah ingin berpesan dengan penuh mesra lewat firman nya.

"Demikianlah". Tuhan berfirman: "Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesunguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali".

Gresik, 19 Juni 2017

Makin belajar akan kehidupan, kaspolan makin bingung. Susah sekali mengenali mana rahmat, peringatan atau adzab tuhan. Kaspolan merasa kesul...

Makin belajar akan kehidupan, kaspolan makin bingung. Susah sekali mengenali mana rahmat, peringatan atau adzab tuhan. Kaspolan merasa kesulitan minta ampun membedakan tiga termin tersebut untuk kondisi yang sedang kaspolan alami.

Tahun lalu kaspolan berdagang dengan lancar lancar saja. Selalu mulus tanpa kekhawatiran. Tiap dia punya hajat tuhan selalu mengirimkan pembeli. Sehingga selalu ada saja rejeki yang terkumpul. Lebih dari cukup. Dicukup-cukupkan biar ada lebih.

Tapi tahun ini kaspolan merasa berdagang kok seret banget. Susah sekali mendapatkan pembeli.

Ada rumus wajar kehidupan dunia di sekitar kaspolan. Rahmat Allah hanya dipahami linear sebagai yang nikmat-nukmt saja. Tidak pernah ada yang bilang bahwa rezeki seret, pikiran sumpek karena tidak ada pemasukan itu sebuah rezeki tersendiri.

Begitulah rumus hidup kaspolan. Kesulitan, kesusahan hidup, silang sengkarut hari demi hari dia rumuskan sebagai rezeki dari tuhan nya yang maha kaya maha penuh rahmat.

Maka kaspolan bukannya kok malah sedih atau pun suram memikirkan hari esok. Kaspolan malah berkacak pinggang sambil mendongak ke atas langit. Kaspolan berteriak menyeru pada tuhannya.

"Ya allah aku bersyukur apa yang aku jalani sekarang, kemelaratan, rasa hampir putus asa, kesusahan mencari nafkah, kegagalan berkali-kali dalam berdagang. Apapun itu justru itulah yang membuat aku makin mesra dengan Mu. Menyebut nama Mu tiap detik wirid ku pada Mu. Inilah rahmat mu, inilah karunia Mu, inilah rezeki Mu yang bikin Kamu makin sayang sama saya"

Mungkin saja, manusia kini menyembah suatu jenis berhala versi paling anyar. Berhala materialisme. Hubbud dunya. Mengesampingkan atau bahkan...

Mungkin saja, manusia kini menyembah suatu jenis berhala versi paling anyar. Berhala materialisme. Hubbud dunya. Mengesampingkan atau bahkan tidak percaya tuhan. Lebih percaya pada faktor lain selain Dia. Dan parahnya faktor yang mereka lebih percayai adalah cuma seonggok materi.

Noor dari tadi membual seenak udel nya. "kami ini tidak menyalahkan mereka mereka itu. Lha wong mereka sendiri tidak punya kesadaran akan kondisi alam pikir nya"

Kaspolan yang daritadi di sebelah si noor, masih meraba raba arah dhawuh nya.

"Memang kondisi alam pikir mereka itu yang bagaimana"

"Gimana ya, masak kambing kamu tanya lan. Mana bisa jawab kambing kalau kamu tanya belok ke kanan atau ke kiri?"

"kesadaran hidup kambing kan ya cuma eat, sleep, shit, sex. Kalau kamu tanya mana kanan mana kiri. Mana cahaya mana kegelapan. Mana kepalsuan mana kesejatian, ya mboten ngertos mereka noor"

"nah itu kan cuma ibarat saja. Analogi saja. Lha wong yang sebenarnya saya analogi kan kan si manusia penyembah berhala nya. Bukan kambing nya"

"maksud kamu kali ini mau nyinyir soal apa lagi?"

"gini lo lan, kok kayak nya manusia modern sekarang itu lebih percaya pada materi daripada peran dan otoritas tuhan"

Kaspolan merengut... Berlagak seolah mengerti omongan si noor.

Di luar sana banyak manusia manusia yang tidak sadar, berhala materialisme sudah menjangkiti pikiran nya. Hati nya sudah nyantol pada dunia sehingga mereka tidak percaya lagi sama kasih sayang da kehendak tuhan.

Misalnya, bila berjumpa dengan orang miskin, hati sebagian besar dari kita pasti bilang. Bagaimana dia itu, tak punya banyak uang, bagaimana kalau suatu hari nanti sakit.

Kok kayak nya pikiran kita ini. Alam bawah sadar kita ini sudah teracuni. Kita jadi punya logika klise, biar hidup aman dari sakit kita harus punya uang banyak. Padahal uang banyak tidak jadi jaminan sakit datang menghampiri. Kita lebih percaya uang banyak daripada peran tuhan yang bila Dia mau, akan sangat mudah memelihara kita dari sakit meskipun keadaan kita jauh dari berlimpah materi dan teori ideal tentang gizi.

Lanjut lagi, kalau anda mau beli mobil pasti dapat saran dari sekitar anda yang lebih tahu, kalau mobil merk ini tidak bagus rawan kecelakaan. Sementara mobil lain yang lebih bagus dinilai lebih aman dari kecelakaan. Pikiran anda teracuni lagi oleh takhayul yang dibuat oleh industri.

Seolah-olah untuk bebas dan aman dari celaka kita percayakan sepenuhnya pada mobil yang lebih bagus. Yang memiliki fitur keamanan yang lebih mumpuni. Lalu dimanakah letak tuhan dalam peristiwa tersebut? Tuhan sama sekali tidak dilibatkan. Tuhan jangan ikut ikutan masalah kami. Kami sudah sangat percaya pada berhala teranyar kami. Fungsi tuhan sudah tidak terasa dan teraba lagi oleh kami.

Padahal sejatinya, tuhan sangat sangat tersinggung ketika Nabi Musa memakan daun obat untuk menyembuhkan rasa mulasnya ketika dikejar bala tentara firaun. Musa memakan daun obat dengan keyakinan pasti sembuh Tanpa kesadaran di dalam akal nya bahwa hanya tuhan Yang Maha menyembuhkan. Akibatnya, sampai berkali kali Musa memakan berlembar lembar daun, beliau tak kunjung sembuh.

Tidak ada dalam kesadaran berpikir manusia modern untuk senantiasa melibatkan tuhan.

Padahal, tidak ada jalan keluar kecuali dari Nya.
Tidak ada kesembuhan kecuali dari Nya.
Tidak ada keselamatan di depan kami kecuali atas pertolongan Nya.
Bukan dari benda yang kita malah merendahkan diri sujud padanya.

