Tampilkan postingan dengan label Catatan Ngeluyur. Tampilkan semua postingan

Tren pendakian ke gunung tujuan wisata terasa makin populer saja akhir-akhir ini. Begitu yang saya rasakan saat naik ke Gunung Penanggung...


Tren pendakian ke gunung tujuan wisata terasa makin populer saja akhir-akhir ini. Begitu yang saya rasakan saat naik ke Gunung Penanggungan sabtu (29/9) lalu. Pendakian kali kedua tersebut melewati jalur Tamiajeng, Trawas, Mojokerto. Beberapa hari sebelum pendakian banyak yang bilang Penanggungan sangat ramai pada weekend. Ternyata statement itu bukan hanya sekedar isapan jempol.

Di tempat penitipan, deretan motor sudah berjubel. Itu kalau dihitung ada lah sekitar 100 unit. Nah kalau satu motor dinaikin dua orang. Itu berarti ada 200 orang yang mendaki Penanggungan malam itu. Belum lagi yang bawa mobil. Saat kami start mendaki pukul 20.00 WIB ternyata pendaki lain masih terus berdatangan.

Entah gelombang tren macam apa yang bisa membuat Penanggungan kini jadi opsi tempat malam mingguan pengganti mall atau cafe. Apa iya efek film 5 cm sehebat ini? Tapi efek film itu kan berlaku drastis pada pendakian Semeru. Masak iya sampai menular ke Penanggungan yang notabene gunung paling dekat dari Surabaya. Ahh syudahlah.. Males mikir.

Akibat tingginya angka pendaki tiap weekend itu ternyata membuat Penanggungan rasanya mulai tidak nyaman lagi. Ujung-ujungnya mirip lah dengan nasib Everest saat ini. Makin banyak orang awam yang pengen mendaki. Menjadikan gunung tempat yang sesak dan kotor.

Kapal Gili Iyang sandar di dermaga baru Pulau Bawean.  Bawean, Bagi saya adalah pulau dengan segudang potensi wisata serba ada. Mulai da...

Kapal Gili Iyang sandar di dermaga baru Pulau Bawean. 
Bawean, Bagi saya adalah pulau dengan segudang potensi wisata serba ada. Mulai dari gunung, danau, pantai pasir putih, air terjun, sampai air panas pun ada disana. Letak bawean juga bisa dibilang cukup strategis untuk jadi primadona traveling baru. Karena, tidak jauh dari ibukota Jawa Timur, Surabaya.
Bawean yang berjuluk Pulau Putri masuk wilayah Kabupatèn Gresik. Dari Surabaya hanya perlu berkendara sekitar 45 menit. Baru untuk menyeberang ke pulau dengan kontur berbukit-bukit itu perlu menggunakan kapal dari pelabuhan Gresik. Ada dua pilihan kapal. Mau yang cepat atau lama sampai. Yaitu kapal cepat ekspress bahari milik swasta, atau kapal ASDP Gili Iyang subsidi pemerintah.

Bagi traveler kere alias kismin (miskin) seperti saya ini pilihan yang tepat tentu yang murah. Namun, alasan yang lebih penting, Kapal Motor Penumpang (KMP) Gili Iyang adalah kapal Jenis ro-ro yang bisa mengangkut kendaraan bermotor. Sehingga saya bisa puas traveling ala touring dengan motor pribadi. Dengan begitu bisa menghemat uang daripada harus menyewa motor disana. Selain itu,  juga bisa hemat Pengeluaran bensin. Tinggal isi full tank, motor sudah bisa dibuat keliling Bawean. Maklum, harga seliter bensin di Bawean Rp 8 ribu. Itu karena tidak ada SPBU Pertamina disana. Yang ada hanya Pertamini alias eceran.

Memang, kendaraan paling oke buat eksplor Bawean adalah dengan motor. Disana tidak ada kendaraan umum yang ready 24 jam. Yang ada hanya mobil Mitsubishi Colt yang oleh penduduk lokal disebut 'Kol'. Itu pun hanya semacam angkutan antar jemput untuk emak-emak berbelanja ke pasar. Alasan lainnya,  lokasi objek wisata di bawean sebagian besar tidak nyaman ditelusuri menggunakan mobil. Sebab, disana jalan desa kebanyakan sempit-sempit.

Kapal Gili Iyang berangkat dari Pelabuhan Gresik hanya seminggu sekali. Yaitu pada jam 21.00 WIB tiap hari Jumat. Tiket untuk motor berbeda dengan tiket penumpang. Harganya Sedikit lebih mahal. Berikut beberapa info penting cara bawa motor ke Bawean :

- Harga tiket untuk motor dari pelabuhan Gresik Rp 93 ribu (tiket penumpang Rp 74 ribu). Sewaktu beli tunjukkan ijin bawa kendaraan dari polisi.
- Ijin bisa diurus di  Polsek Pelabuhan Gresik. Bawalah dua kopi STNK dan KTP. Siapkan uang administrasi. Kasih saja polisinya Rp 5 ribu. (Saya heran, padahal sudah ada papan pengumuman  ijin tidak perlu biaya).
- Siapkan uang Rp 40 ribu sebagai ongkos angkut motor ke dalam kapal untuk para portir. Hal ini dikarenakan pintu ro-ro Kapal Gili Iyang tidak bisa terbuka di dermaga Pelabuhan Gresik.
- Sedangkan dari Pelabuhan Bawean menuju Gresik tiket motor dijual lebih murah yaitu Rp 81 ribu. Berangkat dari sana tidak perlu ongkos portir karena pintu ro-ro bisa terbuka di dermaga barunya. Sehingga motor bisa dikendarai keluar masuk kapal.
- Kalau tidak ingin ribet dengan ongkos portir di dermaga Gresik, penyeberangan bisa dilakukan melalui Pelabuhan Paciran, Lamongan. Di sana kendaraan tinggal keluar masuk kapal.
- Total dana PP yang dibutuhkan via pelabuhan Gresik = Rp 259 ribu.

