Tampilkan postingan dengan label Lombok Eksplore. Tampilkan semua postingan

"Hanya dengan Rp 823 ribu anda bisa puas berkeliling Lombok" Siapa bilang berwisata ke Pulau Lombok itu mahal. Tenyata, tidak bu...

"Hanya dengan Rp 823 ribu anda bisa puas berkeliling Lombok"

Siapa bilang berwisata ke Pulau Lombok itu mahal. Tenyata, tidak butuh biaya berjuta rupiah kalau ingin puas menikmati pesona alam Bumi Rinjani yang sedang naik daun sektor pariwisatanya itu. Akhir tahun lalu saya mencoba melakukan backpacking trip kesana dengan bekal uang tidak sampai satu juta. Alhasil, saya masih bisa berkeliling pulau itu mulai dari Barat, Utara, Tengah dan Selatan.

Moda transportasi yang saya pakai dalam trip kali ini sangat beragam. Mulai dari kereta, kapal, bus, bemo, motor, sepeda, mobil hingga pesawat. Lengkap dari darat air dan udara. Berikut review catatan perjalanan saya plus alokasi dana yang diperlukan. Besarnya biaya memang tergantung kebutuhan pengeluaran. Semoga review ini bermanfaat bagi kamu yang ingin merencanakan perjalanan mengelilingi Lombok.


Note:
Akomodasi zero expenditure karena saya menginap di rumah teman
Sewa motor juga gratis karena kami dipinjami (biaya sewa motor di lombok kisaran Rp 40.000/hari)
Biaya transport jauh lebih hemat bila tanpa pesawat
*Biaya oleh-oleh tidak saya masukkan--> yang asli Rp 170 ribu (dapet 3 kain tenun dan 2 gelang dari Sade, 2 kaos serta 3 bungkus dodol nangka)

Baca pula catatan ngeluyur saya di 11 destinasi wisata Pulau Lombok:
Dua Hari Jelajahi 11 Wisata Lombok (part I)
Dua Hari Jelajahi 11 Wisata Lombok (part II)
Gadis Penjaja Suvenir Misterius di Pantai Kuta
Suku Sasak Sade Perlahan Ikuti Zaman

Kini listrik bisa dinikmati. "Bahkan, sebagian dari kami dapat melihat tv," akunya. Soal agama pun telah banyak orang Sade yang ...

Kini listrik bisa dinikmati. "Bahkan, sebagian dari kami dapat melihat tv," akunya. Soal agama pun telah banyak orang Sade yang memeluk Islam.

Baru beberapa menit saya menaruh motor di tempat parkir, ada satu orang desa yang mulai menghampiri saya. Dengan kikuk dan setengah lugu, seorang pria mengenakan kemeja putih tulang bercorak garis serta bersarung songket hijau pun berucap, singkat kata ia ingin mengantarkan kami masuk ke Sade. "Selamat datang di Sade, mari masuk" ia berkata dengan logat Lombok Tengah yang khas.

Ia pun lalu menggiring kami menuju gerbang masuk desa adat suku Sasak Sade. Tak jauh dari pintu gerbang saya diwajibkan mengisi buku tamu sekaligus sumbangan untuk pembangunan desa. "Sini mari ikuti saya," guide yang akhirnya kami tau ternyata bernama bapak Mesah itu menggiring kami masuk desa. Perlahan, wajah Sade sebagai hunian suku Sasak Lombok pun mulai terlihat dari kejauhan.

Tawa riang anak-anak di Sade saat bermain bersama.
Kala itu, sedang hujan gerimis di Sade. Sebelum masuk lebih dalam, Saya melewati gadis-gadis cilik Sade yang sedang tertawa riang sewaktu bermain dengan sebayanya. Deretan bale tani, rumah tinggal bagi penduduk Sade yang berprofesi petani berjejer di kiri kanan saya. Sejak saat itu saya sadar telah masuk di kampung suku asli Lombok, Desa Sade, Rembitan Lombok Tengah.

Orang-orang Sade merupakan orang asli Lombok. Mereka dipercaya keurunan asli ras Austronesia yang dulu pada 5000 SM melakukan migrasi ke pelosok tanah air hingga sampai Pulau Lombok. Pada akhirnya, nenek moyang mereka membuat pemukiman di Sade. Hingga kini geliat hidup dan budaya Sasak masih kental di sana, di Sade yang kini menjadi desa wisata yang cukup terkenal.

