Kalau menurut nabi muhammad SAW temen temen sekalian, hidup itu cuman dua. Ini kalau Bahasa Arab nya ini ya, ini pura pura nya kiai ya. Alis...

Kalau menurut nabi muhammad SAW temen temen sekalian, hidup itu cuman dua. Ini kalau Bahasa Arab nya ini ya, ini pura pura nya kiai ya. Alislamu huwa sobru WA sukru. Jadi yang disebut islam. Islam itu kata kerja. Jadi doing things untuk menciptakan salam min islam

Jadi kalau anda menjalankan islam berarti anda menyelamatkan tanah. Menyelamatkan sungai Menyelamatkan daun. Menyelamatkan sesama manusia menyelamatkan semua makhluk . Pokoknya metabolisme dan ekosistem kehidupan kita pelihara sedemikian rupa itulah islam. Produknya salam.

Islam atau pekerjaan menyelamatkan itu dibagi dua. Yang satu sabar. Yang kedua sukur. Boleh kita sebut sukur dulu baru sabar tergantung. Tapi pokoknya tinggal milih aja deh. Kalau ngalamin apa wah ini cocoknya sabar nih. Kalau ngalamin apa yang lain ini cocoknya sukur.

Kita sering tidak memakai terminologi ini sehingga kacau. Kadang kadang kita perlu bersabar kita ndak sabar. Kadang kadang semua masalah ini sederhana tinggal bersyukur karena kita tidak pernah belajar bersyukur menjadi kacau. Karena kemampuan bersyukur itu berbanding sama atau berbanding lurus dengan tingkat kebahagiaan. Semakin kita tidak mampu bersyukur semakin kita tidak bahagia. Semakin kita tidak tentram semakin kita tidak setle ya jiwa kita. Nah kemampuan bersyukur yang saya maksud ini sebenarnya menyangkut ilmu ilmu manajemen pengetahuan mengenai hal hal di dalam kehidupan dan apa saja. Jadi ada orang yang naik mobil setengah milyar tanpa rasa sukur dia tidak mendapat kenikmatan apa apa. Ada orang yang naik motor karena dia sibuk sekali dengan rasa syukur dia merasa lebih nikmat daripada dia pakai mobil. Jadi sebenarnya bukan saya melarang anda punya mobil bagus. Tapi saya ingin mengatakan bahwa sehebat hebat dunia ini masih lebih hebat manajemen akal manusia. Itu, jadi letaknya kebahagian letaknya ketentraman dan itu nanti berakibat pada kesehatan berakibat pada jauhnya kita atas titik bahaya atau sakit atas kesehatan kita. Semakin kita mampu bersyukur smakin kita dekat dengan kebahagiaan.

Banyak orang yang tidak belajar bersyukur. Jadi ndak ada fakultas nya sih. Yang ada adalah belajar melampiaskan nafsu. Setiap hari hari dimana mana melampiaskan nafsu, melampiaskan melampiaskan melampiaskan dan itu bertentangan dengan rasa syukur dan hasilnya pasti frustasi stroke akhirnya narkoba, bingung akhirnya dan lain sebagainya lah.

Jadi intinya teman teman sekalian sahabat sahabat ku semua mari kita bikin satu waktu khusus untuk sedikit meneliti mengenai pandai bersyukur ini. Dan pendidikan terpenting untuk anak kita adalah mengajak dia untuk terus menerus menemukan momentum kapan sebaiknya dia bersyukur. Kalau dia dibiasakan bersyukur tiap hari, dia akan jauh untuk jadi koruptor, dia akan jauh untuk jadi orang rakus. Karena dia hanya dengan sepotong tempe dia bisa mendapatkan kenikmatan dibanding teman nya yang makan tiga potong daging karena kepandaian bersyukur itu. Ini sangat panjang tapi kira kira ilmu dasarnya seperti itu.

Ramai-ramai orang negeriku meniru metode iblis Mantan kanzul jannah si pengemban tugas talbis itu, Hobi banget menyombongkan diri Metode ...

Ramai-ramai orang negeriku meniru metode iblis
Mantan kanzul jannah si pengemban tugas talbis itu,
Hobi banget menyombongkan diri
Metode ana khoirun minkum diterapkan dalam segala lini
Merasuk di alam bawah sadar hingga tindakan

Para kuat kekar merendahkan si lemah
Para cantik jelita merendahkan si buruk rupa
Para karyawan merendahkan pengangguran
Para petinggi merendahkan kuli
Para kaya merendahkan miskin papa

Yang punya kuasa merendahkan jelata
Yang usahawan merendahkan karyawan
Yang berilmu merendahkan yang pandir
Yang 'alim' merendahkan yang kafir

Yang mau nyapres nyawapres saling merendahkan
Yang mau nyaleg menganggap diri yang paling hebat unggul digdaya
Hehe, gitu kok mau negeri nya bebas masalah
Wong pemimpinnya saja meniru metode iblis

Masih untung aku yang pengangguran
Memangnya mau merendahkan siapa?
Wong ya di hadapanmu saja aku sudah terendah dari yang terendah

Lirih dalam hati bilang, oh semoga semua itu hanyalah Tahaddus bin nikmah mereka

Gresik, 29 september 2018

Entah aku mau bilang apa hari ini pada Tuhan Para keris di negeriku sibuk turun kasta jadi cangkul Belum lagi heboh Dollar naik jadi 15 ri...