Berikut jadwal Pelayaran Kapal Gili Iyang :
Gresik - Bawean hari Jumat jam 21.00
Bawean -  Gresik hari Jumat jam 9.00
Paciran - Bawean hari Rabu jam 21.00
Bawean - Paciran hari Minggu jam 9.00

- Tiket bisa dibeli pada jam 11.00 - 15.00 pada hari Rabu Kamis dan Jumat.
- Pelayaran ditempuh sekitar 7 jam.
- Gili Iyang relatif tidak terpengaruh gelombang tinggi. Tidak seperti kapal cepat ekspress bahari yang sering tertunda keberangkatannya akibat gelombang setinggi 3 meter.
- Contact person pelayaran Dodot 08123176850 Zul 08123273170 wildan 08123291085

Nah semoga sekelumit info diatas bisa bermanfaat dan menepis anggapan bahwa menuju bawean itu ribet dan bikin deg deg ser. Traveling ke bawean penuh dengan destinasi berkelas internasional. Namun kebanyakan semua masih perawan. Kuz9

Bersambung....

Cemara udang di gundukan Pantai Slopeng.  "Pantai tak selalu panas. Pantai Slopeng di Sumenep ini malah bisa untuk mencari hawa sej...

Cemara udang di gundukan Pantai Slopeng. 
"Pantai tak selalu panas. Pantai Slopeng di Sumenep ini malah bisa untuk mencari hawa sejuk. Ya, itu karena hutan cemara udang yang tumbuh di gundukan bukit pasirnya"

Bila berkunjung ke Sumenep, tak lengkap rasanya kalau tidak mampir sejenak ke Pantai Slopeng. Pantai di pesisir utara Madura dengan panorama unik ini tak kalah cantik dengan Pantai Lombang yang sudah terkenal.

Pantai Slopeng terletak di Desa Semaan, Kecamatan Dasuk, Sumenep. Jaraknya 21 kilometer dari pusat kota. bila ditempuh dengan kendaraan bermotor memakan waktu tempuh  kurang lebih 30 menit. Bila berkendara dari Surabaya waktu tempuh menuju pantai ini mencapai 3 jam. Bisa melewati jalur pantura Madura atau jalur pesisir selatannya. Saya memilih berangkat via jalur pantura. Sewaktu berkendara, hamparan pantai pesisir utara Madura jadi pemandangan perjalanan. Namun, lebih baik kalau ingin cepat sampai gunakanlah jalur selatan. Karena jalur pantura Madura merupakan jalan alternatif, sehingga kualitas jalan tidak sebaik Jalur selatan.

Pintu masuk. 
Begitu sampai, baliho selamat datang menyambut traveler usai pintu masuk. Tulisannya standar banget. "Selamat Datang di Pantai Slopeng". Hanya itu. Tidak ada jargon andalan destinasinya sama sekali. Kayaknya pemkab melalui disbudpar-nya perlu bikin nih. tentu yang cocok dengan kesan traveler akan Gundukan pasir dan rindang pohon cemara udang disana.

Memang, itu lah yang membuat pantai ini berbeda dengan pantai kebanyakan. Pantai Dengan hamparan pasir putih krem sepanjang 6 kilometer tersebut tidak hanya bisa dibuat berjemur. Tapi juga mendinginkan diri dengan hawanya yang sejuk. Rerimbunan pohon tumbuh di bibir pantai. Paling banyak adalah pohon cemara udang. Sehingga Seolah kita berjalan di hutan cemara udang yang bikin adem. Cocok buat berteduh usai kepanasan main di pantai.

Ada yang bilang pohon cemara udang itu berkaitan dengan ekspedisi Kekaisaran Tiongkok pada jaman kerajaan Majapahit. konon, bibit pohon Cemara udang dibawa oleh prajurit yang terdampar di perairan utara Sumenep. Pohon itu juga terdapat di Pantai Lombang dan beberapa pantai di pesisir Cina.

Cemara udang itu tumbuh di pasir pantai yang konturnya unik banget. Kalau pantai kebanyakan hampir permukaannya rata. Tapi di Pantai Slopeng, kontur pasirnya menggunung. Sehingga terlihat seperti gundukan pasir. Di sana juga sudah terdapat gazebo untuk berteduh.




Tapi sekali lagi harap maklum dengan tabiat kebanyakan wisatawan indonesia. beberapa sudut pantai yang indah terpaksa harus mengalah oleh sampah pengunjung. Mulai dari botol bekas sisa makanan dan puing rokok. Namun, overall pantai ini memang layak untuk dikunjungi dan jadi alternatif destinasi Keluyuran. Kuz9

Air Terjun Nglirip di Tuban yang dihiasi pelangi "Siapa sangka Tuban punya air terjun yang begitu menakjubkan. Namanya Air Terju...