Bale tani di deretan sebelah kiri dan lumbung (kanan) yang dipakai warga Sade untuk menggelar dagangan.
Meski Sade sendiri terletak persis di samping jalan raya aspal nan mulus, penduduk desa Sade masih berpegang teguh menjaga keaslian desa. Lihatlah bangunannya yang terkesan sangat tradisional. Atapnya dari ijuk dengan kuda-kuda memakai  bambu tanpa paku, tembok dari anyaman bambu dan alas lantai dari tanah. Orang sasak sade menamakan bangunan dengan bale. Ada delapan bale kata Pak Mesah, yaitu Bale Tani, Jajar Sekenam, Bonter, Beleq, Berugag, Tajuk dan Bencingah. Bermacam bale itu dibedakan berdasar fungsinnya.

Tertidur pulas di lantai rumah yang sudah dilapisi tai kerbau.
Uniknya lagi warga desa punya kebiasaan khas yaitu mengepel lantai dengan menggunakan kotoran kerbau. Jaman dahulu ketika belum ada plester semen orang Sasak Sade mengoleskan kotoran kerbau di alas rumah. “Sekarang sebagian dari kami sudah bikin plester semen dulu, meski begitu kami tetap mengolesi kotoran kerbau,” kata ibu penjual suvenir yang saya tanyai. Konon, dengan cara begitu lantai rumah dipercaya lebih hangat dan bisa mengusir nyamuk. Yang aneh, tak ada bekas bau tidak sedap yang tercium.

Warga Sade menggelar lapak-lapak dagangan. biasanya para wanitanya berjualan kain tenun dan bermacam suvenir. 
Nenek yang sedang memintal benang dari gumpalan kapas.
Pengaruh Luar
Instalasi listrik terpasang.
"Sampai sekarang masih ada 150 KK disini," ucap Pak Mesah. Ia bercerita sudah ada banyak perubahan menghiasi wajah Sade. Bila zaman dulu tidak ada, kini listrik bisa dinikmati. "Bahkan, sebagian dari kami dapat melihat tv," akunya. Soal agama pun telah banyak orang Sade yang memeluk Islam. Orang Sasak asli pada zaman dahulu terkenal dengan agama Wektu Telu, Islam tapi hanya sholat tiga kali saja dalam sehari. Berbeda dengan Islam yang mengajarkan sholat lima waktu sehari. "Kini sebagian besar dari kami memeluk islam, kalau jaman dulu masih banyak yang memeluk wektu telu," jelasnya lagi.

Gelang dan kalung juga dijual selain kain tenun.
Untuk urusan pekerjaan, pengaruh dari luar juga membawa perubahan sosial di Sade. Orang Sade dulunya terkenal yang laki-laki mahir bertani dan yang wanita pandai membuat kain tenun. Namun kini, banyak laki-laki disana yang berprofesi sebagai guide contohnya Pak Mesah. "Kalau sedang ramai wisatawan ya saya jadi guide dadakan, menjelaskan seluk beluk desa. tapi saya juga tetap bertani," jelasnya. Sementara, wanita Sade yang pandai menenun menggantungkan hidup menjadi penjual suvenir khas Sade, tenun ikat dengan benang dari pewarna alami. Yang unik, bahkan para lansia wanitanya juga masih ikut dalam proses pembuatan tenun ikat.

Puas berkeliling dan membeli buah tangan khas Sade, tiba
Bersama Pak Edy
waktu untuk saya melanjutkan keluyuran lagi. Kembali ke pintu gerbang, saya bertemu guide lain, namanya Pak Edy yang saat itu memakai baju khas Sasak Sade dengan atribut lengkap. Saya meminta untuk berfoto dengannya lalu ngobrol sebentar. Sebelum mangkat, saya berkata kepadanya, andai saya bisa tinggal barang seminggu di Sade untuk menyelami kehidupan disana, pastinya menarik. Ia pun membalas ucapan saya tadi dengan mendoakan saya di masa depan bisa kembali lagi ke Sade. Setengah sumringah saya berujar dalam hati, "Ah, saya yakin doa itu pasti akan terkabul." Kuz9



Ulah bocah-bocah penjual suvenir di Pantai Kuta Lombok yang sedang mengeroyok teman saya Ubed. Tak jarang mereka memaksa wisatawan untuk m...