Entah aku mau bilang apa hari ini pada Tuhan
Para keris di negeriku sibuk turun kasta jadi cangkul
Belum lagi heboh Dollar naik jadi 15 ribu
Ramai-ramai 'jamaah' korupsi tertangkap di Timur negeri,
Hehheh, jamaah?aku terkikik geli
Seolah tak ada diksi lain yang lebih pas untuk mengutarakan kebobrokan

Ditengah itu semua, hari ini kita milad 2 tahun, istriku
Duduk bersama makan menu mi goreng hangat lauk ikan asin
Kata orang itu menunya orang miskin
Tapi kalau kataku ini makanannya kaum jet set, kau mau apa?

Kami berdua sangat sibuk bersyukur sehingga makan apa saja, dalam keadaan apa saja,
Semenderita-menderitanya kita tetap selalu bahagia

Atas nikmat waktu ini aku ingin bersyukur pada rabb ku
Tapi maafkan aku juga tak bisa menyembunyikan kegelisahanku
Setiap ulang tahun adalah rahmat
Tapi juga berarti jatah waktu kebersamaan kita yang semakin berkurang

Ulang tahun menambah kekayaan pengalaman dan cerita
Namun, bersamaan ulang tahun detak jantung kita semakin berkurang
Lalu pada ulang tahun nikah ke berapa kita akan berpisah?
Tidak ada para nabi pun setan yang akan tahu

Tapi itu adalah keniscayaan
Pada yang demikian aku ingin bilang pada Mu,
Ijinkan aku dan istriku, salah satu dari kami,
Entah siapa saja yang tertinggal
Terus menerus menyimpan memori

Saat pertama kita bertemu
Saat malam pertama kita
Saat kehamilan pertama
Saat kelahiran putra pertama kita
Saat bertambahnya anak-anak kita, atau saat kita menimang cucu pertama

Saat memutihnya rambut kita
Saat turunnya pendengaran dan penglihatan kita
Saat gigi kita tanggal dan tak mampu lagi berjalan
Higga salah satu dari kita diusap wajahnya demi tertutup kelopak mata

Hingga suatu masa dimana kita sekeluarga entah kapan,
berjumpa lagi dengan Mu
Di sebuah tempat berwarna hijau
Bersujud menciumi rumput-rumput surga Mu
Bersemayam selama sejumlah butir pasir Sahara

Bungah, 5 september 2018

Cabak kota terbang berputar-putar di atas bangunan tua pinggir jalan. Sayapnya membentang. Burung liar itu melayang. Menampakkan segura...


Cabak kota terbang berputar-putar di atas bangunan tua pinggir jalan. Sayapnya membentang. Burung liar itu melayang. Menampakkan segurat garis putih di bagian bawah masing-masing sayap dan ekornya. Tanpa melihat ciri fisik, Lik Karso sudah sangat hafal burung itu. Bunyi cuitannya sangat khas. Lengkingan pendek hanya sekali. Berhenti, lalu diulang lagi.

Nyanyian burung nokturnal itu membuat Lik Karso makin gusar. Di kampungnya, kemunculan cabak adalah pertanda wayah wengi. Waktu bagi manusia membasuh diri, menunaikan sholat di langgar kampung. Para pria sudah pulang dari sawah. Kembali ke peraduan, bercengkrama dengan anak dan istri tersayang.

Terpisah jauh dari kampungnya, Lik Karso masih mengadu nasib di kota. Di depan bangunan tua dekat perlimaan lampu merah Lik Karso masih berharap ada pelanggan membeli jakrakan yang telah dia buat sewaktu di kampung.

Itu adalah mainan tradisional. Terbuat dari janur kelapa yang dikeringkan. Dianyam sedemikian rupa hingga membentuk burung. Bagian dasarnya beroda empat. Biasanya jakrakan dimainkan para bocah di desa dengan cara menariknya dengan seutas tali panjang.

Sewaktu adzan maghrib berkumandang Lik Karso merasakan perbedaan budaya yang mengusik. Seruan ilahi itu diperlakukan sekunder di tengah hiruk pikuk kota. Lik karso ingat semua anak desa pasti hening dan menjawab adzan. Tidak ada suara apapun selain suara bilal yang diperkenankan menyaingi kumandang adzan.

Lik Karso terbayang petuahnya sendiri pada Si Tole. Tidak ada bebunyian apapun di semesta ini yang pantas mengungguli suara adzan. Meski suara raja dangdut Rhoma Irama lebih membahana. Atau suara penyanyi legendaris Mesir Ummi Kultsum jauh lebih syahdu. Adzan tak bisa diungguli oleh suara makhluk.

