Tampilkan postingan dengan label Gresik Explore. Tampilkan semua postingan

"Saking besar penghasilannya kala itu, pengrajin emas di Giri sempat merasa was-was, karena bisa jadi rumah mereka disatroni maling...

"Saking besar penghasilannya kala itu, pengrajin emas di Giri sempat merasa was-was, karena bisa jadi rumah mereka disatroni maling"
Dengan alat sederhana, pengrajin emas di Giri, Kabupaten Gresik membuat cincin emas yang dikerjakannya di salah satu sudut kamar rumah. 
Spak ruji sepeda digunakan untuk membentuk cincin.
Tidak hanya Jogja dan Bali, Gresik juga punya sentra kerajinan emas. Salah satu yang saya kunjungi saat ngeluyur adalah seorang pengrajin di Desa Giri, Kecamatan Kebomas Gresik.

Uniknya, mereka mengerjakan aneka ragam perhiasan emas hanya di kamar rumahnya. Memang, kerajinan emas di Desa Giri kebanyakan dikerjakan rumahan, tapi jangan salah, hasilnya tidaklah "murahan".

Surau di situs Giri Kedaton dan batu yang konon ceritanya dipakai Majelis Wali Songo untuk berkumpul Curamnya tangga ke Giri Kedaton d...

Surau di situs Giri Kedaton dan batu yang konon ceritanya dipakai Majelis Wali Songo untuk berkumpul
Curamnya tangga ke Giri Kedaton
dan lanskap Gresik dari ketinggian.
Plang bertuliskan situs 'Giri Kedaton 100 meter' terlihat di sisi kiri jalanan yang saya lalui. Langsung saja tanpa pikir panjang saya masuk gang mengikuti petunjuk plang itu. Tak jauh memang, setelah menyusuri gang pemukiman warga, di sisi kanan jalan saya ada gapura kecil bertuliskan Situs Giri Kedaton-Makam Raden Supeno. Saya masuk jalan kampung yang kecil itu, jalan mendadak menanjak. Sampai di tengah ada plang lagi, kali ini bertuliskan 'harap turun'. Saya lalu harus menuntun motor dalam keadaan menyala, menyeimbangkan tuas kopling dan gas agar bisa melaju di jalan yang terus naik itu.

Setelah parkir motor, barulah saya naiki tangga Bukit Giri. Di atas sana ada puing 'Giri Kedaton', Kerajaan Islam di era Sunan Giri. Total anak tangga ada 110 buah untuk sampai ke atas.

Setiba diatas,  nuansa pemandangan Kota Gresik sebagai salah satu kota pelabuhan dan penyebaran Islam tertua pun mulai tampak. Di sebelah timur ada Pelabuhan Gresik berserta lanskap Pulau Maduranya. Sementara di sisi utara tampak dari kejauhan berdiri Masjid Sunan Giri. Sore itu pemandangan bisa saya lihat dengan jelas karena cuaca yang cukup cerah.

Situs giri kedaton sendiri memiliki sejarah terkenal khususnya sebagai pusat penyiaran Islam. Diceritakan dalam Babad Gresik, setelah berguru Islam kepada Maulana Ishak di Samudera Pasai, Sunan Giri mendirikan pesantren di Bukit Giri, Kecamatan Kebomas Gresik pada tahun 1487 masehi. Maulana Ishak adalah ayah Sunan Giri.

Setelah berlangsung lama, pesantren itu pun mulai berkembang dan terkenal di nusantara. Santri Sunan Giri pun berdatangan dari penjuru tanah air untuk belajar ilmu  dan syiar Islam. "Mereka ada yang berasal dari Lombok, Madura, Maluku bahkan sampai ada yang dari Ternate," kata Pak Muchtar, Juru Kunci Giri Kedaton. Pesantren kemudian juga berkembang menjadi kerajaan bernama sama. Giri Kedaton berjaya saat dipimpin oleh Sunan Prapen, murid Sudan Giri.

Makam yang ada di Giri Kedaton dan bekas kolam yang jaman dahulu digunakan untuk berwudu.
Makam Raden Supeno, Putra Sunan Giri  yang terletak di bagian belakang situs.
Giri Kedaton kerap didatangi para musafir dari seantero negeri. Ada yang menginap semalam bahkan menetap hingga bertahun-tahun.
Tempat Musafir Singgah
Giri Kedaton sering didatangi musafir dari berbagai daerah untuk bermalam. Alasan mereka beragam, mulai dari mencari ketenangan, beriktikaf di sana atau bahkan memang sudah kerasan menetap hingga bertahun-tahun. Sewaktu saya kesana ada empat orang musafir yang saya temui. Salah satu yang saya ajak bicara adalah pria paruh baya dengan kumis dan jenggot tipis. Entah siapa nama bapak itu, saya lupa bertanya namun ia mengaku bekas pengamen jalanan dari Pasuruan.