Air Terjun Nglirip di Tuban yang dihiasi pelangi

"Siapa sangka Tuban punya air terjun yang begitu menakjubkan. Namanya Air Terjun Nglirip. Kecantikan air terjun ini ternyata satu paket dengan kisah seramnya. Warga lokal percaya, air terjun ini bisa membuat sepasang kekasih putus hubungan alias menjomblo"

Bagi traveler yang suka dengan panorama air terjun, jangan lupa menyempatkan waktunya jalan-jalannya ke Tuban. Siapa sangka ada air terjun cantik disana. Tepatnya di Desa Mulyoagung, Kecamatan Singgahan yang berjarak kurang lebih 35 kilometer dari pusat kota Tuban. Perjalanan saya menggunakan motor ditempuh kurang lebih selama dua setengah jam dari Gresik.

Papan penanda lokasi. 
Pintu masuk air terjun persis di pinggir jalan. Yang terlihat dari sana hanya sebuah bendungan bernama Bendung Nglirip. Awalnya saya tidak menyangka telah sampai. Namun setelah memastikannya kepada seorang warga lokal, baru saya yakin.
Rupanya bendungan tersebut merupakan  bagian atas air terjun. Maklum, destinasi ini masih dikelola oleh warga desa. Sehingga tidak ada penunjuk jalan yang memudahkan traveler.

Air terjun nglirip di siang hari 


Masjid Kapitan Keling di George Town, Penang.  "Ada bayak masjid di nusantara yang dikelola oleh kalangan minoritas. Seperti Mas...

Masjid Kapitan Keling di George Town, Penang. 

"Ada bayak masjid di nusantara yang dikelola oleh kalangan minoritas. Seperti Masjid Cheng Ho yang dikelola oleh warga Tionghoa muslim. Namun, Di negeri jiran Malaysia, tepatnya di George Town Terdapat Masjid Kapitan Keling. Masjid tertua tersebut dibangun dan dikelola oleh komunitas india muslim"

George Town di Pulau Pinang merupakan ibukota negara bagian Penang, Malaysia. Kota ini terkenal dengan wisata heritage, khususnya bangunan tua. Tidak hanya kuno, arsitektur bangunannya masih terjaga dengan apik. Mulai dari rumah warga, gedung pertokoan, pemerintahan, kuil, dan tempat ibadah. Bentuk bangunannya kini tidak jauh beda pada saat kota itu didirikan di abad ke-18 oleh pedagang dari Inggris, Sir Francis Light.

Tahun 2008, George Town sempat mendapat julukan the World Heritage dari UNESCO. Perhatian kepada bangunan tua memang jadi fokus utama.  Sampai-sampai, pemerintah kota memberikan insentif kepada warganya yang merawat bangunan tua.

Pemerintah kota menetapkan beberapa zona khusus untuk perlakuan bagi bangunan tua. Zona paling inti berwarna hijau. Artinya bangunan apapun yang masuk di wilayah itu tidak boleh diubah sama sekali bentuk dan fungsinya. Di luar zona itu ada zona kuning. Artinya bangunan diperbolehkan untuk diubah.

Kebanyakan bangunan bersejarah penting yang menjadi tetenger alias landmark kota George Town ada di zona hijau. Seperti Fort Cornwellis, Penang Peranakan Mansion, Khoo Kongsi temple. Yang coba saya kunjungi adalah Kapitan Keling Mosque. Masjid ini merupakan masjid tertua yang dibangun oleh warga pendatang dari India pada tahun 1801.

"Saking besar penghasilannya kala itu, pengrajin emas di Giri sempat merasa was-was, karena bisa jadi rumah mereka disatroni maling...

"Saking besar penghasilannya kala itu, pengrajin emas di Giri sempat merasa was-was, karena bisa jadi rumah mereka disatroni maling"
Dengan alat sederhana, pengrajin emas di Giri, Kabupaten Gresik membuat cincin emas yang dikerjakannya di salah satu sudut kamar rumah. 
Spak ruji sepeda digunakan untuk membentuk cincin.
Tidak hanya Jogja dan Bali, Gresik juga punya sentra kerajinan emas. Salah satu yang saya kunjungi saat ngeluyur adalah seorang pengrajin di Desa Giri, Kecamatan Kebomas Gresik.

Uniknya, mereka mengerjakan aneka ragam perhiasan emas hanya di kamar rumahnya. Memang, kerajinan emas di Desa Giri kebanyakan dikerjakan rumahan, tapi jangan salah, hasilnya tidaklah "murahan".

Suasana benteng yang sepi, usai kami melintasi plang "dilarang masuk". Benteng Kedung Cowek ditumbuhi semak belukar lebat....

Suasana benteng yang sepi, usai kami melintasi plang "dilarang masuk".
Benteng Kedung Cowek ditumbuhi semak belukar lebat. Kabarnya, masih ada ranjau aktif di sekitarnya.
Sabtu, 9 Februari lalu, saya dan tiga orang teman mencari reruntuhan benteng bernama "Kedung Cowek" di pesisir utara Surabaya. Awalnya kami sempat tak tahu arah, hanya saja, menurut informasi yang saya dapat, benteng itu berada di dekat Jembatan Suramadu, daerah Tambak Wedi, Kedung Cowek, Surabaya.

Sampai di Suramadu kami bertanya pada pria yang sedang asyik nongkrong. "Benteng yang mana dulu mas, ada dua yang benteng sekolahan apa yang gudang peluru?" ia malah balik bertanya. Seorang teman pernah mengatakan bila ada yang namanya gudang peluru, akhirnya saya jawab saja demikian."Oh kalau itu disana tempatnya mas," ia berkata sambil menunjuk ke arah semak belukar tinggi di sebelah timur Suramadu.