Kenangan akan Si Tole di rumah membuatnya makin gusar. Putra semata wayangnya itulah yang jadi alasan mengapa dia terjebak di tengah hiruk pikuk kota. Kemarin Tole minta pada bapaknya untuk dibelikan mainan mobil rimot. Dengan enteng dan optimis Lik Karso mengiyakan. Mantap hatinya bahwa dagangannya bakal laku keras di kota. Sebab orang kota itu suka kerajinan tangan. Anggapnya dangkal.

Namun, apa yang terjadi sekarang adalah pemandangan seorang bapak parobaya tak jauh dari lampu merah perlimaan. Duduk dengan tulang belakang membungkuk. Kedua tangannya dia sandarakan pada lututnya. Sedang dua bola matanya memandang sepeda tua dengan ronjotan terpasang di kanan kirinya.

Dua keranjang bambu itu berisi puluhan jakrakan yang belum juga laku. Hati lugu desanya masih saja percaya ada yang meminati mainan kuno itu. Mainan yang dulu pernah jadi primadona sampai-sampai ada kabar bahwa Presiden Kedua Republik ini pernah memborongnya 1 truk untuk dijadikan buah tangan. Sempalan cerita itu masih jadi euforia di kepala Lik Karso. Baginya dan bagi para rekan pengrajin berjualan jakrakan adalah salah satu sumber penghasilan utama selain bertani.

Namun apa mau di kata. Baginya yang tak sekolah. tak pernah baca koran atau sempat lihat teve tak tahu bahwa arus kemajuan teknologi membuat penduduk kota tak sekedar berlari kencang namun capainnya sudah berpindah dimensi. Dari nyata ke maya. Orang-orang kota dewasa belanja barang, kirim barang, bayar tagihan, terima-kirim uang, makan-minum, bersihkan rumah, bahkan mau pijet pun tinggal tutal-tutul layar sentuh dunia maya.

Pun anak-anak. Untuk bermain mereka tinggal tutal-tutul segala jenis gam-gem. Aneka permainan canggih koleksi di smartphone kapan saja bisa dimainkan. Tak perlu susah payah memanjat pohon kelapa. Memotong janur muda. Mengeringkannya. Menganyamnya. Semua butuh waktu lima hari hingga jadi jakrakan.

Jangan ceritakan itu semua pada Lik Karso. Dia tak akan paham. Baginya mobil rimot, yang maksudnya adalah mobil remote control, sudah jadi mainan yang canggih bagi ukuran anak-anak dusun.

Pandangan Lik Karso berganti pada ruas jalan. Orang-orang kota masih lalu lalang di jalan raya saat maghrib. Lampu-lampu mobil dengan benderang menyorot jalan. Saat lampu merah menyala macet panjang mendera pengguna jalan. Deru ragam merk mesin kendaraan bermotor yang berhenti bercampur aduk jadi satu. Kala lampu berubah hijau suara mesin tenggelam oleh bunyi klakson-klakson yang galak. Itu semua membuat telinga Lik Karso pekak.

Kepala yang tadinya tegak kini mulai tersandar di atas lengannya. Lik Karso memejamkan mata barang sejenak. Matanya perih akibat sorot lampu LED sepeda motor. Kata orang kota lampu itu yang bikin motor kelihatan lebih canggih.

Dalam gelap matanya, bayangan si Tole muncul. Anak yang baru saja masuk SD itu selalu bungah saat bapaknya pulang ke rumah. Lik Karso biasanya menggendong anak itu dengan tangan menghadap langit. Diturunkannya pelan-pelan lalu dia cium pipi kanan dan kirinya. Saat begitu, Tole geli pipi mulusnya tersenggol kumis kasar sang bapak yang baru tumbuh usai dicukur.

“Pak, Pak. Pak!” suara anak kecil berteriak kencang.

Terdiam lama, barulah kemudian Lik Karso terjingkat sadar. “Eh, iya...Le. Ada apa?”

Berdiri di hadapannya seorang bocah laki-laki. Tingginya sekepala Lik Karso saat dalam posisi duduk. Bajunya kumal, kulitnya legam. Bau keringat apak menusuk hidung. Bibirnya kering dan mulai pecah-pecah.

“Beli satu ya pak, berapaan?”

“Satunya lima ribu, Le”

Bocah kecil itu lalu memilah-milah uang koin. Dia tumpuk recehan 500 rupiah jadi satu. Dia bedakan dengan recehan 1000 rupiah sambil bibir mungilnya komat-kamit menghitung. Ada sinar di matanya yang menginginkan uang itu cukup untuk membeli dagangan Lik Karso. Hasil dia baru saja mengamen di deretan toko di sepanjang jalan yang dia lewati. Tapi sayang, saat ini sudah banyak toko bertuliskan “Ngamen Gratis”.

“Ndak jadi pak. Uang saya kurang”

“Berapa memang uangmu itu, Le?”

“Tiga ribu rupiah pak” ujar Si Bocah sembari terseringai malu.