Ulah bocah-bocah penjual suvenir di Pantai Kuta Lombok yang sedang mengeroyok teman saya Ubed. Tak jarang mereka memaksa wisatawan untuk membeli dagangannya.
"Masak mas datang kesini (menikmati Kuta) tapi tidak bantu kami?"

Bila pergi berlibur ke Pantai Kuta Lombok bersiaplah mata anda dimanjakan dengan hamparan pasir putih serta citra lautnya yang bersih dan berwarna hijau kebiru-biruan. Tapi bersiaplah juga untuk diusik oleh kawanan bocah-bocah lokal di sekitar Kuta. Mereka adalah anak-anak penjual suvenir yang terkadang berjualan dengan sedikit memaksa dan membuntuti kita.

Biasanya, mereka menjual gelang dan harga yang ditawarkan sekitar Rp 3000 per item. Teman perjalanan saya si Ubed bahkan sampai dikeroyok oleh mereka memaksa untuk membeli. Sewaktu itu saya sedang berjalan-jalan menuju karang yang surut di Kute. Puas berfoto di sekitara karang cilik yang ditumbuhi pohon asam itu, saya lalu berniat untuk kembali. Nah, saat beranjak dari tempat itu sesosok gadis penjual gelang menghampiri saya dari kejauhan.

Usai mendekat, ia lalu menjajakan barang daganganya. "Mas, beli gelang saya mas," pintanya dengan nada memelas. Saya memang tidak tertarik untuk membeli gelang karena sudah membelinya sewaktu di Desa Suku Sasak Sade. "Enggak dek, saya udah beli dari Sade," jawab saya. Pikirku saat itu, kalau saya keluarkan uang untuk membeli bisa jadi saya dikeroyok teman-teman gadis cilik itu, seperti yang ditimpa temen saya. Gadis itu membuntuti hampir tiap langkah saya. ribuan kali ia meminta, ribuan kali juga tawarannya saya tolak.

Saya heran mengapa anak ini begitu kekeuh. Karena tingkahnya, saya sempat muter-muter lama di Kuta, kucing-kucingan dengan gadis cilik tadi. Akhirnya ia sadar juga bila saya tidak berniat cari gelang. Ia malah meminta uang Rp 2000 ke saya dengan dalih untuk pulang ke rumah. "Maaf dek, saya lagi tidak punya uang receh," kelit saya. Sengaja saya tidak memberi karena itu bukan kemauan saya, toh kalau saya memberi tidak akan dapat pahala, karena tidak ikhlas gara-gara dipaksa.

Habis sudah kesabaran saya, "Sudah dek mending adek pergi tidak usah mbuntuti saya lagi, saya juga mau pulang." Kata-kata itu saya ucapkan dengan nada separuh membentak. "Masak mas datang kesini (menikmati Kuta) tapi tidak bantu kami?" balasnya membalik kata-kata saya. Mendadak, perasaan aneh saya rasakan, seperti saat anda merasakan firasat yang buruk. Tak lama usai mengucapkan kalimat itu ia langsung pergi menghilang.

Karena merasa heran atas tingkahnya yang tak seperti anak-anak penjual lain yang begitu keras kepala mengikuti saya, saya menghampiri kawanan bocah penjual sevenir. "Dik apa kamu tahu gadis cilik, ya sekitar kelas 3-4 SDan, kulitnya item rambutnya coklat yang tadi ngikutin saya?" tanyaku. "Siapa mas? ga ada, kita tidak kenal," jawab salah satu dari mereka. Saya yang penasaran menyanyakan lagi apa memang benar tidak ada. "Yang ada dari kami kayak masnya tadi bilang ya ini, si A, B, C," salah satu dari mereka kembali menegaskan sambil menujuk yang dimaksud. Saya sontak merasa dihinggapi perasaan aneh lagi. Intinya gadis itu tidak dikenal oleh mereka.

Entah ada kaitannya dengan kejadian misterius tadi atau tidak. Tak lama, sepulang dari Lombok, musibah yang lumayan besar saya alami, saya kehilangan benda yang berharga. Gadis cilik penjual suvenir misterius itu sepertinya menguji kemurahan hati saya. Tuhan tentu Yang Maha Tahu atas semua peristiwa ini. Kuz9

Setelah puas satu hari di Lombok dengan lima destinasi wisatanya, hari kedua kami lanjutkan lagi eksplore ke tempat-tempat menarik di Bumi ...