"Suka Batik? Aneka batik dari 16 kabupaten di Jatim ada di Rumah Batik Jawa Timur" Pintu masuk dari depan. Bagi kamu pecinta...

"Suka Batik? Aneka batik dari 16 kabupaten di Jatim ada di Rumah Batik Jawa Timur"
Pintu masuk dari depan.
Bagi kamu pecinta batik nusantara yang sedang mampir di Surabaya, silahkan saja kunjungi Rumah Batik Jawa Timur. Butik yang juga museum yang berisi koleksi batik-batik kuno Jawa Timur itu terletak Jl. Kusuma Bangsa, tepatnya di Gang Tambak Dukuh I No.4 Rt.01/RW.09. Bila bingung, cari saja gang sebelah BRI samping THR Mall Surabaya.

Disana, selain kamu bisa membeli kain dan baju batik, kamu juga bisa melihat koleksi batik-batik nusantara di Rumah Batik. Kebanyakan batik yang dikoleksi adalah batik-batik Jawa Timur dari 16 kabupaten. Mulai dari Sumenep, Pamekasan, Sampang, Bangkalan, Sidoarjo, Tuban, Lamongan, Batu, Malang, Kediri, Jombang, Banyuwangi, Pacitan, Jember, Tulungagung dan Surabaya. Yah, batik dari Madura dan batik pesisiran lebih banyak mendominasi koleksi.

Om Don Hasman Fotografi tidak hanya sebatas proses mengambil gambar semata tapi juga diyakini dapat memberikan kepuasan tersendiri bagi ...

Om Don Hasman
Fotografi tidak hanya sebatas proses mengambil gambar semata tapi juga diyakini dapat memberikan kepuasan tersendiri bagi fotografer. Kepuasan tersebut bahkan dipercaya bisa menambah semangat dan motivasi hidup seseorang, seperti yang telah dirasakan oleh Don Hasman, salah satu fotografer senior Indonesia yang masuk dalam 100 fotografer petualang dunia.

Saat saya temui dalam acara diskusi “Travel Photography” (2/4) yang diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Airlangga Photography Society (UKM APS) di Aula Gedung Student Center, kesan bersahaja tampak pada diri Om Don, sapaan akrabnya. Menginjak usianya yang genap 72 tahun, semangat kakek itu menyala saat diajak  berbicara soal fotografi. Om Don membahas tentang ethnophotography, salah satu cabang fotografi yang membahas tentang kebudayaan suatu suku di pedalaman. Biasanya cabang ini digunakan oleh antropolog sebagai bahan kajian penelitian etnis.

Mang Odon, Tukang Nyolong Foto
Foto-foto keseharian orang Kanekes, atau Suku Baduy Ia ceritakan dalam acara itu. Butuh waktu 8 tahun bagi Om Don untuk diterima masyarakat Suku Baduy. Menurutnya itulah yang menjadi kendala memotret suku di pedalaman yakni butuh waktu yang sangat panjang. “Meski sudah kenal akrab dan diterima oleh orang Baduy, tetap saja pemotretan dilakukan secara diam-diam karena ada larangan untuk mengambil gambar,” kata Om Don. Di lingkungan orang Baduy Om Don sampai –sampai dipanggil dengan sebutan Mang Odon, “Si Tukang Nyolong Foto”.

Meski Om Don mengakui banyak kesulitan yang dihadapi, etnofotografi banyak memberikan manfaat. “Memang tidak mudah, tapi saya mencoba untuk mengabdi pada ilmu pengetahuan dengan kamera yang saya bawa,” terang Om Don.

Selama 37 tahun, sebanyak 500-1000 foto rekaman kehidupan Suku Baduy Dalam dan Suku Baduy Luar ia berhasil ia abadikan. Foto-foto tersebut telah digunakan banyak peneliti sebagai bahan kajian etnis dan budaya orang-orang Baduy. Ia merekam hampir semua aspek kehidupan orang Baduy, mulai dari pakaian, rumah adat, kesenian hingga upacara yang bersifat sakral.

Fotografi Perjalanan
Om Don juga membagikan beberapa tips seputar fotografi perjalanan (Travel Photography), cabang dalam fotografi yang merekam proses perjalanan dari awal hingga akhir. Menurutnya, sangat penting untuk peka akan momen, komposisi, arah pencahayaan, sudut dan format pemotretan. “Dokumentasi foto perjalanan itu sama dengan foto jurnalistik. Namun sifatnya tidak harus seaktual jurnalistik,” terang Om Don.
Selain itu, Ia menyarankan untuk banyak menambah referensi tentang tempat destinasi perjalanan. Hal itu penting dilakukan untuk menyusun konsep foto yang nantinya diambil. “Kalau anda melihat apa yang menurut anda bagus, jangan ragu-ragu untuk merekamnya,” kata Om Don.

Berbagai rekam perjalanan yang pernah ia abadikan lewat foto dan tulisan antara lain perjalanan ke Everest Base Camp (EBC), tahun 1978, tracking sejauh 1000 Km dari Saint Jean Pied de Port, Perancis Selatan, hingga Katedral Santiago de Compostela, Spanyol menelusuri napak tilas santo Yakobus. Sebanyak 14.000 frame telah ia abadikan di tiap perjalanan.

Om Don berpendapat untuk manjadi fotografer diperlukan keinginan untuk maju dan kritis. “Masih banyak objek yang masih prelu digali, ditambah teknologi kamera sudah semakin maju, jadi ambillah foto yang tidak biasa diambil orang, Jangan ngekor saja.” tegasnya.