“Yo wis Le. ndak papa” Ucap Lik Karso sambil meraih genggaman tangan anak itu. Jari besar dan kasarnya meraba-raba uang receh si bocah. Lalu diambilkannya satu jakrakan dari ronjotan. Dia pasangkan tali pada bagian depan supaya mainan itu bisa melaju saat ditarik tuannya.

Diberikannya jakrakan yang tak kunjung laku pada bocah itu. Disusul jemari berjumput mengembalikan empat uang koin 500 rupiah pada bocah itu. “Ini le, buat beli minum nanti”.

Bocah pengamen itu tak sanggup membendung perasaannya. Berjingkat kaki mungilnya. Dipandangnya mata Lik Karso dengan binar gembira sambil bibirnya tersungging senyum lebar. Hari itu dia mendapat semacam surprize yang sangat membahagiakan. Kejutan dari orang pinggiran. Jakrakan terhuyung-huyung ditarik. Karena terlalu ringan mainan itu sesekali berlompatan ke udara. Mata lelah Lik Karso terus mengikuti bocah pengamen itu. Tak sempat mulut bocah dekil itu mengucap terima kasih, hingga akhirnya dia lenyap usai menghilang di belokan ujung perlimaan.

Saat ini di kantong baju coklat bergaris Lik Karso tersimpan satu koin logam seribu rupiah. Jauh panggang dari api. Namun, dia tidak sedih. Hanya saja sedang menyedihkan sesuatu yang pahit dalam hatinya. Kenyataan bahwa uang itu dia dapat dari bocah yang jauh lebih muda dari Si Tole di kampung. Bocah kecil yang tak sempat nikmati waktu.

***

Suara cabak tak lagi di dengar Lik Karso. Burung itu tak lagi melayang di atas tengadahnya. Yang kini tersisa di dekatnya hanya bangunan kuno tinggalan Belanda. Yang sudah lapuk temboknya, catnya terkelupas, halaman sempitnya dipenuhi rumput liar, dan pagarnya sudah berkarat parah.

Gelap bangunan itu karena nihil lampu penerangan, namun di seberangnya begitu kontras. lampu-lampu kendaraan penuh riuh menyoroti jalan. Begitu modern. Karso ada di sana hanya sebagai elemen kontras. Mereka adalah sepotong sudut zaman yang seolah modernisasi meninggalkannya deras di belakang. Sangat jauh. Bangunan Belanda dan Penjual Jakrakan. 

Beberapa mobil mendadak melambat usai tak kebagian lampu hijau. Terpaksa harus berhenti barang sejenak. Puluhan detik terasa begitu lama bagi para pekerja yang ingin segera sampai di rumah. Tapi rakyat kecil bisa apa. Membebaskan diri dari macet setiap jam pulang kerja sama saja seperti melarikan diri dari cengkraman naga dengan tangan hampa.

Satu mobil berwarna perak terlihat menepi. Sopirnya tergopoh-gopoh keluar menghampiri dagangan Lik Karso usai memarkir mobil tak jauh darinya

"Berapaan pak mainannya ini?" tanya seorang bapak muda berpakaian rapi ala pekerja kantoran.

"Lima ribuan pak"

"Kalau begitu saya beli empat pak?"

"Ya pak" Ujar Lik Karso sambil meladeni pelanggan barunya.

"Ini Pak" Si Bapak Muda menyerahkan selembar uang seratus ribu rupiah.

"Headalah pak, saya tidak ada kembaliannya. Uang pas saja nggih"

"Saya kebetulan juga tidak punya uang kecil pak. Begini saja pak ambil saja kembaliannya buat bapak"

"Endak pak, jangan. Pekiwuh saya sama sampean. Saya ladeni saja sesuai uang sampean. Ini dapatnya 20 biji pak. Apa bapak lilo (ridho)?"

Salah satu kaca mobil Si Bapak Muda terlihat terbuka. Terlihat seorang anak kecil melongok keluar jendela. Tangannya yang gemuk dan putih mengenggam ponsel pintar. Wajah bersihnya semakin terang disinari lampu layar. Papanya menghampirinya membawah 20 buah mainan yang sama sekali tak pernah dia jumpai seumur hidupnya. Mobil anyaman berbentuk burung.

Mungkin barangkali Papanya itu rela merogoh uang seratus ribu rupiah untuk memborong mainan tradisional bikinan Lik Karso, agar anak kesayangannya tidak kecanduan main gadget. Atau mungkin si papa juga ingin nostalgia masa kecilnya dulu. Atau punya rencana bermain bersama anaknya, permainan yang lebih seru daripada sekedar game di ponsel pintar yang bikin anak pasif, diam tak bergerak.

Apapun itu yang kini terlihat usai mobil itu pergi adalah isi ronjotan di sepeda Lik Karso hampir mau habis. Berganti dengan uang Rp 100.000 di kantong saku kemejanya.