Kita patut bersyukur tuhan yang sangat kita cinta, Allah SWT melimpahkan rahmat yang begitu besar pada umat islam di negeri ini. Rahmat itu ...

Kita patut bersyukur tuhan yang sangat kita cinta, Allah SWT melimpahkan rahmat yang begitu besar pada umat islam di negeri ini. Rahmat itu salah satunya adalah semangat berislam yang sungguh besar. Sehingga peribadatan umat menjadi kian semarak.

Di tv acara siraman rohani ada tiap pagi, petang dan malam. Malah ada stasiun tv khusus program religi. Orang berangkat umroh di bandara ada tiap minggu. Disana sini penuh agenda pengajian, majelis dzikir majelis ilmu, majelis sholawat ramai digelar.

Meski besar semangat beragama tapi kalau tanpa diimbangi dengan sikap seimbang dan saling toleransi terhadap perbedaan beribadah maka muncul semacam turbulensi. Sifat Ahmaq pun hinggap. Menjadikan umat tipe yang kaku, ingin benar sendiri dan menyalahkan yang berbeda. Cara berpikir menjadi sangat meleset. Muncul fenomena umat yang menjadikan Mahdzab sebagai agama.

Padahal, sudah jelas Gusti Allah sudah menekankan ibadah manusia hanya pada level semoga diterima. Mung mugo-mugo, artinya hanya sebatas Mudah-mudahan. Bisa diterima atau mungkin ditolak.

Jadi tidak manusia bisa memastikan apa yang dia lakukan diridhoi oleh allah atau tidak. Karena diterima atau tidak itu merupakan hak prerogatifnya Allah.

Ya coba deh kita membayangkan agak nakal sedikit. (sedikit kan ndak apa apa asal ndak keterlaluan toh).
Susah jadinya kalau misalkan saja tuhan memberikan legitimasi penuh pada manusia untuk menilai suatu kebenaran. Karena toh manusia memang cenderung diciptakan berbeda beda. Wajaalahu suuban wa qobail.

Kalau memang jadinya kayak gitu, Takut nya kebenaran tercipta sangat beragam dan parahnya antar versi saling perang klaim. Lebih parah kalau klaim kebenaran manut oleh nabi nabi politik dan gempita isu pilkada

Kita ambil contoh, ada mayyit nenek yang kebetulan namanya hindun tidak disholatkan

Al Quran Surah Al Israa:79

”Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang Terpuji.”

Pernah Abu Bakar berselisih dgn Umar masalah shalat tahajud itu musti tidur dulu atau tidak. Keduanya kemudian menghadap kepada Rasulullah dan menceritakan masalahnya, yaitu bahwa Abu Bakar suka bertahajud tanpa tidur dulu, sedangkan Umar tidur dulu. Rasulullah hanya menjelaskan bahwa Abu Bakar adalah orang yg hati2 (karena gak pengen tahajudnya terlewat), sedangkan Umar yg tidur dulu itu adalah orang yg kuat.

Kalau sekiranya Kanjeng Nabi tidak memegang prinsip bahwa ibadah itu hanya sebatas semoga. Mungkin adegan tersebut tidak akan terjadi. Bahkan malah jadi adegan yang menyulut perpecahan.

Kanjeng Nabi punya posisi spesial dari allah. Namun tidak berani menilai ibadah umatnya. Tidak berani mengklaim kebenaran. Sebab diterima atau tidak suatu amalan. Hanya tuhan saja yang tahu.

Nah kalau Kanjeng Nabi sang manusia paripurna yang sudah dijamin surga oleh gusti Allah saja bermahdzab the power of mugomugo, lalu level kamu itu apa, pangkat kamu itu seberapa, posisi mu di mata allah itu yang bagaimana? Kok merasa paling baik? Kok merasa paling diterima ibadahnya?

Kontemplasi dalam diri kaspolan terus berlanjut. Dan saat ini mengalir pada pencarian kejernihan arti miskin. Di dunia modern yang kaspolan ...

Kontemplasi dalam diri kaspolan terus berlanjut. Dan saat ini mengalir pada pencarian kejernihan arti miskin. Di dunia modern yang kaspolan tinggal di dalamnya, miskin sangat karib dengan kesengsaraan. Tidak memiliki harta benda yang layak untuk kehidupan.

"Namun, apa sebenarnya miskin itu?",  Tanya kaspolan pada hati kecil nya. Yang Kecil karena tak pernah diasah.

Pertama ada dimensi miskin dimana ada orang berharta dan kaya. Untuk ukuran hidup orang normal di sekitarnya sudah lebih dari cukup. Namun hati dan perasaannya selalu merasa kurang. Punya apa saja malah tidak bikin hati ayem dan syukur. Tapi malah merasa ingin tambah lagi. Sampai pada level menumpuk dunia. Cinta berlebih pada dunia. Namun dunia yang dia tumpuk tetap saja tidak menawarkan kebahagiaan dan sikap merasa diri sudah kaya.

Lanjut di dimensi kedua, ada miskin yang nasib terburuk. Yaitu orang miskin yang merasa hina karena tidak bisa mencapai apa yang dicapai oleh orang normal di sekitarnya. Terlebih definisi pencapaian orang normal adalah sesuai dengan yang di set up oleh ideologi kapitalisme dan takhayul kemapanan setting an para industri besar.

Misalkan ada tetangga sudah bisa beli mobil lantas si miskin ini merasa iri dan sedih karena seumur hidup menyadari kenyataan dia takkan bisa membeli mobil. Gimana mau beli. Ngidupin istri saja setengah mati.

Dimensi miskin beginilah yang sungguh sungguh hina. Sudah miskin ditambah ratapan kesedihan. Kalau miskin ya miskin saja sudah. Tak usah pakai sedih. Itu namanya ndobeli penderitaan saja.

Memang nya, posisi miskin dan kaya itu yang bagaimana sih yang menurut gusti Allah? Apa menjadi kaya itu sudah berarti prestasi besar dalam hidup? Apa orang kaya tanda bahwa dia dicintai karena doa minta kayanya dikabulkan oleh allah? Lalu apa orang miskin di mata allah tidak disayang karena indikator nya dia minta kaya tapi ndak juga dikabul-kabulkan?

Tapi kalau ikut apa kata Qur'an. Kaya Miskin itu bulatan kecil yang tidak berarti bagi Nya. Ilmu allah sangat luas. Dia menyukai bulatan besar dimana kualitas takwa hamba Nya lah yang menjadi prioritas penilaian. Tidak peduli kaya atau miskin asalkan hamba tersebut lebih dekat sama Allah.