Meski nama besar Don Hasman di dunia fotografi Indonesia sudah tersohor, kesan low profil dan tak pelit ilmu tampak saat bertemu dengannya. “Saya kaget ketika Om Don menolak fee dari kami, ia malah tidak mau memberi materi kalau kami bayar,” terang Agus Fariansyah, ketua pelaksana kegiatan itu.
“Memotret seolah membuat anda hidup,” ungkap Om Don. Saat ditanya Warta kapan akan berhenti memotret, Ia menjawab, “Sampai tidak bisa jalan kaki lagi,” katanya setengah bercanda. Kuz9


Pintu masuk pertunjukan Dengan bantuan Kolo Marico yang dapat berubah menjadi kijang kencana untuk menggoda Rama, Sinta dan Laksmana, ...

Pintu masuk pertunjukan
Dengan bantuan Kolo Marico yang dapat berubah menjadi kijang kencana untuk menggoda Rama, Sinta dan Laksmana, Rahwana berhasil menculik Dewi Sinta. Burung Jatayu mencoba menyelamatkan, tapi gagal dan jatuh ke bumi. Sebelum tewas, Jatayu sempat memberitahu Rama bahwa Dewi Sinta Telah diculik....

Begitulah penggalan sinopsis Sendratari Ramayana yang dipentaskan di Gazebo Garden Restaurant di Jl. Brigjen Katamso, Jogja. Pertunjukan yang melegenda itu menyuguhkan ragam kesenian asli Jawa dalam satu panggung. Bagaimana tidak, kesenian tari, drama, musik gamelan dan sedikit akrobatik mewarnai pertunjukan itu. Kisah Ramayana dirangkum dalam empat babak, mulai dari penculikan Dewi Shinta, Hanoman ke Alengka, kematian Kumbokarno hingga pertemuan kembali Rama-Sinta.

Yang menarik, panggung pentas yang dilakoni oleh para seniman Ramayana Ballet tersebut telah mendapat penghargaan rekor MURI. Pada tahun 2001, mereka memecahkan rekor untuk kategori 'Pentas Pertunjukan Tida Henti' selama 29 tahun. Wow, Begitu tinggi komitmen mereka untuk melestarikan tari tradisional tersebut.

Uniknya, lakon dalam sendratari juga ada yang diperankan oleh anak-anak. Mereka memerankan pasukan Hanoman. Hebatnya lagi, anak-anak itu lincah melakukan akrobat. Berjalan di atas genteng lalu meloncat ke sisi genteng lain. Betul-betul pertunjukan yang keren. Well, sudah saatnya kita bangga pada seni dan budaya bangsa. Kuz9

Pertunjukan Sendratari Ramayana Outdoor di Gazebo Garden Restaurant, Jogja. Banyak juga bule yang liat ternyata.
Sihir Hindrajit untuk menangkap Hanoman.
Rahwana memerintahkan untuk membakar hidup-hidup Hanoman yang tertangkap.
Dewi Sinta (tengah) yang ditawan
Pasukan Rama dan Hanoman bersatu untuk merebut Dewi Sinta.

Seorang peselancar membawa surfboard-nya untuk menjajal ombak Pantai Ngantep. Berusaha menyeimbangkan diri di tengah gulungan Ombak. ...

Seorang peselancar membawa surfboard-nya untuk menjajal ombak Pantai Ngantep.
Berusaha menyeimbangkan diri di tengah gulungan Ombak.
Malang ternyata punya pantai yang jadi tempat 'bermain' para surfer menikmati gulungan ombak besar. Namanya Pantai Ngantep, di Malang Selatan ternyata memiliki ombak yang tak kalah dibanding surfing spot terkenal di indonesia sekaliber Pantai Kuta dan Plengkung. Bibir pantai yang luas serta bebas dari karang menjadi destinasi yang cocok bagi anda penggila surfing.

Tidak hanya untuk kaum pro saja, bahkan anda yang ingin belajar surfing pun bisa melakukannya di pantai ini. Meski gulungan ombaknya cukup besar, sampai jarak 10 meter dari bibir pantai saja ketinggian air lautnya masih dangkal. Jadi, jangan kawatir, kamu tidak akan tenggelam meski tidak pandai berenang.

Pantai Ngantep berada di bawah pengelolaan pihak Perhutani Malang. Meski dibuka baru setahun lalu, fasilitas yang dibutuhkan untuk wisata singkat disana sudah tersedia. Disana telah dibangun kantor wisata dan lahan parkir. "Kalau tahun baru kesini ini pasti ramai pengunjung," kata Pak Supii penjaga di kantor wisata Pantai Ngantep. Lebih lanjut, ia berujar, ternyata para surfer dari negeri kangguru juga sering kesana untuk menjajal ombok pantai itu saat musim liburan.


Penginapan murah meriah di Ngantep juga sudah tersedia.
Di lokasi ini juga telah tersedia penginapan yang tarif per malamnya hanya Rp 100 ribu. Jangan kawatir, Mau diisi berapa orang per kamar, itu terserah kamu. Saya menginap semalam dengan dua kamar ber-10 anak hanya kena Rp 200 ribu. Artinya, kalau dibagi jadi per orang cuma kena Rp 20 ribu.

Ingin cari makan juga tidak susah, dekat dengan kantor wisata ada warung nasi. Tak hanya itu, penduduk desa yang dekat dengan penginapan juga banyak warga yang membuka kios dan warung kopi. "Kalau disini warga desa juga ikut diberdayakan, dibawah pengelolaan Perhutani juga," jelas Pak Supii.