***

Mobil warna kuning menyala. Di kemasannya terdapat logo banteng kuning lagi menyeruduk. Mobil remote control itu berdiam di ronjotan dagangan Lik Karso bersama sisa sedikit jakrakan yang ada disana. Tadi malam dia paksa belikan uang hasil dagangannya itu di toko mainan di kota, selepas adzan isya berkumandang.

Karena tak cukup waktu mengayuh pulang dari kota ke desa, tadi malam dia putuskan untuk berhenti di musholla pinggir jalan dan bermalam disana. Usai jamaah sholat subuh Lik Karso kembali melanjutkan perjalanan pulang.

Saat sepeda tuanya dikayuh melewati hamparan tambak ikan di pinggir jalan, burung-burung air memulai jam biologisnya. Mencari makan saat pagi hari dan mereka akan kembali pulang pada petang hari. Namun yang dilakukan Lik Karso adalah keterbalikan dari mereka. Lik Karso malah pulang saat mereka mulai aktif mencari makan.

Di ujung matanya, seekor dara laut terlihat terbang menukik menceburkan paruhnya terlebih dahulu masuk air. Sebelumnya ia cuma terbang berputar-putar di atas tambak. Dan kini seekor mujair kecil terjepit di paruh runcingnya. Karso senyam-senyum melihatnya.

Habis sudah yang hasil jualan kemarin ditukar dengan sebuah mobil remot control. Jarak 20 kilometer harus Lik Karso tebus untuk kembali ke rumah. Sebagai gantinya, bayangan wajah si Tole meloncat kegirangan membuka mainan yang ia bawakan.

Di depan tambak ikan itu ada gubuk miring. Kedai es campur langganan Karso. Kalau lagi punya uang dia sempatkan mampir sebentar untuk istirahat sambil minum es campur.

Jakunnya naik turun. Menenggak ludah nya sendiri. Cak pur penjual es campur itu pun berteriak. "Mampir dulu cak, sini!"

Lik karso cuma melengos. Tahu isi dompetnya sekarang cuma tinggal angin. Tak perduli nanti keluarganya makan apa.

"Persetan. bebek, ayam, kadal, pun Dara laut di depanku ini. Mereka tak punya profesi tapi toh masih bisa makan"


Bungah, 5 September 2018

Kehendak-Ku yang Berlaku Engkau memiliki kehendak Dan aku pun mempunyai kehendak Tapi kehendakMu lah yang akan terwujud Maka jika engkau...

Kehendak-Ku yang Berlaku

Engkau memiliki kehendak
Dan aku pun mempunyai kehendak
Tapi kehendakMu lah yang akan terwujud

Maka jika engkau menyerah pada kehendakKu wahai anak adam
Akan Aku cukupkan apa yang jadi kehendakmu

Tetapi jika engkau tidak mau menyerah kepadaKu
Aku akan menyusahkanmu di dalam apa yang menjadi kehendakmu
Tidak ada yang bisa berlaku kecuali apa yang telah menjadi kehendakKu

EAN

Aku ini badui berotak udang Kelu lidahku berucap fasih Tak sampai memoriku menghafal lantunan pujian Terbata bibirku merapal doa-doa pan...

Aku ini badui berotak udang
Kelu lidahku berucap fasih
Tak sampai memoriku menghafal lantunan pujian
Terbata bibirku merapal doa-doa panjang

Tapi suara dari bibir manismu kekasih, oow begitu anggun
Begitu indah, begitu meneduhkan
Biarkan aku si badui ini terus mengagumimu
Meski aku tak pernah sekalipun bertemu parasmu

Pandulah terompahku ini agar berjalan terus di sisimu
Dalam duka rindu dan malu
Aku sampaikan salamku padamu

Gresik 26 juli 2018

Cara membuat akta anak di Kabupaten Gresik Memiliki akta kelahiran bagi seorang anak adalah hal penting. Anak yang tidak memiliki akta t...


Cara membuat akta anak di Kabupaten Gresik
Memiliki akta kelahiran bagi seorang anak adalah hal penting. Anak yang tidak memiliki akta tidak tercatat dalam data kependudukan negara. Selain itu anak yang tidak memiliki akta juga rawan dipalsukan identitasnya. Ketidakadaan akta juga membuat baik sang anak maupun orang tua merasa kesulitan dalam proses administrasi.


Oleh karena itu, sebaiknya orang tua segera mengurus pembuatan akta untuk anaknya sedini mungkin. Bagi anda warga Gresik berikut saya jelaskan tahapan dalam pembuatan akta anak lengkap dengan persyaratannya. Saya urutkan tahapan ini berdasarkan tempat prosesnya.

1. RT/RW setempat
Pergilah ke Ketua RT dan Ketua RW di tempat keluarga anda tinggal. Sampaikan maksud anda untuk membuat surat pengantar pembuatan akta anak. Setelah surat pengantar jadi pergilah ke kelurahan.

2. Kantor Kelurahan
Menuju kelurahan tempat anda tinggal. Dalam hal ini kelurahan saya ada di Sidokumpul Gresik. Menuju ruang pelayanan di kelurahan dan sampaikan maksud anda untuk membuat kk bagi anak tercinta.