Terlebih, allah juga lebih menyayangi hamba nya yang teraniaya dan yang sabar. Jadi lebih banyak mana porsi sabar orang kaya dengan orang miskin di kehidupan sehari - hari?

Nasib hidup kaspolan memang buruk. Tapi ya tak buruk buruk amat. Bisa sangat buruk kalau dilihat dari kacamata pandang materi. Tapi bisa jad...

Nasib hidup kaspolan memang buruk. Tapi ya tak buruk buruk amat. Bisa sangat buruk kalau dilihat dari kacamata pandang materi. Tapi bisa jadi sangat lumayan kalau kacamata pandang nya memakai alternatif yang lain.

Kaspolan sangatlah tidak kaya. Tidak sukses. Jual barang apa aja, bisnis apa aja selalu gagal. Kaspolan itu memang cuma gelandangan. Tapi dia suka Berkontempelasi merumuskan apa yang paling inti. Paling sejati.

Apa saja yang terjadi kaspolan selalu belajar dari beragam gejala di sekitarnya. "Sebetulnya kaya yang sejati itu yang kayak bagaimana yo?" kaspolan bergumam sendiri.

Gejala pertama, ada seorang kaya yang punya harta berlimpah ruah. Rumah megah, mobil mewah, pangkat istimewa. Bahkan seringkali tiap item itu punya lebih dari satu. namun, apa yang dia miliki itu tetap terasa kurang.

Gejala kedua ada tipe orang kaya yang dia anggap dirinya sukses, berhasil, omset melimpah ruah. tapi begitu saudara butuh bantuan si kaya ini mendadak punya kecerdasan hitungan yang rumit dan detail . hitungan nya itu Tentang laba atau rugi. Kredit macet atau lancar.

Sungguh menyedihkan. Definisi kaya yang sejati bagi kaspolan ternyata di luar konsep kepemilikan.

Menurutnya, ada gejala pertama yaitu letak kaya yang posisi nya di hati. Yang meskipun harta pas-pasan tapi tak pernah merasa kekurangan. Selalu bersyukur dan tafakur di setiap kondisi. Apa yang sekarang dipunya dirasa sudah melebihi dari yang dibutuhkan.

Gejala kedua, orang kaya ekstremis. orang kaya yang di luar dugaan. Orang yang tidak mampu tapi bersedekah lebih banyak dibanding orang mampu. Kira kira lebih baik mana, lebih mulia mana, si A mengeluarkan 90 ribu dari uang 100 ribu nya. Atau si B yang mengeluarkan 100 ribu dari uang 1 juta nya?

Meski si A adalah contoh sikap yang diamalkan oleh Kanjeng Nabi Muhammad. Ternyata konsep itu cuma jadi gurauan dan takhayul pesimistik di dunia yang didiami kaspolan.

Kanjeng Nabi bersedia memberikan apa yang sebenarnya dia butuhkan. Begitu dermawannya sampai beliau mengajarkan kepada kita Apa yang kalian keluarkan, adalah yang sebenarnya menjadi milik kalian

Kaspolan ittiba betul pada contoh sikap yang luar biasa itu. Dia manut suri tauladannya. Kanjeng Nabinya. Kekasih hatinya. Dunia kecil bagi kaspolan. Ya meskipun memble juga. Tapi kalau dengan begitu allah tidak marah dan jadi lebih sayang, apapun nasib hidup di dunia yang cuma sebentar ini kaspolan blas gak patheken.

Kaspolan hidup di dunia yang orang selalu mengutarakan kalimat-kalimat berikut ini: "si a itu kaya kah?" "si b itu pintar k...

Kaspolan hidup di dunia yang orang selalu mengutarakan kalimat-kalimat berikut ini:

"si a itu kaya kah?"

"si b itu pintar kah?"

"si c itu turunan orang berada kah?"

"wow si d gaji nya besar yah"

"si e enak banget, mobil nya mewah rumahnya besar"

Begitulah kaspolan hidup di tengah tengah dunia yang menghimpitnya. Dia sama sekali tak setuju pada gelombang pola pikir yang membuat manusia sampai sengaja mengeluarkan kalimat seperti itu.
Apalagi bila ada manusia yang mengucap kalimat sejenis itu dengan serius. Kaspolan menganggapnya adalah manusia yang gagal menjadi manusia.

"kok gagal cak, bukannya kamu sendiri itu malah orang yang gagal?"

Dalam benak sempit kaspolan. Banyak alasan yang mendasari opininya. Pertama, kalau dirunut asalnya manusia itu adalah makhluk rohani. Sebaik-baik makhluk ciptaan gusti Allah taala. Segala unsur alam semesta ada padanya. makhluk lain seperti batu, pohon, binatang, apa yang mereka tidak punya ada pada manusia . pun juga makhluk di dimensi lain seperti jin, dan malaikat tidak bisa menyaingi manusia. Unsur kimia, nafsu, insting. Inteligensia, manusia punya itu secara lengkap. Sementara makhluk selain manusia, mereka punyanya itu secara parsial.

Sehingga makluk lain punya derajat yang lebih rendah dibanding manusia di mata tuhan. Lah kalau ada manusia yang malah mengagungkan mahluk lain, katakan makhluk lain itu bisa kita sebut uang, mobil, jabatan, dan segala kemewahan dan keunggulan duniawi lainnya. Itu malah menjatuhkan martabat kemanusiaannya. Manusia gagal menjadi manusia karena hilang atau tidak mengerti derajatnya sebagai manusia di hadapan tuhan.

Kedua, manusia yang secara serius mengatakan kalimat-kalimat di awal tadi, bahkan hingga sampai mbatin adalah manusia yang rugi karena menyusahkan dirinya sendiri. Mereka dengan sengaja membuat dirinya sedih. Sebab, rezeki dari allah itu berbeda-beda antar satu dengan yang lain nya. Ada yang dilebihkan atau yang memang diberinya sedikit. Dan gusti Allah sudah berpesan kalau melihat yang lebih enak lebih banyak janganlah iri atau bahkan ke tingkat yang lebih parah merasa rendah diri karena tidak berhasil mencapainya.

Karenanya, manusia jangan membuat dirinya sendiri bersedih. Karena manusia harus punya laku hidup yang kuat bahwa apa yang sudah terjadi apa yang sudah diberi oleh Gusti Allah adalah apa yang terbaik bagi manusia.

