Tampilkan postingan dengan label Lingkungan. Tampilkan semua postingan

Tren pendakian ke gunung tujuan wisata terasa makin populer saja akhir-akhir ini. Begitu yang saya rasakan saat naik ke Gunung Penanggung...


Tren pendakian ke gunung tujuan wisata terasa makin populer saja akhir-akhir ini. Begitu yang saya rasakan saat naik ke Gunung Penanggungan sabtu (29/9) lalu. Pendakian kali kedua tersebut melewati jalur Tamiajeng, Trawas, Mojokerto. Beberapa hari sebelum pendakian banyak yang bilang Penanggungan sangat ramai pada weekend. Ternyata statement itu bukan hanya sekedar isapan jempol.

Di tempat penitipan, deretan motor sudah berjubel. Itu kalau dihitung ada lah sekitar 100 unit. Nah kalau satu motor dinaikin dua orang. Itu berarti ada 200 orang yang mendaki Penanggungan malam itu. Belum lagi yang bawa mobil. Saat kami start mendaki pukul 20.00 WIB ternyata pendaki lain masih terus berdatangan.

Entah gelombang tren macam apa yang bisa membuat Penanggungan kini jadi opsi tempat malam mingguan pengganti mall atau cafe. Apa iya efek film 5 cm sehebat ini? Tapi efek film itu kan berlaku drastis pada pendakian Semeru. Masak iya sampai menular ke Penanggungan yang notabene gunung paling dekat dari Surabaya. Ahh syudahlah.. Males mikir.

Akibat tingginya angka pendaki tiap weekend itu ternyata membuat Penanggungan rasanya mulai tidak nyaman lagi. Ujung-ujungnya mirip lah dengan nasib Everest saat ini. Makin banyak orang awam yang pengen mendaki. Menjadikan gunung tempat yang sesak dan kotor.

Hari itu Sabtu, 17 April 2010 Aku dan rekan-rekan tim dikjut lingkungan hidup Wanala Unair berencana melakukan partisipasi pengamatan burung...

Hari itu Sabtu, 17 April 2010 Aku dan rekan-rekan tim dikjut lingkungan hidup Wanala Unair berencana melakukan partisipasi pengamatan burung bersama rekan-rekan dari Peksia Hima Biologi Unair. Mulanya kami berkumpul di sekretariat menunggu kedatangan teman-teman yang agak molor sehingga melebihi waktu keberangkatan. Setelah siap akhirnya kami menuju di depan kampus Stikom untuk berkumpul menuju lokasi pengamatan burung. Ternyata kami salah kira teman-teman dari Peksia sudah sampai di lokasi terlebih dahulu. Mungkin karena menunggu kedatangan kami yang dijanjikan semula jam enam tidak terlaksana karena malemnya anak-anak begadang hingga jam tiga pagi. Jadi kami langsung berangkat menuju lokasi pengamatan di pantai timur Surabaya tepatnya di kawasan Bosem Wonorejo. Perjalanan kesana awalnya mudah karena dari jalan pertama masuk ke bosem terdapat jalan beraspal, yah meskipun tidak sebagus jalan raya tapi lumayan lah. Namun tiba di kawasan pintu air bosem Wonorejo jalanan sudah berupa tanah liat plus lumpur dan genangan air terlebih lagi hari-hari kemarin hujan menggila sehingga kombinasi yang cocok untuk merasakan sensasi berkendara yang ekstrem. Tak jarang ban motor kami terjebak lumpur sehingga perlu saling bantu untuk lolos dari jeratan lumpur. Anak-anak dari Peksia yang sampai terlebih dahulu menyambut dan membantu kami melewati jalan becek itu.

Perjalanan ke lokasi yang heboh karena becek dan licin lumpur jalanan

Setelah genap seluruh tim berkumpul dan selesai persiapan tiba saatnya pengamatan burung di Bosem Wonorejo dimulai. Rencananya praktek pengamatan kali ini dibagi menjadi dua jalur. Yang pertama jalur Cici Merah dan kedua Jalur Umum. Di Jalur pertama ada Aku, Ravi, Rivo, Siti, Danti, Iba dan temen-temen dari Peksia. Sementara di Jalur Umum ada Yasak, Hajjah, Udin, Saras, Nida, Antok dan anak-anak Peksia. Beberapa peralatan kami bawa seperti binokuler, buku panduan lapangannya Mc Kinnon serta tak lupa alat tulis untuk mencatat jenis-jenis burung yang kami temui. Sebelum berangkat pengamatan kita berdoa terlebih dahulu. Beranjak dari titik start menuju pos pertama aku menjumpai beraneka jenis burung yang pertama kami lihat adalah mandar batu yang terlihat berenang mencari makan di tambak sebelah kiri rute kami. Masih dengan burung-burung di luar pos yang biasa disebut burng-burung oportunis antara lain yang aku temui adalah cangak merah, kuntul kecil, kuntul besar yang sedang terbang berkelompok saat sebanyak lima ekor. Kemudian ada dara laut yang aku jumpai juga sedang terbang, ada pula kokokan laut dan tekukur biasa yang bertengger pada pucuk ranting yang kering.