Setelah puas satu hari di Lombok dengan lima destinasi wisatanya, hari kedua kami lanjutkan lagi eksplore ke tempat-tempat menarik di Bumi Rinjani itu. Kali ini lebih banyak dari hari pertama, di hari kedua kami singgah menuju enam destinasi wisata andalan di Lombok Barat dan Lombok Tengah.

Sebelum berangkat, lagi-lagi saya disuguhi penghangat perut: biskuit coklat dan teh hangat, diseruput di depan serambi rumah, berasa hidup sangat asooy. kuda besi pinjaman dari Dara membawa kami ke enam tempat yang lebih indah daripada di hari pertama. Apa saja kah? Coba simak baik-baik!

Dermaga kecil di Gili Nanggu
Pesona Gili Kedis
6.Gili Nanggu
Sesaat sebelum berangkat kami bertanya ke Dara, teman kami yang saat itu tengah menempuh program dokter muda, “Emang ada jalan bagus ke Gili Nanggu, daerah Sekotong?” Dengan cepat Dara menjawab, “Bisa, lewat Mataram, lurus ke Cakranegara cari saja tanda jalan ke arah Pelabuhan Lembar.” Jawaban Dara sontak membuat pagi kami penuh semangat. Langsung, mesin motor berderu kencang, stang kemudi kami arahkan menuju pelabuhan lembar, tempat kami mendarat di hari pertama.

Dan benar saja, di dekat jalan menuju pelabuhan lembar ada pertigaan, ambil saja jalan ke kiri. Ikuti jalan maka anda akan sampai di daerah Sekotong. Untuk mencapai Gili Nanggu carilah Pelabuhan Sekotong. Dari Mataram kami menghabiskan waktu tempuh sekitar satu jam. Oh iya! jangan lupa untuk menyewa alat snorkling sebelum menyeberang karena tarifnya lebih murah (Rp 25 ribu) daripada menyewa di Gili Nanggu.

Dengan harga sewa satu perahu Rp 250 ribu, maka saya dan tiga travelmate diajak berkeliling ke gili-gili di sekitaran Gili Nanggu. Total ada empat gili: Gili Nanggu, Gili Kedis, Gili Sudak dan Gili Tangkong. Satu gili yang paling saya ingat adalah Gili Kedis. Itu adalah gili yang paling kecil. Sekelumit daratan kecil dengan pohon yang tumbuh diatasnya, bak pemandangan pulau miniatur di TMII.

Puas berkeliling di gili-gili, akhirnya kami tiba di Nanggu. Bisa dibilang Nanggu lebih bagus dari Gili Trawangan. Usai berlabuh, saya disambut cemara laut di pinggiran pantainya yang sangat putih dengan air laut bening kehijauan. Di Nanggu juga sangat sepi, jadi lebih nyaman, cocok buat anda yang ingin ketenangan.

Paling penting, paling ciamik adalah pesona bawah airnya, jadi jangan lupa lakukan snorkling disana. Tak perlu jauh-jauh dari bibir pantai, sekitar lima meter saja anda sudah bisa menyaksikan hamparan macam-macam karang penuh warna. Dan saya sempat tercengang, kawanan ikan besar, barangkali sejenis Napoleon penghuni karang-karang tadi. Mereka mendekati saya saat makanan ikan dari remah-remah roti disebarkan. Betul-betul, miniatur surga. Sayang, kami tidak menginap disana, perjalanan harus kami lanjutkan, ke Sade!
Bale Tani di sebalah kanan salah satu rumah tradisional di perkampungan Sasak Sade.
Ibu-ibu di Desa Sasak Sade umumnya pandai membuat kain songket.
Seorang anak penjual suvenir di Sade tertidur di lantai rumahnya. Orang Sade biasa melapisi lantai rumahnya dengan tai kerbau supaya hangat dan mengusir nyamuk.
7.Desa Suku Sasak Sade
Suku Sasak Sade sudah terkenal di telinga wisatawan yang datang ke Lombok. Ya benar, dinas pariwisata setempat menjadikannya sebagai desa wisata, tak lain karena Sade sangatlah unik. Mengapa? Meski sade terletak persis di samping jalan raya aspal nan mulus, penduduk desa Sade, Rembitan, Lombok Tengah masih berpegang teguh menjaga keaslian desa.