Kalau misal pendapatan jualan bulan ini mentok cuma 750 ribu. Ya 750 ribu itu yang paling baik. Yang paling berkah paling bermanfaat. Itu pemberian tuhan langsung kepadamu. Jadi ya terima saja. Syukuri saja. Kalau kamu bersyukur tuhan pasti bukakan jalan kamu untuk Menikmati dan hepi.

Namun mayoritas mainstream manusia di dunia kaspolan malah suka lirik kanan lirik kiri. Sawang sinawang. Suka punya konsep kebahagiaan yang absurd. Egois. Dan melenceng dari rel tuhan. Kalau dapatnya cuma 750 ribu, malah berkonsep satu juta lah yang membahagiakan. Kalau dapat satu juta, dua juta yang paling membahagiakan.

Konsep bahagia bikinan sendiri itulah yang bikin manusia di dunia kaspolan rugi sendiri. Akibatnya mereka suka cemburu, stres dan tidak pandai sekali bersyukur pada tuhan. Padahal jelas rumus hidup ini yang rohaniah adalah rodiyatan mardiyah. Sibuk Ridho sama gusti Allah!!

Intinya kaspolan tidak berharta, tidak punya kebanggaan duniawi yang sama sekali patut untuk dibanggakan.

"enak saja kamu, gini-gini saya masih punya perhiasan. Mutiara indah. meskipun cuma satu, cahayanya kalau berkilau selalu bikin bahagia, bikin aku orang paling kaya, " bantah kaspolan.

"lah dimana kamu menyimpan nya cak?"

"tidak aku simpan. Mutiara yang kubanggakan itu justru si pemakai cincin mutiara"

Kalau si Noor baru saja mengeluh soal cara pandang materialistik kehidupan manusia sekarang, kaspolan malah sudah lebih duluan. Sejak umur b...

Kalau si Noor baru saja mengeluh soal cara pandang materialistik kehidupan manusia sekarang, kaspolan malah sudah lebih duluan. Sejak umur belasan kaspolan sudah sambat. Jadi lihat saja cak kaspolan sekarang. Santai dan penuh permakluman akan kondisi jaman.

Jika suatu hari ada penghargaan orang paling gagal di keluarga, mungkin yang paling pantas menerimanya adalah cak kaspolan. Lihat saja bagaimana keluarganya menilai individu cak kaspolan.

Pernah suatu hari saat seleksi masuk sma. Cak kaspolan tidak berhasil masuk sma favorit di desa nya. Malah masuk ke sma yang punya label buruk pada waktu itu. Terkenal dengan minim prestasi akademik maupun non akademik, serta maximal dalam laga tanding kontak fisik. Tawuran! Padahal meski cak kaspolan bergaul dengan siswa yang demikian tidak pernah kaspolan muda sampai terpengaruh dan terbawa arus.

Sekeluarga cak kaspolan begitu benci kegagalannya. Hingga kabar itu disiarkan orang tua nya pada sanak familinya. Ya kaspolan bodoh dan gagal. Tidak sukses, Karena tidak bisa masuk sma favorit. Hati cak kaspolan begitu remuk. Orang tua mereka sama sekali tidak memaklumi bila anaknya dikejar anjing sewaktu jalan kaki menuju tempat tes seleksi. Karena itu plus terlambat Buyar sudah konsentrasi cak kaspolan.

Lanjut ke seleksi perguruan tinggi negeri. Apa jurusan yang berhasil diraih cak kaspolan di tes ptn pun sungguh tak punya nilai kebanggaan bagi banyak orang. Jurusan ilmu informasi dan perpustakaan. Jurusan apa itu? Mau jaga buku? Ga terjamin secara finansial?ga keren. Ga bonafide. Hati si Maba kaspolan remuk lagi. Meskipun tidak seremuk yang pertama.

Menjelang lulus kuliah, kaspolan menemukan kebahagiaan dirinya akan satu bidang pekerjaan. Jurnalistik. Menyelami pekerjaan sebagai jurnalis kampus lanjut bekerja sebagai jurnalis di salah satu media cetak terbesar di negeri nya dia jalani dengan hati sungguh riang. Kaspolan yang polos bangga sebagai insan yang menyampaikan fakta, menomorsatukan kejujuran dan pembela rakyat lemah orang bawah,orang pinggiran. Begitulah sangkaan positif kaspolan.

Namun, keluarga nya sama sekali negatif menilai kerja kaspolan. Orang tua nya tidak mendukung sama sekali pekerjaan kaspolan. Mereka merasa pekerjaan itu ya kalau kamu berseragam rapi, masuk kantor dan pulangnya teratur. Sedangkan kerja kaspolan 180 derajat dari pakem itu.

Keluhan orang tua kepadanya ditambah kejadian yang membuat kaspolan kecewa berat dengan cara kerja media mainstream. Pandangan baik kaspolan sebelumnya akan media yang membela orang terdzolimi, media yang mencerahkan, media yang memerangi kedzoliman, semua itu Buyar. Terganti satu idiom di otak kaspolan yang kecewa. Media itu sama kayak orang dagang. Kaspolan yang kecewa pun keluar. tanpa pikir panjang tau tau keluar begitu saja dari bidang jurnalistik media mainstream.

Kini kaspolan berwirausaha. Penghasilan nya tak menentu. Itu yang bikin cak kaspolan disebut tidak kaya, walaupun begitu juga tidak miskin. Meskipun ada satu waktu dimana tuhan sangat pemurah padanya. Penghasilannya cukup untuk sedikit modal dia menikah. juga bisa untuk menghidupi istrinya.

Tapi orang tua kaspolan lagi-lagi tak mendukung. Meski punya usaha mereka menganggap cak kaspolan itu orang limbung orang nganggur. Kayak orang ga kerja. Maka aib itu selalu dia ceritakan pada siapa saja. Sesuka hatinya. Tidak peduli itu keluarga dekat keluarga jauh atau orang baru kenal di jalan.

Hore!!! cak kaspolan remuk lagi batin nya. Cak kaspolan riang dalam kesedihan. Gembira dalam kondisi jatuh mental. Bahagia dalam caci maki. Remukan demi Remukan itu coba dirangkai jadi bangunan yang utuh lagi oleh kaspolan. Bangunan di Hatinya semakin jernih namun sekaligus diiringi rasa terasing.

Jernih karena dia sadar selama hidup, lingkungannya ternyata bertuhankan berhala materi. Dalam artian mereka semua tidak bisa melihat kecuali benda. Mereka Terdidik untuk melihat materi. Karena itu dunia yang materi ini sangatlah punya porsi besar bagi mereka dibandingkan nilai rohani.