Sampai di pos pertama kami berhenti sekitar 15 menit untuk mengamati segala jenis burung yang kami temui di sekitaran pos. luas daerah pengamatan adalah sejauh mataku memandang. Namun sayang burung yang kami jumpai di pos pertama tak beda jauh dengan burung yang kami jumpa di jalur oportunis. Hanya saja yang kami temui ada bondol peking biasa. Berhenti sejenak lalu perjalanan kami lanjutkan ke pos kedua. Menyusuri rute dari pos pertama ke pos kedua aku menjumpai burung-burung oportunis yang sangat beragam. Ada prenjak padi yang bertengger di pucuk ranting sedang melumasi sayapnya, lalu di sisi kanan jalan ada pelatuk caladi yang mematuk pohon yang meranggas sebentar lalu terbang. Ada pula raja udang, cabak, blekok sawah dan gayang bayam. Di pos kedua tepatnya di petak gajahan kami berhenti sejenak menyaksikan ratusan burung gajahan yang mencari makan di tambak yang besar. Tak lama mengamati tiba-tiba pimpinan kelompok burung itu terbang beranjak dari tambak diikutu oleh kawanannya di belakang.


Burung bondol peking yang sedang mencari makan

Dara laut kumis yang sedang terbang bebas
Beranjak dari pos kedua ke pos ketiga aku tak memusatkan perhatian pada burung-burung di sekelilingku. Mungkin karena pikiranku tertuju hanya pada jalanan yang becek dan licin di tengah tambak. Tentu itu untuk menghindari terpeleset saat aku jalan. Setibanya di pos ketiga jam sudah menunjukkan pukul 11.30. terik memang sinar matahari yang hampir tepat di tengah kepala waktu itu. Di pos tiga anak-anak dari jalur cici merah dan jalur umum berkumpul. Sayangnya burung yang kami jumpai juga tak semenarik di waktu perjalanan tadi. Hanya saja aku mencoba belajar sendiri mengamati satu burung di seberang tambak yang bertengger di semak yang kering sementara anak peksia menghitung kawanan burung yang aku sendiri tak tahu namanya. Kuperhatikan dengan seksama bentuk paruhnya yang runcing dengan warna kuning disekitarnya, bulunya abu-abu kebiruan dengan kaki yang berwarna kuning, sementara ekornya pendek. Kulihat buku lapangan John Mc kinno. Ada satu jenis burung yang mungkin mirip tapi aku tak yakin dengan analisisku tadi. Yah mungkin itu burung kokokan laut.

Setelah bereksperimen mencoba mengamati burung dan mengidentifikasinya sendiri aku dan teman-teman dari Wanala pamit balik dulu ke anak Peksia. Maka kami pun berjalan kaki kembali menuju warung pertama tadi kumpul. Setelah puas minum karena panas dan makan jajanan karena perut yang lesu maka kami balik menuju sekretariat. Sebelumnya kami berpamitan dan mengucap terimakasih pada anak-anak Peksia yang sesaat setelah kami makan dan minum tiba juga di tempat semula.
Kuntul kecil dan Blekok Sawah yang bertengger di satu pohon

Dalam hati aku tak menyangka di kota metropolis ini, Surabaya dengan hiruk pikuk kegiatan bisnis dan modernisasinya di tiap sudut, masih ada satu tempat di ujung timurnya. Jauh dari hiruk pikuk manusia berkerja. Ada satu tempat dimana bermacam-macam jenis burung berkumpul untuk sekedar mencari makan dan bersarang. Diantara keduanya membentuk kekontrasan tersendiri, Kota Surabaya dengan keramaian aktivitas manusianya dan Bosem Wonorejo dengan keramaian bermacam jenis burungnya.
Aku merasa tidak seperti di Surabaya waktu itu…………………

Bumi merupakan tempat tinggal bagi seluruh ras manusia di dunia. Hubungan manusia dengan bumi sebagai ruang hidupnya merupakan hubungan yang...