Bisa dibilang Sade cerminan dari suku asli Sasak Lombok. Yah, walaupun listrik dan program PNPM pemerintah sudah masuk sana, desa itu masih menyuguhkan suasana perkampungan asli pribumi Lombok. Hal Itu bisa kamu lihat dari bangunan rumah orang-orang sade yang terkesan sangat tradisional. Atapnya dari ijuk, kuda-kuda atapnya memakai  bambu tanpa paku, tembok dari anyaman bambu dan alas lantai dari tanah. Orang sasak sade menamakan bangunan dengan bale. Ada delapan bale kata guide kami yaitu Bale Tani, Jajar Sekenam, Bonter, Beleq, Berugag, Tajuk dan Bencingah. Bermacam bale itu dibedakan berdasar fungsinnya.

Ada 150 KK di Sade, penduduknya dulunya banyak yang menganut Islam Wektu Telu (hanya tiga kali sholat dalam sehari). “Tapi sekarang, banyak penduduk Sade sudah meninggalkan Wektu Telu dan memeluk Islam sepenuhnya,” kata bapak Mesah, guide lokal kami.

Uniknya warga desa punya kebiasaan khas yaitu mengepel lantai dengan menggunakan kotoran kerbau. Jaman dahulu ketika belum ada plester semen orang Sasak Sade mengoleskan kotoran kerbau di alas rumah. “Sekarang sebagian dari kami sudah bikin plester semen dulu, baru kemudian kami olesi kotoran kerbau,” kata ibu penjual suvenir yang saya tanyai. Konon, dengan cara begitu lantai rumah dipercaya lebih hangat dan mengusir nyamuk. Yang aneh, kotoran itu pun kebanyakan tanpa campuran apa-apa, paling ya air, itu saja cuma sedikit, tapi saat saya masuk ke rumahnya tak ada bekas bau yang tercium. Ah, itu sih local genius orang Sade.

Pantai Kuta lombok yang memiliki pasir sebesar biji merica.
8.Pantai Kute Lombok
Dari sade kami lanjut ke Pantai Kute Lombok, pantai yang punya pasir sebesar biji merica utuh. Dari Sade ke Kuta hanya 30 menit. Sayang sesampainya disana langit Pantai Kuta mendung gelap, maklum saya kesana setelah hujan.

Masuk Kute gratis, kamu hanya akan dikenakan biaya parkir saja. Di situ kamu bisa menikmati khas pantai di Lombok: pasir putih, air laut jenih biru toska dan satu lagi, ombak yang bagus buat yang suka surfing. Pantai ini juga dikenal dengan nama Pantai Mandalika. Pada waktu tertentu ada festival bau nyale, mencari cacing laut di pantai ini. Konon, jaman dahulu ada seorang putri cantik bernama Mandalika, karena diperebutkan laki-laki, ia menceburkan diri ke laut dan menjelma menjadi nyale, sejenis cacing laut.

Bukit nan hijau menjadi pesona laskap di Tanjung Aan.
9.Tanjung Aan
Tak jauh dari Kute, sekitar 15 menit darinya, kamu bisa ke deretan pantai-pantai lain yang lebih sepi. Salah satunya pantai Tanjung Aan, yang memiliki butiran pasir putih yang ukurannya berbeda meski dalam satu pantai. Sayang, jalan aspal ke sana sudah sangat rusak, tak seperti jalanan lain di destinasi wisata Lombok yang hampir selalu bagus.

Tanjung Aan sangatlah sepi, sepertinya tidak ada campur tangan pemerintah dalam pengelolaannya. Tidak ada penginapan di sekitarnya, hanya ada gubuk yang menjadi warung atau tempat berteduh.

Namun, Pantai ini juga memiliki pesona yang terpendam. Anda bisa merasakan tiupan angin saat sore hari disertai deburan ombak menghempas pasirnya yang putih. Ada bukit di sisi barat pantai ini yang ditumbuhi oleh rumput, kamu bisa naik kesana dan melihat Tanung Aan lebih luas dari ketinggian.

Suasana sepi bisa kamu temukan di Pantai Seger, tak jauh dari Tanjung Aan.
10.Pantai Seger
Kalau sudah ke Tanjung Aan ada baiknya kamu juga mampir ke Pantai Seger. Pantai ini juga tidak dikelola. Tidak ada tiket masuk, tidak ada biaya parkir. Yang ada kamu hanya akan bertemu kesunyian pantai di Lombok yang belum dioptimalkan potensinya.