Cak kaspolan tahu satu gejala mereka yang sama. Mereka Tidak menomorsatukan allah. jadi pertimbangan mereka adalah rasa Eman terhadap benda, gengsi sosial dan takhayul kemapanan. Cak kaspolan kini sudah faham, sudah memaklumi mereka yang menilai segalanya hanya dari indikator materialistik.

Bak pedang bermata dua. kejernihan itu juga membuat kaspolan hidupnya sengsara. Sangat terasing. Di luar sana orang berteriak padanya.

"Lan kaspolan kamu kok gagal banget jadi orang?"

Meski begitu, kaspolan tetap berjuang. Dan juga tetap bahagia. Selain dua sahabat sejatinya yang menemani. Ada seseorang yang dia anggap guru. Dia anggap keris dalam sanubarinya yang masih hidup di dunia hingga sekarang. . Dia tokoh nasional. Dia budayawan. Dia tidak gila jabatan dan bendawi. Dia berprinsip hidup mengakhiratkan dunia.

Dia menepuk pundak kaspolan dari belakang seraya berkata.

"jangan sedih. Yang pantas kita sedihkan adalah kalau gusti Allah marah sama kita. Kalau orep ndek dunyo iki apa pun nasibmu ora pantes Garai kowe sedih"

Meskipun adegan itu hanya rekaan kaspolan sendiri

Noor mengeluh dan terus mengeluh lagi. Kali ini soal apa bukan soal siapa. Karena siapa pun di periode ini punya otak dan cara berpikir yang...

Noor mengeluh dan terus mengeluh lagi. Kali ini soal apa bukan soal siapa. Karena siapa pun di periode ini punya otak dan cara berpikir yang sama.

"heh, kaspolan. Kamu pokok nya jangan sampe lo ya ikut ikutan mereka"

"apa nya yang diikuti? Kok sok mengatur kamu," balas kaspolan.

"lihat mereka itu, di otak nya cuma materi, materi dan materi saja. Jengah aku dengan cara pandang serumpun mereka pada hidup singkat di dunia ini"

"haha pake ngomong Jengah segala kamu Noor. Saya sudah paham. Omongan mu itu tidak pernah dihitung atau diterima. Jadi pasti mentok mentok nya kamu ke saya ini. Yang juga sama sama terpinggirkan"

"coba itu Sampeyan lihat cak, Mereka melihat nya hanya uang, bati, angka, pahala yang mereka anggap profit bisnis"

"sebentar to. Jangan antipati dulu pada materi. Kalau tidak ada itu semua kita ga bisa hidup. Materi itu mau tidak mau memang kita butuhkan"

"bukan aku menjelekkan itu semua cak. Aku hanya Jengah pada sikap hidup mereka. Mereka punya gejala minus yang sama. Yaitu cara berpikir, merumuskan sesuatu, menentukan pilihan, dsb. Semua itu karena pertimbangan materi semata. Tidak ada tempat untuk tuhan atau Kanjeng Nabi di hati mereka. Dua faktor yang sangat berhak untuk menjadi harga mati bagi mereka, sama sekali tidak mereka libatkan. Terbesit saja tidak pernah"

"contoh nya apa toh kok kamu berani betul menyimpulkan begitu"

"kita cak, sudah terjebak di labirin milik berhala. Pertimbangan tiap detik hidup kita ini, hanya berputar pada Eman dunyo. Hanya berkutat pada untung atau rugi, " tegas si Noor.

" Hmm lebih konkret nya gimana?"

"gini lo cak. Kita melihat korupsi hanya fokus pada berapa angka kekayaan negara yang dicuri. Kita memilih pekerjaan hanya melihat berapa gajinya, besar atau tidak. Kita milih mantu cak, lihat dia sukses atau tidak.

Disuruh meneruskan bisnis karena yang nyuruh punya pertimbangan kalau tidak diteruskan sungguh sayang akan banyak kerugian. Rugi tenaga, rugi waktu karena sudah berlangsung hingga kini, rugi materi karena tidak ada pemasukan. Kalau ga diteruskan gimana kamu mau hidup?

Kenapa kok tuhan, Kanjeng Nabi tidak dilibatkan sama sekali cak?atau paling tidak mereka punya dasar cara berpikir yang memilih soal kebaikan nilai"

"owalah Noor, kamu kok kasep! Dari dulu aku sudah mengeluhkan soal itu. Semakin aku mengeluh begitu semakin aku dianggap orang aneh"

Kaspolan lalu menambahkan

"Noor, Noor! Kok pake mengeluh segala, sebelum kamu mengeluh, mereka itu sudah anggap kamu itu orang aneh. Haha ha"

tawa kaspolan meledak di tengah kesunyian. Kesunyian dua hati insan yang ditolak oleh cara pandang kekikinian akan kehidupan.

Padahal dua orang itu,  bergerak keluar labirin. Sedang mereka semua, yang mencampakkan mereka, malah bergerak ke tengah dan makin ke tengah labirin.

-Wallahualambisshowab-

"Menyedihkan.. Sungguh menyedihkan" Ada suara lewat begitu saja di depan posisi duduk Kaspolan. Buyar sudah lamunannya saat menun...

"Menyedihkan.. Sungguh menyedihkan"

Ada suara lewat begitu saja di depan posisi duduk Kaspolan. Buyar sudah lamunannya saat menunduk termenung. Rupanya si Noor langsung saja nyelonong. Lagi lagi Tanpa adab yang biasanya orang timur lakukan saat mendatangi seseorang.

"ah kamu ini, datang ndak Pake kula nuwun"

"loh, memangnya kita ini baru kenal. Atau kita ini kenal tapi tidak karib? Kok pake kula nuwun segala. Yang namanya kalau hati sudah dekat, etika jadi nggak penting",  si Noor menyanggah.

"ya sudah lah," balas kaspolan ringan. Tahu betul dia kalau berdebat dengan si Noor bakal jadi gimana. "apa maksud kalimat pengganti kula nuwun mu tadi"

" oh yang soal menyedihkan itu?"

"ya. Ya. Apa? Seberapa penting hingga bisa menggantikan posisi permisi"

"gimana nggak menyedihkan lan, aku ini kok sering banget disambati. ya oleh anak, pria paro baya, lelaki dewasa, menantu, pekerja yang katanya kelas rendah, pedagang kaki lima. Semua yang saya tampung itu kop jiwa nya merasa terasing"

"terasing soal apa? Paling - paling itu hanya kekhawatiran kecengengan jiwa mereka saja", timpal kaspolan.