Sempat saya tanyakan, lha bapak kerja apa? kalau cari makan bagaimana? Pria asal Pasuruan itu menjawab, "Kalau disini ya mas, ga usah bingung cari makan. Kalau di logika pasti tidak masuk nalar tapi kiriman makanan itu ibarat rejeki yang pasti datang sendiri meski tidak dicari." Ia juga mengaku kadang-kadang ia memakan buah pace, buah jambu bahkan dedaunan yang ada di Giri Kedaton.

Dua musafir lain berasal dari Malang dan satu orang dari Magetan. yang paling lama menetap disana adalah mas-mas dari Magetan itu, dia tinggal sudah empat tahun. Entah apa yang ada di pikiran mereka, saya sendiri tak bisa membayangkan.

Sebelum pulang saya sempatkan untuk Sholat Maghrib disana. Suara adzan bersaut-sautan terdengar saat itu. Entah apa yang saya rasakan, hati dan telinga saya bergetar. Bunyi adzan Maghrib secara simulatan  terdengar ramai di Giri Kedaton. Suara adzan itu berasal dari penjuru Gresik. Sungguh bunyi yang menentramkan hati. Mungkin, perasaan heran saya atas kehidupan musafir-musafir di Giri Kedaton bisa terjawab dengan apa yang baru saja saya rasakan. Kuz9

Damar kurung memang lekat dengan nama almarhum Nyimas Masmundari, sang  maestro pelukis gambar yang terkesan naif dan kekanakan namun otenti...

Damar kurung memang lekat dengan nama almarhum Nyimas Masmundari, sang  maestro pelukis gambar yang terkesan naif dan kekanakan namun otentik. Guratan cat subo, sejenis cat alami untuk pewarna makanan beserta kuas bambu digunakan Mbah Masmundari untuk melukis damar kurung, kesenian asli gresik dari abad ke-17 yang pernah nyaris punah itu. Kesahajaan dan komitmen nenek yang buta aksara itu membuat damar kurung dikenal luas oleh publik. Beliau juga sempat mendapatkan penghargaan seniman berprestasi nasional (1991) dari ratusan karya yang ia hasilkan. Apa itu damar kurung

Muzachim menunjukkan koleksi lukisan damar kurung Alm. Mbah Masmundari.

Salah satu kolektor lukisan karya Mbah Masmundari yang ada di Gresik adalah Pak Muzachim. di kediamannya puluhan karya Masmundari tersimpan rapi. "Total kira-kira semuanya ada 70 dengan ukuran besar-kecil," tutur Zachim saat Aku mengunjungi rumahnya di bilangan R.A. Kartini, Gresik.

Koleksi damar kurung karya Masmundari itu ia simpan rapi di rumahnya. Ada yang bentuknya masih lembaran dengan bungkus plastik atau sudah dipigorakan. Ada juga yang sudah berbentuk lampion damar kurung.

Lukisan damar kurung menghiasi langit-langit rumah Pak Zachim. 

Salah satu karya Masmundari yang ia pigorakan.





Pria yang juga aktif menjadi bendahara komunitas Masyarakat Cinta  Sejarah dan Budaya Gresik (Mataseger) mengaku sejak kecil memang menyukai lukisan damar kurung. "Dari kecil suka, apalagi yang bikin Mbah Masmundari," ungkap pengusaha kos-kosan itu.

Jaman dulu, ia membeli karya-karya itu dengan harga yang sangat murah. "Ada yang saya beli hanya seharga seribu rupiah," jelasnya. namun, seiring dengan melonjaknya ketenaran lukisan alm. Mbah Masmundari, ia mengaku karya-karya itu bisa dijual lagi dengan harga yang melambung tinggi. "Kalau sekarang dijual bisa sampe Rp 5 juta," ungkapnya. Jadi, bayangkan sendiri berapa uang yang didapat bila menjual 70 koleksinya.

Koleksinya juga ada yang masih berbentuk lembaran ukuran kecil.

Zachim, membeber koleksi lembaran lukisan damar kurung berukuran sedang.
Namun, dirinya mengaku tak asal menjual koleksi itu. "Koleksi ini saya jual ke museum dan hanya kepada orang-orang yang bisa dipercaya," jelasnya. hal itu ia lakukan agar karya-karya Masmundari bisa ditelusur. "Sayangnya, banyak karya mbah masmundari yang hilang jejak," ucapnya. Kuz9

Ia juga pernah menemukan damar kurung kuno buatan Kyai Untung, Paman dari Masmundari. ukuran damar kurung itu lebih besar dan memuat cerita yang lebih banyak.