Anda akan diberi formulir pembuatan akta berikut formulir update tambah jiwa KK. Isilah formulir itu. Pada tahap ini anda wajib memenuhi persyaratan sebagai berikut:
  • 1 copy KTP ibu
  • 1 copy KTP ayah
  • 2 copy KTP saksi (2 orang)
  • 1 copy KK
  • 1 copy buku nikah yang sudah dilegalisir KUA
  • 1 copy surat kelahiran dari RS/klinik/puskesmas
  • Bayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) tahun berjalan

Setelah ditandatangani oleh pak lurah. Berikutnya anda geser ke kantor Kecamatan Gresik

3. Kantor Kecamatan
Pergilah ke kantor kecamatan. Pada akta yang saya urus ini saya masuk dalam Kecamatan Gresik. Masuk ke bagian pelayanan dan sampaikan niat anda untuk membuat akta. Berikan formulir yang sudah anda isi dari kelurahan itu kepada petugas kecamatan.

Di kantor kecamatan anda akan diminta untuk memenuhi persyaratan sebagai berikut:
  • 2 copy KTP ibu ayah
  • 4 copy KTP Saksi
  • 1 KK asli
  • 2 copy KK
  • 1 surat keterangan lahir asli
  • 1 copy surat keterangan lahir
  • 2 copy buku nikah legalisir

Setelah diproses dan ditandatangani camat langkah selanjutnya adalah pergi menuju kantor Dispendukcapil gresik

4. Kantor Dispendukcapil Gresik
Bawa ke Dispenduk. Ke loket pengurusan akta. Formulir anda akan diproses. Total proses hingga akta selesai adalah sekitar 2 minggu. Akta yang jadi bersamaan dengan KK anda yang sudah terupdate tambah jiwa. Maksudnya dalam KK baru anda juga sudah ada nama anak anda yang ditambahkan pada data kependudukan.

Baik itu tadi langkah langkah pembuatan akta untuk anak. Mudah bukan? Yang perlu diperhatikan adalah siapkan terlebih dahulu persyaratannya. Pembuatan akta di gresik 100 persen gratis tidak dipungut biaya sama sekali.

Semoga artikel panduan ini bisa membantu anda yang ingin membuat akta untuk anak. Wassalam.

Gresik, 17 Juli 2018

Pada artikel sebelumnya cara membuat KK bagi pasutri baru saya sudah menuliskan panduan bagaimana cara membuat kartu keluarga (KK) bagi p...


Pada artikel sebelumnya cara membuat KK bagi pasutri baru saya sudah menuliskan panduan bagaimana cara membuat kartu keluarga (KK) bagi pasangan baru yang pindah keluar dari keluarga orang tua.

Nah, saat ini saya lanjutkan bahas cara update data E-KTP. Sebelumnya KTP saya yang masih belum diupdate merujuk pada KK yang lawas. Karena KK atas nama saya sendiri sebagai kepala keluarga sudah dibuat maka, beberapa data seperti status pernikahan dan alamat juga ikut berganti.

Bagi anda yang juga memiliki keinginan serupa untuk update E-KTP tak usah pusing. Proses update ini terbilang lebih cepat dan mudah daripada proses bikin KK baru.

Yang perlu anda siapkan adalah:
  1. Fotocopy KK terbaru
  2. membawa E-KTP yang mau diupdate

Langkah-langkah:
  1. Datang ke Kantor Dispendukcapil Gresik yang beralamat di Jl KH Wakhid Hasyim No 17 Kebungson Gresik (Samping kantor Telkom gresik di depan alun-alun)
  2. Masuk ke bagian belakang gedung untuk mengambul nomor antrian (serahkan FC KK dan E-KTP anda pada petugas jaga untuk diberi nomor urut antrian)
  3. Masuklah pada ruang E-KTP. Ruang di bagian depan anda ambil nomor antrian. Cari tempat duduk dan tunggu nama anda dipanggil
  4. Bila nama anda terpanggil, majulah ke bagian pengambilan E-KTP
  5. Sebelum membawa E-KTP anda akan diminta sidik jadi dan mengisi buku pengambilan E-KTP yang sudah jadi
  6. Proses selesai dan E-KTP sudah terupdate. Baik alamat dan status saya sudah diperbaharui.
Nah berikut tadi cara update E-KTP di Dispendukcapil Gresik. Mudah bukan? Meski mudah rasanya menyempatkan hari berkunjung kesana butuh perjuangan besar bagi pekerja swasta seperti saya ini. Harus repot cari ijin buat ngurus data kependudukan

Kapan ya pelayanan catatan sipil buka di Hari Sabtu Minggu, pasti banyak apresiasi positif dari warga Gresik.

Ataukah kapan ya kita ga perlu keluar rumah ke kantor Dispendukcapil, tapi petugasnya sendiri yang datang ke rumah kita jemput bola menguruskan tetek bengek data penduduk kita.