Pantai kedua di Ngantep yang lebih sepi dan eksotis.
Ada Pantai Kedua dan Goa

Makam di atas bukit di Pantai Ngantep
Ada dua pantai di Ngantep yang wajib kamu kunjungi. Pantai pertama yang luas, biasanya disini lebih ramai (foto pertama). Sementara, pantai kedua yang lebih sepi berada di sisi barat. Ikuti saja jalan setapak usai makam salah seorang leluhur di bukit dekat pantai, maka anda akan dibawa jalan setapak turun menuju pantai kedua yang lebih sepi dan lebih eksotis.

Tak hanya pantai, disana anda juga bisa berwisata religi ke Gunung Batok, sebuah tempat yang saya ceritakan tadi, bukit yang di atasnya terdapat makam leluhur. Yang unik, di bawah bukit itu kamu juga akan menemukan goa berukuran kecil yang bernama Goa Batok. kedua tempat tadi sering dipakai pengunjung dari luar untuk menyepi dan bertapa. 

Sayangnya, kalau kamu kesini siap-siap kendaraan yang kamu tumpangi menjadi korban. Pasalnya, jalan ke Pantai Ngantep bukanlah aspal tapi tarmac road alias jalan tanah. Bila musim hujan, tak ayal jalan susah dilalui, hati-hati roda anda terjebak di lumpur. Fiuh! andai jalan kesana lebih halus, pasti potensi Ngantep sebagai wisata di Malang Selatan bisa jadi solusi pemberdayaan masyarakat pesisir. Kuz9
Entrance Goa Batok. Banyak peziarah yang melakukan ritual bertapa disini.

Rudi Isbandi (kanan) memperlihatkan karyanya di galeri yang terletak di bagian belakang rumahnya. Mungkin, banyak orang tidak tahu bil...

Rudi Isbandi (kanan) memperlihatkan karyanya di galeri yang terletak di bagian belakang rumahnya.
Mungkin, banyak orang tidak tahu bila ada museum yang mengoleksi benda seni rupa di dekat Kampus B Unair. Bahkan, saya sendiri yang selama kuliah empat tahun lebih tidak pernah kesana. Setelah kerja, eh kog baru tahu ada Museum Rudi Isbandi (MRI) dan aku berkesempatan mengunjunginya Sabtu (1/12).

Nah, MRI terletak di Jl. Karang Wismo I no. 10 Surabaya. Dari Kampus B Unair masuk saja lewat Jl. Srikana lurus saja sampe ada gang di depan tulisan mie neraka. Museum ini buka mulai pukul 08.00-12.00 WIB dan buka lagi pukul 16.00-21.00 WIB. Sebaiknya, kunjungan dilakukan sebelum petang hari, sebab galerinya menggunakan pencahayaan alami.

Untuk masuk museum, anda akan dikenakan tarif Rp 5000 namun sifatnya sukarela. Dengan tarif goceng, anda bisa melihat koleksi lukisan yang berharga bisa mencapai ratusan juta rupiah. Tak perlu khawatir kalau nantinya anda bingung memahami arti lukisan, Rudi Isbandi langsung yang akan menemani kita sembari menjelaskan arti setiap lukisan. Total ada 200 benda seni rupa yang ia pajang rapi di museum yang juga rumah tinggalnya itu.

Galeri seni rupa di Museum Rudi Isbandi yang terletak di loteng lantai dua rumahnya.
Pencahayaan matahari langsung menggantikan lampu di Musuem Rudi Isbandi.
Maestro Lukis
Rudi Isbandi sendiri sebenarnya seniman terkenal di Surabaya, malah sudah maestro levelnya. Ia pernah menjadi ketua Dewan Kesenian Surabaya (DKS) juga pernah mendapat penghargaan dari pemerintah Mesir dan Jawa Timur. "Saya melukis sudah 60 tahun," kata kakek kelahiran 1937 itu.

Rudi dengan latar belakang salah satu karyanya yang terbuat dari botol minuman bekas.
Sepintas bila melihat karyanya, anda akan merasa heran atau bingung. Bagaimana tidak, lukisan Rudi Isbandi tidak hanya berupa goresan cat di atas kanvas, Gir sepeda, mur baut, pcb radio rusak, plat kuningan, gergaji pun disulapnya menjadi lukisan yang kesannya jauh dari alam bawah sadar. "Sudah saatnya melukis tidak hanya lewat cat dan kanvas saja," kata maestro seni mix media itu.

Menurutnya, seni lukis menggunakan media cat dan kanvas itu sudah sangat kuno. "Itu sih jamannya picasso, sekarang seni itu tidak saja memandang estetika," ketus pelukis yang berhenti memakai media cat dan kanvas sejak tahun 2000 itu.

Aksara jawa di lukisannya, menjadi ciri khas Rudi Isbandi.
Kini dunia lukis yang ia geluti adalah lukisan kontemporer, yang tujuannya menciptakan benda seni, bukan hanya sekedar lukisan. Jadi, anda jangan heran kalau benda-benda usang yang ia susun dalam satu bingkai ia anggap lukisan.

Salah satu karya Rudi Isbandi yang habis dimakan rayap
Ia mengaku lukisan yang pernah mendapat penghargaan nasionalnya pernah habis dimakan rayap. "Baik saatnya kamu (lukisan) yang mati duluan, nanti mungkin tiba waktu untuk saya," kata pelukis yang pernah tiga tahun berguru pada Affandi, maestro lukis Indonesia.