"saya kok merasa mereka itu kompak. Ada satu penggalan rasa yang sama diantara mereka"

Mereka terasing di lingkungan yang mereka diami selama ini. Mereka dituntut oleh cara pandang materialisme orang-orang di sekitar mereka. Mereka dinilai harus berprestasi yang tolak ukur prestasi itu adalah benda ragawi semata. Atau apa saja yang bisa diukur dengan panca indra yang fana.

Kalau mereka anak sekolahan, mereka dinilai dari nilai mata pelajaran mereka atau bahkan sekedar remeh gengsi dimana mereka bersekolah. Unggulan apa bukan. Favorit atau tidak.

Kalau mereka pegawai, Noor terus saja ngowos, mereka sambat karena mungkin orang tua mereka, mertua mereka, selalu kecewa dengan prestasi kerja mereka. Karena yang namanya prestasi itu adalah seberapa besar gaji mereka.

Dan itu berlaku pada mereka yang setipe. Kalau mereka baru merintis usaha mereka tidak pernah dinilai dari kesungguhan kerja mereka, baik buruk pelayanan mereka pada pelanggan. Bahagia atau tidak jiwa mereka selama berbisnis. Yang orang di lingkaran mereka anggap adalah seberapa besar omzet mereka. Sudah Bisa beli apa, mobil bagus lah. Rumah megah kah?

"Rupanya itu juga berlaku lebih parah, umat Islam kini kok banyak yang punya gejala semakin menyembah berhala"

"mana ada umat islam sekarang menyembah berhala itu. Wong sekarang umat sudah makin alim saja. Hijab sudah sembilan puluh persen. Orang umroh tiap minggu paling tidak sudah satu pesawat"

"kok jauh jauh. Aku Contohkan kamu saja. Cak lan, kamu itu rajin sholat. Bahkan sholat mu selalu kamu usahakan tepat waktu. Tapi kamu bikin sholat mu itu jadi berhala mu. Tujuan mu adalah sholat. Padahal sholat itu hanyalah sarana hanya alat untuk dekat sama Sang Moho Agung. Karena pola pikir sesat mu itu kamu merasa dirimu suci. Merasa lebih baik dari orang yang tidak sholat. Bahkan kamu tinggi hati kalau ada manusia di luar sana yang tidak sholat tepat waktu seperti kamu"

Kaspolan terhenyak usai perkataan si Noor barusan. Setengah tergoncang batinnya mulut nya mulai menyulut suara. "lantas apa yang kamu katakan pada mereka yang terpinggirkan itu Noor?"

Kamu itu,
Tidak dinilai dari berada atau tidak nya dirimu
Elit atau proletar status mu
Jalan kaki atau naik mobil mewah
Rumah sesek atau istana megah
Penghasilan besar atau rendah
Pakaian sederhana atau yang wah

Kamu itu,
Sejatinya dinilai dari apa tiap saat kamu menomorsatukan Allah di kehidupan mu atau tidak?

"kalau kamu menomorsatukan allah, kamu tak akan sempat terkubur oleh materialisme"

Noor : "lan kok kamu nggak pergi ke Jakarta?" Kaspolan : "wah aku nggak pantes kesana" Noor : "Lapo kok nggak pan...

Noor : "lan kok kamu nggak pergi ke Jakarta?"

Kaspolan : "wah aku nggak pantes kesana"

Noor : "Lapo kok nggak pantes?"

Kaspolan : "lah, kebanyakan mereka yang berangkat pakai kostum Putih-putih e"

Noor : "opo angel e se nggawé klambi putih. Wong tinggal make saja kok repot"

Kaspolan : "Bukan aku nggak pengen ikut aksi bela islam. Tapi karena kostumnya serba putih begitu aku ini jadi agak sungkan, minder kalau mau ikut"

Noor : "lah minder kenapa?"

Kaspolan : "Noor, kamu kan tahu sendiri, aku ini gentho, begundal, berandalan. Jauh dari agama. Berkumpul dengan para orang alim itu rasanya ujian berat buat aku Noor"

"lagian, Sholat ku bolong-bolong. Ngaji Qur'an wes g tau blas. Gitu kok merasa pantas bela Qur'an bela islam"

Noor : "lah mau kamu apa?"

Kaspolan : "ya kalau boleh ajak juga lah kami kami ini. Yang pakaian kami ya pakaian nya gentho. Di pasar, di terminal, di tempat tempat marginal"

Mbak Sangidah rupanya habis ditipu mentah-mentah. Kalau ditipu oleh orang asing sih tidak jadi soal. tidak masalah ditipu sama pihak yang se...

Mbak Sangidah rupanya habis ditipu mentah-mentah. Kalau ditipu oleh orang asing sih tidak jadi soal. tidak masalah ditipu sama pihak yang semua orang sepakat kalau dia jahat. Lha ini, Mbak Sangidah ditipu oleh pihak yang sangat dia percaya. Pihak yang malah kebanyakan orang percaya padanya.

Mayoritas komunitas di negeri ini percaya pihak ini bisa menyembuhkan si sakit. Padahal pihak ini kalau dirunut dari logika kata (rasa-rasanya) kok malah sengaja ingin orang sakit. Bukan kok ingin orang sehat. Makanya pihak itu (anda sebut saja) adalah rumah sakit. Bukan rumah sehat. Rumah yang ingin bikin orang jadi sehat.

"wah kalau ini sudah ga mentah lagi. Ditipunya sudah mateng-mateng," sambat Kaspolan suami Mbak Sangidah pada si Noor

"ditipu kok mateng apa lagi itu?" sergah si Noor

"ya saking kecewa nya, saking perih batinnya saking panas mendidih pikirannya sampai-sampai benda yang mentah bisa jadi mateng kalau di taruh kepala"

"pasti bisa goreng telur tanpa wajan dan kompor" kelakar si Noor

"mbok ya kalau nipu itu nggak usah pakai sorban, baju koko putih dan berkalung Sajadah segala. Orang berbuat jahat kok takut ketahuan. Itu namanya setengah - setengah. Tidak jantan"

"memang nya kenapa Mbak Sangidah cak?"