Ngimpi dikit boleh kan ya. hehe

Gresik, 12 Juli 2018

Ada anggapan kalau kita datang di masjid, lalu menempati shaf pertama itu adalah suatu pencapaian besar. Sampai-sampai Kanjeng Nabi sendir...


Ada anggapan kalau kita datang di masjid, lalu menempati shaf pertama itu adalah suatu pencapaian besar. Sampai-sampai Kanjeng Nabi sendiri bersabda mengenai besar keutamaan shaf pertama. Banyak hadist-hadist yang berkonten memuliakan shaf pertama. Namun yang paling terkenal pastinya yang bilang kalau anda menempati barisan shaf pertama, anda akan dapat unta.

Jika tiba hari Jum'at, maka para Malaikat berdiri di pintu-pintu masjid, lalu mereka mencatat orang yang datang lebih awal sebagai yang awal. Perumpamaan orang yang datang paling awal untuk melaksanakan shalat Jum'at adalah seperti orang yang berkurban unta, kemudian yang berikutnya seperti orang yang berkurban sapi, dan yang berikutnya seperti orang yang berkurban kambing, yang berikutnya lagi seperti orang yang berkurban ayam, kemudian yang berikutnya seperti orang yang berkurban telur. Maka apabila imam sudah muncul dan duduk di atas mimbar, mereka menutup buku catatan mereka dan duduk mendengarkan dzikir (khutbah).

“Wah kalau sampean shof belakang terus, mungkin pean dapatnya Cebong cak” Kelakar Sobirin pada kaspolan.

“Lah kalau aku ini datang awal tapi milih shaf belakang, aku dapat apa?”

Sobirin terhenyak dan bingung mau jawab apa. Sementara Kaspolan Lanjut bercerita, dirinya sangat pekeuwuh untuk menempati shaf pertama. Bukannya nggak cinta Kanjeng Nabi. Bukannya juga mengutuk saudaranya yang percaya banget ada unta di shaf pertama. Tapi dia sangat ndak enak sendiri. Kok dia yang dapat unta sendiri sementara yang lain harus terima dapat sapi, wedus, ayam, cebong samapi cipret.

“Alah jangan nggaya sampean ini. Wajar pean ini ndak mau di depan cak. Lha wong gerakan sholat sampean kelihatan kurang sempurna. Sebelahnya umik-umik baca doa qunut, pean umik-umik entah baca apa”

“Hush jangan keras-keras tho!” sergah Kaspolan.

“Tapi emangnya orang-orang kecil seperti kita ini bisa dapat unta? Membayangkan saja sudah dilarang sama negara”

Di masjid besar kampung Kaspolan memang ada kebiasaan wong cilik tidak boleh mengakses deretan shaf pertama. Selalu yang terdepan setelah imam adalah penguasa. Lalu ada para menteri, para jenderal, para cendekiawan, para tokoh, dan lain-lain yang seperti itu.

Meskipun wong cilik yang datang paling pertama. Entah itu dia tukang sapu, merbot, kuncen yang bukain pintu masjid, Wak Kajan, Wak Kaserun, Wak Bunali, et cetera, tetap mereka ndak boleh ada di Shaf pertama.

Beragama tidak jauh bedanya dari berdagang. Kita membayangkan bonus-bonus yang kita dapatkan setelah ritus yang kita persembahkan pada Nya. Tidak salah. Tapi apa tidak mengganjal di dalam hati. Bahwa dalam hal pemilihan shaf saja kita masih perlu diiming-imingi materi macam gradasi besaran ternak. Ataukah mungkin hadiah ternak itu lebih besar kadar alih perhatiannya. Sehingga menutupi nikmat mesra cinta kita pada Nya.

 “Kalau memang untuk beribadah sholat harus diberi kepragmatisan laba ekonomi seperti itu, maka yang aku minta bukan Unta”

“Lah terus pean minta apa cak?”

“Aku pengen ada colokan listrik. Jadi  waktu sholat sekalian aku bisa ngeces hape”

Maklum, Kaspolan sedang jadi musafir. Menjemput kekasihnya tapi hape sedang mati. Ingin sekali Kaspolan menghubunginya, Sekedar bilang:

Aku ada di depan
MenungguMu
Tersenyum pada ku

Gresik, 9  Juni 2018

Kalaupun datang sepuluh malam terakhir Ramadhan, tiap tahunnya Sobirin tidak sibuk mencari-cari Lailatul Qadar. Tidak melakukan amalan apa...

Kalaupun datang sepuluh malam terakhir Ramadhan, tiap tahunnya Sobirin tidak sibuk mencari-cari Lailatul Qadar. Tidak melakukan amalan apa-apa. Tidak memperbanyak ngaji Quran. Tidak iktikaf di masjid. Tidak pula menambah jumlah rakaat sholat malam. Tidak juga banyak-banyak sedekah. Toh ya uang yang mau disedekahkan itu darimana? Wong bisa berlebaran tanpa nambah utang saja itu rasanya sudah Alhamdulillah sekali bagi Cak Sobirin yang miskin.