Bumi merupakan tempat tinggal bagi seluruh ras manusia di dunia. Hubungan manusia dengan bumi sebagai ruang hidupnya merupakan hubungan yang tak terpisahkan dan selalu berkaitan erat. Manusia sebagai makhluk berakal dan berbudi dituntut untuk menjaga lingkungan hidup tempat tinggalnya sebagai bagian terkecil dari unsur bumi supaya lestari. Namun apa yang terjadi kini adalah sebaliknya. Saat manusia cenderung acuh pada keadaan alam, hubungan antar keduanya berjalan hanya satu arah. Manusia cenderung merambah dan mengeksploitasi alam tanpa perlu bertimbal balik dengannya. Akibatnya yang timbul adalah beberapa kerusakan alam dan bencana besar yang memperihatinkan. Oleh karena itu rasanya penting bagi kita secara sadar memberikan atensi yang besar terhadap kerusakan-kerusakan di bumi. Salah satu bentuk atensi itu yakni peringatan hari bumi yang jatuh pada tanggal 22 april tiap tahunnya. Sekadar membagi pengetahuan dengan rekan-rekan, berikut saya ulas sejarah peringatan hari bumi dari berbagai sumber.

Tiga puluh tahun yang lalu pada 22 April 1970, hari Bumi untuk pertama kalinya diselenggarakan di Amerika Serikat, atas prakarsa seorang senator, Gaylord Nelson. Embrio gagasan Hari Bumi dimulai sejak ia menyampaikan pidatonya di Seattle tahun 1969, tentang desakan untuk memasukkan isu-isu kontroversial, dalam hal ini lingkungan hidup, dalam kurikulum resmi perguruan tinggi mengikuti model teach in mengenai masalah anti perang. Gagasan Nelson mendapat dukungan yang mencengangkan dari masyarakat sipil.

Dukungan ini terus membesar dan memuncak dengan menggelar peringatan HARI BUMI yang monumental. Majalah TIME memperkirakan bahwa sekitar 20 juta orang turun ke jalan pada 22 April 1970. Nelson menyebutkan fenomena ini sebagai 'ledakan akar rumput yang sangat mencengangkan' dimana : " Masyarakat umum sungguh peduli dan Hari Bumi menjadi kesempatan pertama sehingga mereka benar-benar dapat berpartisipasi dalam suatu demonstrasi yang meluas secara nasional, dan dengan itu menyempaikan pesan yang serius dan mantap kepada para politisi untuk bangkit dan berbuat sesuatu ".

Menurut berbagai analisis ledakan ini muncul karena bergabungnya generasi pemrotes tahun 60-an (bagian terbesar adalah pelajar, mahasiswa, sarjana) yang terkenal sebagai motor gerakan anti-perang, pembela hak-hak sipil yang radikal. Sebuah perkawinan antara pemberontakan 60-an dan kesadaran lingkungan tahun 60-an. Hari Bumi yang pertama ini di Amerika Serikat merupakan klimaks perjuangan gerakan lingkungan hidup tahun 60-an untuk mendesak masuk isu lingkungan sebagai agenda tetap nasional.

Kini peringatan Hari Bumi telah menjadi sebuah peristiwa global. Para pelaksana peringatan HARI BUMI menyatukan diri dalam jaringan global masyarakat sipil untuk Hari Bumi yakni EARTH DAY NETWORK yang berpusat di Seattle. Bila Hari Bumi '70 pertama paling tidak melibatkan 20 juta manusia di AS, Hari Bumi 1990 melibatkan 200 juta manusia di seluruh dunia, maka pada Hari Bumi 2000 diperkirakan terlibat 500 juta manusia di seluruh dunia dengan jargon "making history - making change".

Siapa tak kenal alat transportasi ramah lingkungan bertenaga manusia ini. Ada dua roda yang digerakkan oleh pedal manual, antara roda depan ...