"kami pergi ke tempat yang orang sebut er es itu untuk berobat. Di awal kami sepakat membayar biaya berobat yang oleh pihak er es menyebut itu satu kali bayar untuk semua tahap pengobatan. Tapi Mbak Sangidah dan aku sendiri kecewa betul ketika pihak er es bilang kalau tiap kali berobat kami harus bayar lagi"

"ah cak paling sampean ini yang salah dengar keterangan di awal" bantah si Noor

"ya memang awalnya begitu Noor. Tapi bagaimana kalau teman-teman mu juga merasakan trik yang sama?" ucap Kaspolan

"sebentar sebentar, itu er es atau rumah saham. Kok kerjaannya cari untung dari yang datang? Sudah begitu caranya pakai nipu pula"

"mau disebut rumah saham ya Monggo. Mau disebut rumah sial ya bisa juga"

"hahaha betul betul. Kamu sial kena tipu cak" Noor sepakat

Bukan kehilangan uang yang membuat sesal, ungkap cak Kaspolan, tapi ada praktik ketidakjujuran yang melanggar term kebaikan. Pada uang yang hilang karena kena tipu, manusia tidak pantas menangisinya. Manusia Tidak pantas menangis karena derajat manusia yang akhsani taqwim lebih tinggi terhadap semua makhluk materi duniawi.

Tapi kalau soal penipuan, dimain-mainkan, dilanggar, itu baru yang patut disayangkan.

Memangnya apa yang patut disayangkan?

"yang patut disayangkan adalah saat tuhan mengetahui bahwa anjurannya tidak dituruti oleh para mafia dan manusia kapitalis. Tidak ada asas anta rodin minkum, suka sama suka diantara dua pihak. Saat satu pihak melanggar pihak lain yang terjadi adalah keterpaksaan karena penindasan. Bukan suka sama suka. Rela sama rela"

"Tapi toh begitu cak, tuhan memang sengaja menghendaki ketidakjujuran, sehingga Dia bisa lebih menyayangi hamba yang ikhlas menerima ketidakjujuran atas dirinya"

Banyak yang ngakunya sudah kaya. Tapi rasa-rasanya kok tidak pantas disebut orang yang sudah kaya. Pola pikir yang lain, yang menyimpang gin...

Banyak yang ngakunya sudah kaya. Tapi rasa-rasanya kok tidak pantas disebut orang yang sudah kaya. Pola pikir yang lain, yang menyimpang gini ini datang dari si Noor. Katanya, dia mengaku tidak percaya kalau ada orang kaya di jaman sekarang ini mengaku kaya.

"kayanya mereka itu bukan bener bener kaya"

Aku yang selalu tertarik pemikiran pemikiran gila si Noor, selalu saja ingin membantahnya. "Mana mungkin tidak disebut kaya Noor, lihat itu wak kasan, kaya banget. Apa apa punya lebih"

"baju punya tiga lemari full, rumah ada lima, besar besar kayak istana, istri juga sudah ada tiga, mobil tiap anggota keluarga punya," terangku penuh data

"hahaha... Orang kaya seperti wak kasan itu bukan orang kaya sesungguhnya"

"lha kok bisa, gimana jalan pikiranmu sih"

"lho namanya orang kaya itu apa apa sudah merasa cukup. Sudah g minta dan butuh apa apa lagi karena semua udah punya. Lha rasa-rasanya lo ya. Wakkasan itu Menurut ku bukan orang kaya. Dia pernah sambat sama saya kalau dia masih merasa masih kurang. Belum punya dapur yang mewah, TV yang lebih lebar, dan soal uang dia pun merasa masih sambat. Belum aja cukup, Masih Kurang saja. Agaknya semua orang kaya di kampung ini pembawaan pola pikir dan sikap hidup nya seperti itu".

"Lha memang siapa orang yang kaya itu sesungguhnya Noor?"

"yang kaya itu dia yang terus menerus bersyukur. Dia yang merasa sudah sangat cukup dengan hartanya. Sehingga harta itu dia kasih kan, dia bagi-bagikan ke orang yang lebih miskin darinya"

"lantas kenapa ya, Wakkasan bisa punya pola pikir seperti itu?"

"mungkin saja, mungkin saja lo ya ini, ibadah Wakkasan dan pasti nya kamu juga koes, adalah ibadah untuk mendapat sesuatu. Ibadah bukan karena cinta kepada yang Maha kaya. Wakkasan beribadah dengan motivasi pencapaian dunia.
Apa saja jenis ritual ibadah nya diangankan untuk laba. Baca Sholawat biar dapat uang jatuh dari langit langsung, Hehe seperti ajaran padepokan yang diikuti Wakkasan"

"ya kalau gitu salahkan Kanjeng Gusti padepokan nya Dong Noor, jangan salahkan wakkasan"

"hehe iya. Kalau soal itu. Si pak Kanjeng juga punya andil dan murid nya juga punya andil. Sang murid merasa sangat cocok pas sekali ketemu guru yang bisa memenuhi kebutuhan pola pikir keduniawiannya. Ibarat orang ngantuk disodori bantal"

Hidup di bumi cuma sebentar. Hanya dihiasi remeh temeh orang baik tidak laku. Orang kaya sungguh dihargai. Padahal yang kaya sejatinya tidak pantas disebut orang kaya.

Omongan-omongan lah cak Kaspolan dan si Noor pada suatu sore di depan beranda. Dua orang itu paling nelangsa di kampung. Tak dipercaya sia...

Omongan-omongan lah cak Kaspolan dan si Noor pada suatu sore di depan beranda. Dua orang itu paling nelangsa di kampung. Tak dipercaya siapa-siapa. Dianggap aneh dan nyeleneh. Cara berpikir nya menabrak kotak-kotak konservatif. Atau sederhananya, sebut sajalah mereka itu duo gila di kampung sukosepi, Kadipaten Giri Gisik.
Kalau orang kebanyakan kenal IQ, EQ, dan SQ. Si Noor dan cak Kaspolan menyepakati ada semacam Q lain. Yaitu suffering quotient (kecerdasan penderitaan). Duh, Apa pula itu.
"anak-anak sekarang mental tempe, cengeng dan sakit-sakitan" Noor setengah memaki.
Tak jelas siapa yang dimaki. (tapi mungkin mereka berdua ini lagi ngerasani si koes) Yang jelas bukan subjek nya, tapi sistem dan prosedur zaman yang sekarang berkembang. Modernisasi dan takhayul berkembang semakin melemahkan si subjek.
"ya betul, macam kucing rumahan saja. Sudah kepenak hidupnya. Makan minum fasilitas terjamin. Semua dapat yang enak-enak. Akibatnya gopok dan gocik. Jiwa raga nya tidak punya Agni. Tidak Punya geni, tidak punya api yang memancar di sorot matanya" timpal cak Kaspolan
"apa apa minta enak"
"pengennya tidak kepanasan"
"pengennya instan"
"pengennya langsung sukses"
"pengennya cepet kaya"
"pengennya kemana mana pake mobil"
"pengennya rumah ber AC"

Di dusun tempat si Noor tinggal, mendadak ada kabar duka. Cak Inul meninggal. Tapi warga sana lantas bingung. Emangnya siapa itu Cak Inul? O...