Pantai ini mirip dengan Tanjung Aan, hanya saja di tengah pantainya anda bisa melihat ada banyak karang yang menyembul di permukaan lautnya yang biru dengan gradasi warna kehijauan. Saat saya kesana, pantai ini lebih sepi dari Tanjung Aan, kami hanya diikuti oleh penduduk lokal yang menjajakan suvenir dan seekor anjing yang lalu lalang mendekati kami. Lebih baik kesana saat siang hari dan cuaca cerah. Semakin sore pantai ini semakin sepi.

Menu Ayam Taliwang Muslimah di Jl. Pejanggik, Cakranegara yang Laziiz...!
11.Kuliner Ayam Taliwang
Tak nikmat rasanya kalau jalan-jalan tanpa makan-makan. Jadi kami sempatkan mencoba kuliner lokal khas Lombok yang terkenal, Ayam Taliwang. Ada banyak tempat untuk mencobanya, salah satu yang terkenal adalah Ayam Taliwang Muslimah. Terletak di Jalan Pejanggik, Cakranegara, Mataram, tepatnya di depan ruko yang ada Bank commonwealth-nya.

Satu menu penuh mulai dari nasi putih, ayam taliwang dan sambalnya, serta plecing kangkung kami pesan. Ayam taliwang sendiri konon memang asli dari daerah Cakranegara, Tepatnya di Kampung Karang Taliwang yang dibuat oleh seorang warganya bernama H.Murad dan istrinya.  Ayam yang dibakar adalah ayam kampung utuh berukuran kecil. Sementara, bumbunya berasal dari campuran cabai, bawang merah, tomat, terasi, gula dan garam. Sungguh nikmatnya keterlaluan, apalagi setelah capek ngeluyur seharian.

Usai bersantap malam dengan Ayam Taliwang, kami kembali ke rumah teman kami si Dara. Agak kaget juga saat dia bilang jangan pulang malam-malam dari Kuta. “Jalannya sepi, banyak yang dipalak kalau lewat situ, banyak tawuran juga antar desa,” katanya. Saya lalu mengernyitkan dahi saat mendengarnya. Tak lama, Dara, papanya dan adiknya mengantar kami ke Pelabuhan Lembar untuk mengakhiri liburan kami yang cuma dua hari di Lombok. Okeh, semai rinduku untuk kembali lagi ke sana, ke Lombok. Kuz9

11 spot destinasi wisata kami selama dua hari di Lombok. Lalu lalang orang keluar masuk pintu besar bergaya arsitektur indische di belak...

11 spot destinasi wisata kami selama dua hari di Lombok.
Lalu lalang orang keluar masuk pintu besar bergaya arsitektur indische di belakang kami. "Kemana nih anak, kog nggak dateng-dateng, bentar lagi kereta mau berangkat," kata Kiki, salah seorang teman saya yang sedang menunggu rekan kami yang belum juga datang. Saat itu saya tengah berdiri di depan pintu masuk Stasiun Gubeng Lama, jam tangan menunjukkan pukul 13.20 WIB. Padahal, tiket KA Sri Tanjung kami berangkat pukul 13.40 WIB. Gawat, kalau begini bisa jadi kita terlambat naik kereta. Untung, tak lama rekan kami datang juga. Perjalanan untuk mengakrabi pesona alam Lombok, Nusa Tenggara Barat pun kami mulai.

Lombok, memang tidak lah besar, hanya 5.435 km persegi. Idealnya, Butuh seminggu atau bahkan dua minggu untuk "akrab" dengan semua destinasi wisatanya. Namun, saya dan tiga travelmate hanya punya waktu empat hari saja, itu pun dua hari terpakai untuk perjalanan darat. Alhasil, kami memampatkan jadwal serta membuat itenerary matang sejak jauh hari.