Siapa tak kenal alat transportasi ramah lingkungan bertenaga manusia ini. Ada dua roda yang digerakkan oleh pedal manual, antara roda depan dan belakang terdapat satu rangka yang menyambungkan keduanya, tak lupa stang untuk kendali pengemudinya. Apakah itu sobat wanala? Jika tebakan anda adalah sepeda maka jawaban anda tersebut benar. Konon sepeda telah digunakan oleh manusia sejak abad 18. Diperkirakan asal-usul bentuk sepeda berasal dari orang bangsa perancis yang pada waktu itu dinamakan velocipede. Rancang bangun velocipede tidak seperti lazimnya sepeda modern. Hanya terdapat rangka, stang dan roda tanpa pedal dan “engkolan” sehingga terkesan primitif. Sejak saat itu desain sepeda mulai berubah sesuai kebutuhan mobilitas dan seiring bergulirnya masa. Sepeda dikenal bebas polusi juga berdampak positif bagi kesehatan bila rutin dan ajeg menggunakannya.

Sepeda dan lingkungan
Hingar bingar isu pergantian iklim dan perubahan suhu bumi akibat pemanasan global kini menadi topik bahasan yang hangat. Tidak hanya dikalangan para pemerhati lingkungan saja tetapi juga para pemegang kebijakan serta masyarakat secara keseluruhan. Tentunya kita masih ingat benar, akhir Pebruari lalu seluruh menteri lingkungan hidup sedunia merumuskan kebijakan bersama di Bali. Kebijakan yang dirumuskan menekankan tentang aturan dan penanganan limbah dunia. Mengapa forum kali ini lebih berfokus pada limbah? Jawabanya adalah limbah merupakan kunci utama penyebab naiknya suhu bumi selain pembabatan hutan. Limbah yang berperan besar adalah limbah jenis gas atau sering kita menyebutnya polusi dalam bentuk karbon. Nah, Tahukah Sobat Wanala kalau ternyata jumlah buangan karbon kendaraan bermotor pribadi rata-rata hampir setara dengan emisi satu bus. berangkat dari asumsi tersebut, bersepeda itu bersih polusi, bersepeda dapat menjadi suatu upaya yang dapat mencegah bertambahnya gas karbon yang terlepas ke atmosfer bumi kita.

Sepeda dan Kesehatan
Nah yang satu ini Sobat pasti dinginkan tiap manusia. Hidup bugar terbebas dari penyakit, awet muda dan tubuh yang terjaga. Itu semua tentu ciri-ciri orang yang sehat. Kesehatan mahal harganya, kiranya itu yang bisa dilukiskan mengingat gaya hidup modern yang menuntut serba kepraktisan. Salah satunya adalah kepraktisan dalam segi transportasi. Kendaraan bermotor menjadi pilihan karena cepat dan dapat menempuh jarak yang jauh. Namun kenyataannya untuk ke tempat-tempat yang dekat saja kendaraan bermotor masih digunakan. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa orang masih saja menggunakan kendaraaan bermotor untuk pergi ketempat-tempat yang dekat? Tentu banyak alasan yang bisa diperoleh namun lebih bijak kiranya bila kita memilih berjalan kaki atau bersepeda. Tidak sekedar beraktivitas fisik semata, bersepeda juga dapat menjadi cara menuju sehat. Menurut Profesor dr Dede Kusmana, pendiri klub Jantung Sehat, melalui bersepeda akan menjadikan pembuluh darah lentur dan memperlancar peredaran darah. Selain itu bersepeda dapat menurunkan kolesterol, terbukti bahwa 30 menit bersepeda mampu membakar 240 kalori atau setara empat potong roti. Lebih lanjut ternyata dengan rutin bersepeda dapat memperpanjang umur. Hal ini berdasar pada rata-rata umur orang-orang jerman yang gemar menggunakan sepeda selain alasan bebas polusi dan menyehatkan bekisar antara 89 tahun (wanita) dan 85 tahun (pria).

Bersepeda adalah suatu aktivitas fisik yang memiliki beragam manfaat mulai dari segi ekologis dan medis serta dapat pula menjadi suatu bentuk kampanye peduli lingkungan diantara sekian banyak tindakan lain yang bisa dilakukan untuk bumi kita.
Sekarang tentunya Sobat Wanala sudah mengetahui sedikit banyak tentang bersepeda. Penulis hanya bisa berharap, mungkin suatu saat nanti bersepeda menjadi lifestyle dan mode-nya para penggiat dan pecinta alam bukan hanya sekedar karabiner atau celana lapangan yang terpampang.

Oleh : Kuz9 pengen fokuz, terinspirasi oleh WANALA Old Biker.
Sumber : Wikipedia, mediaindonesia.com, Alwi Shahab, sehat dengan bersepeda.

Energy crisis that began in various countries experienced hemisphere requires electric companies switched to alternative energy sources as a...