Museum Rudi Isbandi adalah museum seni rupa keenam yang ada di Indonesia. Sejak tahun 1970 sampai sekarang, Rudi terus menciptakan karya di galeri rumahnya. "Habis gini saya mau buat karya dari shock breaker sepeda motor," kata maestro yang suka jalan kaki kemana-mana. Dalam kesehariannya di rumah, ia selalu ditemani Sunarti, istrinya. Sepasang kakek nenek itu menjalani masa tua yang indah, hidup ditemani benda seni yang istimewa, menurutku. Kuz9

Fotografer LKBN Antara, Regina Safri menjelaskan foto karyanya kepada pengunjung pada saat pembukaan pameran foto "Orangutan Rhyme ...

Fotografer LKBN Antara, Regina Safri menjelaskan foto karyanya kepada pengunjung pada saat pembukaan pameran foto "Orangutan Rhyme and Blues" di House of Sampoerna, Kamis (8/11). Pameran foto yang berlangsung tanggal 9 November hingga 2 Desember itu mengajak pengunjung untuk lebih peduli akan nasib orangutan yang semakin kritis.
Rere menorehkan tanda tangan di poster pameran fotonya.
Kamis, (8/11) kembali aku mengunjungi House of Sampoerna (HOS) untuk melihat pembukaan pameran foto "Orangutan Rhyme & Blues" karya pewarta foto Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara Regina Safri.

"Awalnya saya liat liputan pembantaian orangutan di salah satu stasiun tv asing. Kog disiarin terus-terusan, akhirnya tergerak untuk kesana. Ternyata benar, malah keadaannya jauh lebih parah dari yang digambarakan di tv," tutur Rere, sapaan akrab Regina Safri.

Pengunjung melihat foto bayi-bayi orangutan di penangkaran.
Rere lantas mengumpulkan uang dengan cara menabung untuk berangkat kesana, bahkan ia sampai menjual kipas angin miliknya. "Saya niatin ke diri sendiri dan berjanji untuk menjadikan ini proyek foto yang mengispirasi banyak orang, bukan hanya untuk peliputan berita saja," ungkapnya. Proyek foto yang dimulai akhir tahun 2011 itu pun rampung di pertengahan 2012. Selanjutnya, ia membuat buku foto tentang perjalanannya di Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) Kalimantan Timur.

Lebih jauh, ia mengingatkan, orangutan bukan hanya satwa mau punah yang harus diselamatkan tapi ia punya fungsi terhadap hutan. "Dia melindungi tanaman di hutan. contohnya, orangutan menggigit biji Pohon Ulin. yang sangat keras sampai terbuka. Biasanya biji itu ia bawa menjelajah dan disebarkan sehingga tumbuhlah Pohon Ulin di hutan," katanya.
Seorang pengunjung mengamati foto bagaimana induk orangutan membesarkan bayi dalam gendongannya.
Rere berharap karya fotonya bisa membuat pengunjung yang melihatnya tahu apa yang ingin disampaikan orangutan pada manusia. Semua donasi beserta hasil penjualan fotonya akan digunakan untuk konservasi orangutan. Pameran foto orangutan itu bisa anda kunjungi dari tanggal 9 November hingga 2 Desember nanti. Kuz9

Minggu, (4/11) Saya beserta kawan-kawan menyempatkan diri untuk mengunjungi Antique and Vintage Camera Exhibition di House of Sampoerna (HOS...

Minggu, (4/11) Saya beserta kawan-kawan menyempatkan diri untuk mengunjungi Antique and Vintage Camera Exhibition di House of Sampoerna (HOS) di wilayah Krembangan, Surabaya. Total ada 21 kamera generasi awal teknologi fotografi. Kebanyakan kamera tersebut masih berfungsi dengan baik, padahal tahun pembuatannya sangat udzur. Seperti kamera Lhagee Dresden Exacta yang dibuat di tahun 1930.

Koleksi kamera jadul tersebut merupakan kepunyaan dari tiga kolektor kamera kuno. Mereka adalah Henky Kurniadi, Hari Yong Condro dan Nanang Purwono. Kamera jadul yang dipamerkan beraneka tipe, mulai dari teknologi yang paling pertama yakni, kamera obscura, Twin Lens Reflex (TLR) dan Single Lens Reflex (SLR).

Kamera obscura
Kamera obscura yang lebih mini dan portable. Bagian tengahnya bisa dilipat dan dimasukkan ke bodi kamera.
Obscura

Obscura berasal dari bahasa latin yang bermakna kamar gelap. Cara kerja kamera ini merupakan teknologi kamera pertama dalam sejarah manusia. Cahaya masuk melalui lubang di depan, kemudian masuk di ruang gelap yang besar di bagian tengah kamera. Sementara, di bagian belakang terdapat media yang sangat peka cahaya, jaman dahulu menggunakan plat tembaga berlapis perak. Cahaya yang masuk tersebut membuat bayangan dan menghasilkan gambar pada plat yang sangat sensitif cahaya. Penemu obscura yang terkenal adalah Louis Daguerre yang kameranya dikenal dengan daguerreotype. Tekonologi tersebut menjadi titik tolak perkembangan kamera berikutnya dalam dunia fotografi.

Kamera TLR Rolleicord. Kamera ini merupakan kamera TLR terkenal di jamannya.
Kamera SLR jadul yang menjadi cikal bakal SLR digital (DSLR) yang kita nikmati sekarang.
TLR dan SLR

Seiring dengan kemajuan teknologi kamera, berkembang lah dua jenis kamera baru pasca kamera obscura yaitu Twin lens Reflex (TLR) dan Single Lens Reflex (SLR). sebetulnya perbedaaan dua kamera ini adalah pada jendela bidiknya (viewfinder).