Dari Surabaya, Lombok bisa ditempuh langsung dengan perjalanan darat via kereta Sri Tanjung dari Gubeng menuju Stasiun Banyuwangi Baru. Dari sana, anda bisa melanjutkan perjalanan darat via bus dari Terminal Gilimanuk. Cari saja bus "Buana Raya" tujuan Gilimanuk-Pelabuhan Padang Bai. Kami pun menunggu bus itu sampai tengah malam. Maklum, bus berangkat pukul 01.00 WITA menuju Pelabuhan Padang Bai, Bali. Sampai sana, perjalanan darat berganti perjalanan laut dengan kapal ferry dengan tiket seharga Rp 35.000. Ingat, selama perjalan darat hati-hati, banyak calo bergentayangan. hihihi....

Nah, selama penyeberangan anda bisa istirahat atau cuaca cerah anda bisa menikmati panorama Gunung Agung, Bali. Saya sampai di Pelabuhan Lembar, Lombok, NTB setelah menempuh lima jam perjalanan laut. Awalnya, kami ragu, apa bisa puas mengakrabi pesona Lombok hanya dengan waktu dua hari? Dan, ya….. jawabannya bisa! Hanya dengan dua hari kami bisa menjelajah 11 destinasi wisata di Lombok, dari pesona pulau kecil (gili), pantai, bukit, pos pendakian Rinjani, air terjun, suku tradisional hingga wisata kuliner di Mataram dengan modal transport motor pinjeman. Tertarik? kamu pun bisa mencobanya.

Pagar pembatas jalan yang mirip jembatan di Bukit Malimbu.
Dari Malimbu Gili Trawangan (atas kiri) terlihat bila cuca sedang cerah.
1.Bukit Malimbu
Sejak pagi kami sudah bersiap packing kecil untuk eksplore Lombok di hari pertama. Tanda-tanda bintang destinasi wisata kami bermunculan di Google Maps HP Android kami. Termasuk, tempat bernama Malimbu. Sebuah bukit di daerah Lombok Barat, tidak jauh dari Pantai Senggigi. Bila dari Ampenan, Mataram mungkin hanya 30 menit perjalanan. "Susuri saja Jl. Raya Senggigi dan cari pembatas jalan yang warnanya biru, itu lah Bukit Malimbu," kata Dara, teman kami orang asli mataram.

Spesialnya, anda bisa melihat keelokan alam lombok dari pantai putih, pohon kelapa tumbuh disekitarnya, debur ombak dari atas ketinggian. Siap-siap mulut menganga, dari Malimbu ada juga bisa melihat tiga gili (Trawangan, Meno dan Air). Apalagi, kalau cuaca sedang bagus tengoklah di sebelah kiri anda, ada Gunung Agung, pencakar langit Pulau Bali. Benar-benar bukit yang membuat mata, kepala serta hati anda tersihir.

Panorama bibir pantai Gili Trawangan 
Anda bisa menghabisakan waktu bersepeda mengelilingi G.Trawangan. Hanya dengan satu jam, anda bisa puas memutari pulau kecil ini.
2.Gili Trawangan
Lanjut dari Malimbu, lurus saja ikuti jalan yang berkelok. Maka kira-kira 30 menit anda akan sampai di daerah bernama Pemenang. tak jauh dari Pemenang, cari saja perempatan dengan penunjuk jalan menuju Pelabuhan Bangsal. Parkirlah motor, beli tiket public boat seharga Rp 10.000 maka kamu akan diantar ke Gili Trawangan.

"Pulau yang indah, bersih pantainya, nggak ada polusi dan polisi, yang ada hanya andong alat trasportasi di pulauku," itulah sepenggal lagu berjudul Gili Trawangan karya Ricahard D'gilis. Dan memang benar, tidak ada polisi, tidak ada aturan hukum, tidak ada kendaraan bermotor sama sekali di pulau itu. Gantinya, andong yang disebut cidomo oleh warga lokal dan sepeda. Sewalah sepeda dengan tarif sekitar Rp 25 ribu sepuasnya dan mulailah petualangan berkeliling Trawangan. Pulau kecil dengan luas 340 hektar itu bisa anda kelilingi dengan waktu satu jam dengan sepeda. Bila kurang puas bersepeda, anda juga bisa menyewa alat snorkel. Ada banyak spot snorkling dan diving di Gili Trawangan.

Eittss, jangan salah, meski banyak hingar bingar turis asing dan kehidupan hedon. Di sana juga ada masjid loh! Penduduk Gili Trawangan di kampung yang ada di tengah pulau adalah pemeluk Islam. Maka suara adzan akan selalu kamu dengar disana.