Energy crisis that began in various countries experienced hemisphere requires electric companies switched to alternative energy sources as a replacement and electricity suppliers will need long-term. Revolution energy is taken as an anticipatory steps to replace the conventional energy, especially fossil energy in fulfilling the needs of the global electricity. The availability of fossil energy are now beginning to be limited to the market price rises, making operating costs high electricity production. Also not possible to rely entirely on fossil energy is predicted to run out in a few decades ahead. On the other environmental issues that are also behind the change of electric materials, where electricity companies are required to be environmentally friendly. Various kinds of alternative energy options began ogled by them. One of them is the nuclear energy industry in the eyes of sebgai considered environmentally friendly energy and have the potential release of a large electrical energy. But this opinion seems to be questioned over the value of truth, why is that? 

The Weak Safety System 
There are two possibilities that would be fatal dangers posed after the nuclear power plants (nuclear power) to stand in an area. First is the risk of nuclear accidents in the form of an explosion. Accidents of all time is terdahsyat Chernobyl Accident (North Ukraine) on 26 April 1986 by the explosion which caused an increase in power is too fast in a short time (nuclear excursion). The second is the radiation damage of nuclear waste is dangerous for the environment and health. It is estimated that each year the world's nuclear waste total reached 250,000 tons, and this waste can last for thousands of years of polluting the air, water and soil. Nuclear waste gas mainly radioisotopes can cause thyroid cancer that causes death. Nuclear industry wants us to believe when it all seemed to be safe, but the fact is inherent in nuclear power plant security systems and standard operating procedures. 


Solutions Not Environment-Friendly Energy 
Industry claims that nuclear power plants more environmentally friendly because during the normal operation does not remove greenhouse gas emissions and does not produce gases that are harmful to kesehatam ex: carbon monoxide, sulfur dioxide, aerosols, nitrogen dioxide and photochemical smoke. But the fact was again denied, until the year 2050 the world needs 32 new nuclear plants each year to reduce emissions only 6% of the electricity sector. This was not comparable to the level of environmental damage from the release of radioactive waste. So nuclear energy is the obvious solution is slow in anticipation of global warming. 

Too Expensive and Slow 
To establish a nuclear power plant takes time, cost and a very large force. In the process of its establishment, a reactor requires around 10 years of workmanship. Besides uranium procurement costs could swell because 85% of the world uranium supply comes from just six countries. Uranium that will be contested senyak 443 licensed nuclear power plant in the world. If cadangn depleted uranium is inevitably competition to get very tight and as the needs of the price will jump. Another constraint is the limited facilities and operational support personnel. Until now only five states that have only uranium enrichment facility and only four states that have the technology and the experts are well-qualified. With limited facilities and supporting facilities of nuclear energy clearly does not allow even distribution of energy for the state khusnya small. 

Solution to the energy revolution in the electricity sector is the utilization of renewable energy (Renewable Energy). This energy is energy that is automatically renewable for using elements of nature to generate electricity. Taking advantage of wind, water, light and heat the earth with designs that are planned to supply electricity needs are defined so much potential of renewable energy to ensure the sovereignty of energy without the threat of radioactive substances and nuclear power plants due to climate change, global warming.

When compared to the problems with the social environment, of course people will be more intense review, analyze and find solutif argument f...

When compared to the problems with the social environment, of course people will be more intense review, analyze and find solutif argument for social problem-solving. Trully, environmental problems are more inherent and closer to the pattern of human behavior. Can be said is the point of environmental issues into the early emergence of social problems. Concrete examples that can be used as illustrated above opinion is garbage. Waste problem is closely related to the values of community concern and awareness to keep the environment clean.
A little more at play here the behavior, attitudes that are embedded in each individual in the sense of garbage will take effect in terms of latent social. When the raised negative perceptions of individuals will waste as useless stuff then no doubt will bring environmental problems and social problems which arose thereafter. Flooding problems, water pollution will be closely related to the problem of water resource conservation, land and the catchment. To some extent that environmental problems will also affect the social life of society that will lead to other sosial.Contoh gap of these linkages is the case of deforestation (deforestation) and illegal logging. The opening of the forest because of economic factors make some people who were displaced in rural areas. Or even a resident of a country that demands the expansion of deforestation by foreign companies because they exploit that massive tails on social welfare. 

So it can be concluded that, in relation to one another is because environmental issues are still in one circle of ecology. Environment and humans shared a reciprocal relationship in an ecosystem. Environmental problems is a common problem and each individual's responsibility to keep his balance for social welfare.