Pada kamera TLR, apa yang dilihat fotografer pada viewfinder tidak sama dengan apa yang dilihatnya sebenarnya, karena viewfinder pada kamera TLR berada pada jalur lensa yang atas dengan cermin 45 derajat. Kamera TLR yang dipamerkan ada beragam merk, seperti kamera TLR populer Rolleicord buatan Franke dan Heidacke (1993) dan Yasicha 44 (1958). Selain itu ada pula kamera TLR pertama buatan jepang Ricoh Diacord, Kodak Folding Pocket Brownie, CP Goerz dan lain-lain.

Sementara, kamera SLR yang menjadi cikal bakal kamera SLR digital (DSLR)  masa kini memiliki satu jalur lensa. apa yang dilihat oleh fotografer akan sama dengan matanya melihat, karena viewfinder-nya tidak terpisah dengan lensa kamera tersebut. Beberapa kamera SLR jadul yang dipamerkan antara lain Lhagee Dresden Exacta Varex II a yang merupakan kamera SLR pertama di dunia. ada juga Leica Oro-Olimpiada 36, Voiglander Bexsa, Kodak Retinnete SIDA dan lainnya. Kuz9

Pelataran parkir masuk puing Pulau Cemeti yang basah usai hujan. Usai jalan-jalan menyusuri embong Malioboro dan hiruk pikuk pedagang ...

Pelataran parkir masuk puing Pulau Cemeti yang basah usai hujan.


Usai jalan-jalan menyusuri embong Malioboro dan hiruk pikuk pedagang Pasar Beringharjo, saya sempatkan waktu untuk naik becak menuju situs puing-puing reruntuhan Pulau Cemeti yang masih satu kompleks dengan Taman Sari, Sabtu (6/10). Saat berangkat, awan gelap pertanda hujan memang mengiringi kayuhan abang becak kami menuju puing bekas peristirahatan selir-selir raja yang mandi di Taman Sari itu. Dan benar, hujan deras perdana  tahun ini di Jogja pun turun sesampainya saya di depan pintu masuk Pulau Cemeti.

Atap bangunan Gedong Kenongo di Pulau Cemeti yang sudah hilang.
Agak lama, akhirnya hujan pun mereda, saya memutuskan masuk ke puing reruntuhan Pulau Cemeti yang terletak dekat di Pasar Burung Ngasem, Jogja. Nama Pulau Cemeti diambil karena dulunya merupakan pulau ditengah danau di sekitar situs Taman Sari. Namun, danau itu kini sudah berubah menjadi perumahan warga yang mengelilingi situs tersebut. Nah, bangunan yang sedang anda lihat itu adalah Gedong Kenongo. Bangunan itu digunakan sultan untuk mengawasi suasana kota dan untuk bersemedi. Konon, bila dilihat dari atas bentuk bangunan ini mirip dengan bentuk bunga teratai air. Sayangnya, atap bangunan ini telah runtuh dan air hujan pun turun lagi membasahiku. Kuz9

Hujan perdana tahun ini di kota jogja kembali turun di Pulau Cemeti.





Salah seorang pembeli terlihat sedang mencari model tas rajut Dowa. Jika anda ngeluyur   ke Yogyakarta, tidak ada salahnya anda mamp...

Salah seorang pembeli terlihat sedang mencari model tas rajut Dowa.


Jika anda ngeluyur  ke Yogyakarta, tidak ada salahnya anda mampir ke showroom tas rajut berlabel Dowa yang terletak di Jalan Godean km 7 Sidomoyo, Yogyakarta. Nama Dowa sendiri diambil dari bahasa sansekerta bermakna doa. Nama itu pun akhirnya sukses mengantarkan pemiliknya Delia Murwihartini menembus pasar mancanegara.

Delia memulai bisnis pembuatan tas dengan bahan pembuatnya didonimasi oleh benang rajut itu di tahun 1989. Menyadari tas rajut buatannya memiliki keunikan, ia mencoba peruntungan dengan memasuki pasar internasional.

Mujur memang, kegigihannya menembus pasar global membuat produk tas rajutnya dilirik oleh konsumen di luar negeri. Di Amerika, hasil karya pengrajin tas Dowa dipatenkan dengan merek The Sak. Sementara di Eropa tas rajut yang berpabrik di Sleman dan Kawasan Parangtritis ini tenar dengan merek The Read's. Dowa juga pernah masuk liputan Kick Andy episode "Karya Anak Bangsa di Pasar Dunia" Jumat, 12 Oktober 2012.

Karyawan Dowa serius membuat tas, sementara di belakangnya terdapat bahan baku benang rajut aneka warna.
Oia, bila anda mampir kesana sempatkanlah untuk menuju ke sudut paling belakang dari showroom. anda akan menemui karyawan Dowa yang sedang mengerjakan pembuatan tas. Siapa sangka, dari tangan-tangan merekalah tas lokal ini bisa membawa nama harum produk dalam negeri ke seantero dunia. Ternyata, tas Made in Indonesia pun tidak kalah dengan tas bermerk buatan asing. Jadi, apa anda akan bangga memakai produk dalam negeri sendiri? Kuz9

Seorang karyawan terlihat sedang memberi lem pada bagian pinggir tas. lem dibutuhkan untuk memperkuat rajutan.


Tas rajut warna-warni yang dikumpulkan di box, siap untuk dipasarkan.