Di dusun tempat si Noor tinggal, mendadak ada kabar duka. Cak Inul meninggal. Tapi warga sana lantas bingung. Emangnya siapa itu Cak Inul? Orang kampung heran cak Inul itu siapa, nggak pernah dengar namanya kok tau-tau TOA mushola kampung berkoar tentang kabar meninggalnya.

Rupanya cak Inul dan si Noor punya hubungan. mereka berdua bertalian darah. Cak Inul adalah kakak kandung Si Noor. Satu ibu satu ayah. Ayah mereka suka bepergian. Saking sukanya, dia sampai lupa jalan kembali ke rumah. Sementara ibu mereka sudah meninggalkan mereka saat masih kecil. Mati sesudah dipancal kucing yang jatuh dari plafon jebol.

Cak Inul aslinya masih saudara denganku. Pun juga si Noor. Cak Inul hanya orang kecil. Hanya buruh pabrik. Sudah sangat sering diputus kontrak sepihak oleh manajemen pabrik. Tak ambil pusing, cak Inul cari pabrik lain.  Karirnya tidak ada perbaikan. Tidak pernah diangkat jadi karyawan tetap sehingga gaji pun selalu segitu-gitu saja. Hingga umur 40 pun dia belum juga menemukan tambatan hati dan menikah.

Mandiri dan tidak ingin merepotkan orang lain, itulah cak Inul. Segala masalah hidup nya dia tuntaskan sendiri. Dia simpan rapat-rapat agar tidak banyak orang tahu. Bahkan kalau bisa keluarga jangan sampai tahu. Padahal kalau dia mau, dia tinggal menadahkan tangan pada keluarga kami. Mendapat bantuan dengan cara mudah dan instan. Oleh sebab itu Cak Inul tidak pernah sering sering berkumpul dengan keluarga kami. Meskipun masih ada si Noor di keluarga kami. Cak Inul sengaja menjauh dari kami. Mencoba menuntaskan masalah nya seorang diri.

Hingga pada hari hari terakhir menjelang kemangkatannya, bocor kabar bahwa cak Inul masuk rumah sakit. Diopname. Dokter bilang paru-parunya sudah bolong-bolong. Sudah stadium tiga sakit paru-paru. keluarga kami pun geleng-geleng. Kok bisa sakit gawat itu tahunya barusan saja. Kenapa tidak dari dulu saja cerita. Mungkin lain ceritanya.

Tak lama opname, keadaan cak Inul membaik. Dokter membolehkan cak Inul untuk pulang. Keluarga kami akhirnya meminta agar cak Inul tinggal bersama kami. Berkumpul saja jadi satu lagi. Bersama si Noor dalam satu rumah. Tapi takdir siapa sangka, dapat satu hari pulang dari rumah sakit, cak Inul malah dijemput oleh Nya.

Maka keluargaku pun menangis. Aku pun menangis, menyesal tak ku jenguk cak Inul barang sebentar saja. Dan kini dihadapanku cak Inul sudah rebah bersedekap. Tertutup kain batik penutup mayat. Hanya si Noor saja yang tak menangis. Raut mukanya ya seperti normalnya dia. Datar tanpa ekspresi. Bahkan saat masnya itu mati. Mas yang menemani dia mengarungi hidup sebagai sepasang anak yatim di rimba raya dunia.

Keluarga melontarkan komentar komentar soal cak Inul. Kebanyakan ungkapan kesedihan soal nasib hidup cak Inul. Adik nya ditimpa penyakit jiwa, dari kecil selaku susah, jauh dari orang tua, sekarang juga jauh dari kemapanan.

"kasihan kamu nul, enggak pernah enak hidupmu"

"sakno koe le, dari kecil enggak pernah merasakan hidup enak"

Mendadak si Noor bangkit lalu membantah komentar Orang-orang.

"kata siapa mas ku tidak pernah hidup enak?dari dulu hingga sekarang kami ini hidup dalam kondisi yang sangat enak!"

"menurut kalian apa sebenarnya nya enak itu? Enak yang sejati itu apa? Apa kalau hidup enak di dunia itu sama dengan sukses menurut kalian?" lanjut si Noor.

Lalu dia melirik padaku. Melontarkan pendapat miring nya lagi. Seolah kalimatnya itu dia garis bawahi untukku.

"Yang kamu lihat hanya uangnya, sukses karirnya, pangkat jabatannya, kepemilikan hartanya, istri cantik dan anak-anaknya saja. Kalau tidak mencapai itu lantas  dengan dangkal kamu anggap dia tidak sukses, tidak hidup enak?"

Padahal, ungkap si Noor, cak Inul hidup dalam hidup yang sangat enak. Tuhan melalui tali-tali takdir nya menghindarkan cak Inul dari nikmat duniawi yang parameter mainstream sepakati sebagai kesuksesan. Tuhan berlaku demikian supaya cak Inul selalu ingat dan mesra bersama Sang Kekasih Sejati. Andaikan itu suatu cobaan hidup untuknya, cak Inul pun sudah lulus darinya. Yang Tuhan sudah pasti berikan ya itu yang terbaik untuk diri cak inul. Maka jelaslah, dia ikhlas betul menerima ketidakenakan hidup nya di dunia sementara. Bahkan, mengeluh barang sedikit pun tidak dia tampakkan pada orang lain.

Tuhan membayar semua sikap hidup cak Inul itu dengan kasih yang berlipat-lipat. Dijemputnya cak Inul menjelang terbit sang surya. Tanpa rasa sakit. Tanpa rintihan, karena kala itu dirinya sedang tertidur lelap.

Seolah Tuhan ingin bilang ke kita semua lewat kematian cak Inul. Ini lah hambaku yang Aku sayang. Aku jemput dia tanpa dia perlu merasakan sakit sakaratul maut. Sementara kalian mengidentifikasi sakit sendiri saja tidak bisa. Yang cuma bisa kalian identifikasi hanyalah seberapa banyak uang dan materi. Kalian tidak akan bisa mengidentifikasi apakah dia yang Aku panggil mulia atau tidak di sisi Ku.