Arak-arakan Nyongkolan yang kami temui selepas dari Pelabuhan Bangsal menuju Sendang Gile.
Alat musik modern menggantikan posisi Gendang Beleq pada saat Nyongkolan. Mahalnya tarif menjadi alasan. Meski begitu, para pengiring tetap asyik menari. Terkadang ada dari mereka yang setengah mabuk saat menari.
3.Nyongkolan
Kalau upacara yang satu ini bisa dibilang kami mujur berpapasan dengannya saat perjalanan selepas Gili Trawangan menuju Air Terjun Sendang Gile, dekat dengan Senaru. Nyongkolan sendiri adalah prosesi arak-arakan yang mengiring mempelai pengantin. Tradisi asli Suku Sasak itu mengarak pengantin dari rumah mempelai pria ke wanita. tujuannya agar orang di sepanjang jalan desa tahu, kalau pasangan itu resmi menikah.

Uniknya, saya terheran menyaksikan para pengiring yang mengumbar joget dan tawa, seperti orang yang kegirangan. para pengiring biasanya kerabat, sahabat dan keluarga dari mempelai. "Orang yang ngarak nyongkolan ada yang mabuk dulu, makanya kamu kalo liat mereka tertawa ga berhenti-henti sambil joget-joget," kata Mada, teman kami yang asli Mataram. Menurutnya, Nyongkolan kalau di kota bisa bikin macet berkilo-kilo meter.

Biasanya keluarga yang punya status bangsawan, orang penting atau keluarga berada memilih musik asli Gendang Beleq khas Sasak sebagai musik pengiring saat Nyongkolan. Namun, saat ini Gendang Beleq telah naik pamor, harga sekali pentasnya sangat mahal. Terkadang alat musik modern seperti drum dan gitar menjadi penggantinya. Tapi para pengiring toh tetap saja asik menari sambil ketawa-ketiwi.

4.Sendang Gile
Panorama kesegaran khas Lombok di Air Terjun Sendang Gile
Dari gili, pantai, bukit, kami naik lagi ke dataran tinggi Senaru. Ada air terjun cukup terkenal disana. Namanya Sendang Gile. letaknya dekat dengan pos pendakian Gunung Rinjani via Senaru. untuk masuk harga tiket cuma Rp 5 ribu. Di parkiran, kami bertemu ABG yang ternyata guide lokal . Ia menawarkan jasa antar ke air terjun kedua. Selain Sendang Gile, ada lagi Air Terjun Tiu Kelep. Karena terbatasnya waktu dan hari saat itu sudah terlampau sore, akhirnya tawaran itu kami tolak. Kami hanya menuju Sendang Gile saja.

Sendang Gile sendiri berada di Kecamatan Bayan, Lombok Utara. Pesona air terjun ini ada pada bentuknya yang berundak seperti tangga. Ada dua undakan yang terlihat dari bawah. air yang turun pun terbelah menjadi dua bagian, kiri dan kanan. sisi air terjun yang kiri biasanya lebih deras. bila anda mau berbasah-basah coba saja berdiri di bawah air terjun di sisi kanan. Akses dari pintu masuk ke Sendang Gile sangat mudah. tinggal turun melalui anak tangga. "Gile!! naik banget tangganya," keluh salah satu dari kami. Siap-siap balik dengan kaki gempor, anak tangga kembali ke loket sangatlah curam, tapi itu sebanding dengan suasana seger nan adem khas Lombok yang akan kamu dapat di Sendang Gile.

Suasana Pos Jaga Polisi Hutan TNGR Senaru saat sore.
5.Pos Pendakian Rinjani Senaru
Selain jalur pendakian Gunung Rinjani via Sembaloen, ada pula jalur pendakian Senaru. Terletak di Lombok Utara dan dekat dari Sendang Gile, tidak sampai 10 menit anda akan sampai di pos jaga polisi hutan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) Senaru.

Kami hanya sempat berfoto di depan pos jaganya, maklum hari sudah kelewat sore. Jalur pendakian dari Senaru menawarkan pemandangan dan khasanah budaya yang lebih apik daripada via Sembaloen. Di samping pos jaga, anda bisa masuk ke desa tradisional Suku Sasak Senaru untuk melihat pembuatan kain songket atau mencari minuman khas lokal, Brem Senaru. Kuz9

So, Masih ada enam lagi destinasi wisata kami selama dua hari di Lombok. Bersambung......