Bagi Sobirin, malam Lailatul Qadar bukan jadi magnet utama peribadatannya selama Ramadhan. Bukan fokus utama. Bukan cita-cita agung. Meskipun begitu, Sobirin sangat memperlakukan Lailatul Qadar begitu spesial di hati, akal dan jiwanya. Terlebih apa yang menjadi inti Lailatul Qadar. Al-Quran.

“Loh kok Al Quran lebih utama dari malam Lailatul Qadar, Rin? Jangan bikin tafsir sendiri kamu itu kan bukan Ulama bukan ustadz. Bukan kiai. Bukan siapa-siapa” Protes Kaspolan.

“Loh siapa yang mau menafsikan Quran itu cak. Wong aku ini cuma kuli kasar. Ora pantes nafsirke dewe” Bantah Sobirin.

Sobirin menyambung, dirinya sekedar memesrai. Bukan menafsir. Gusti Allah sendiri yang berfirman, Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan (lailatil qodri). Sobirin sangat percaya Gustinya adalah Sang Maha Sastra. Jadi tidak mungkin Gustinya itu keliru. Kalau lailatul qadar yang diutamakan pasti ayatnya berbunyi, sesunggunya kami telah menurunkan malam kemulian.

Jadi tidak ada keutamaan lailatul qadar. Yang ada itu keutamaan Al Quran. Begitu ada ayat Allah menyapamu. membersamaimu. menemanimu. Dan kau juga memesrai perhubungan Allah denganmu itu, maka detik itu juga engkau telah mendapatkan lailatur qadar.

Sobirin lanjut bercerita, tidak ada perasaan paling tidak berdaya serta gusar dalam hidupnya, kalau bukan pada saat menunggu kelahiran anak pertama. Sobirin sangat ketakutan. Sendirian. Bukan kepalang khawatirnya Sobirin akan keselamatan Mbak Maryam istrinya dan bayi yang dikandungnya. Sebab, sang buah hati terpaksa harus lahir pada umur 8 bulan. Bayi di dalam perut juga harus hidup dalam keadaan gawat. Tanpa air ketuban sama sekali.

Malam menjelang kelahiran, Sobirin sempatkan baca Al Quran. padahal ya hari-hari biasanya jarang Sobirin baca Al Quran. Dia buka halamannya secara acak. Dia mulai baca. tidak banyak cuma satu dua lembar. Lah kok ndilalah sampai pada ayat Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara maruf.

Sontak sobirin langsung tegak. geleng-geleng kepala. Lalu ujung matanya muncul kilauan. Bibirnya tersungging senyuman sambil kepalanya mendongak ke atas. Gusti betapa baiknya Engkau. menyapa orang yang sendirian dalam ketakutan yang sangat. Seakan Kau bilang, sudah jangan khawatir, kowe ora dewean Rin. Ini aku. Aku menyapamu. Aku di sisimu dan jangan Sedih. Aku akan jaga anakmu. Sebentar lagi kamu dan istrimu bakal jadi ayah dan ibu. 

Pun detik-detik saat istrinya masuk ruang operasi kelahiran, Sobirin buka lagi Al Quran secara acak dan membacanya. muncul lagi ketakjubannya. Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau maha pendengar doa. Doa Nabi Zakariya itu selalu Sobirin ucapkan usai solat. Dan tiba-tiba menjelang kelahiran anaknya, secara tak terduga Gusti Allah menakdirkan Sobirin membacanya. Kali ini dia baca langsung dari kitab yang diturunkan pada saat malam lailatul qadar. yang membuat malam itu lebih mulia dari seribu bulan. Seakan Allah bilang ke Sobirin, ini aku kabulkan doamu. Tak lama, bayi kecil menangis keras.Wajah sobirin bercahaya dan enak dipandang.

"Sebentar-sebentar Rin. Tunggu. Itu kan cuma pengalaman over romantikmu. Sementara Kanjeng Nabi berpesan untuk mencari Lailatul Qadar di malam ganjil sepuluh hari terakhir Ramadhan" Kaspolan tak terima.

"Mungkin apa yang aku rasakan ini bisa jadi sangat salah cak. Tapi kalau toh Cak Kaspolan percaya lailatul qadar, kenapa ya tidur pean masih lebih banyak daripada ibadah?"

Gresik, 7 Juni 2018

Banyak orang salah sangka pada Sobirin. Orang kampung menganggap Sobirin adalah orang kaya. Wong Menak. Berduit. Wong Duwe. Orang Berada. ...


Banyak orang salah sangka pada Sobirin. Orang kampung menganggap Sobirin adalah orang kaya. Wong Menak. Berduit. Wong Duwe. Orang Berada. Namun, aslinya dia itu tidak kaya, juga tidak miskin. Kalau diteruskan sebenernya Sobirin itu menjurus miskin.

Kalau mau diikuti berapa jumlah pendapatan bersih yang sobirin dapat tiap bulannya, jika tahu, anda pasti merasa iba. Sobirin cek titik e gaji mu! Sayang, Sobirin tidak bisa menyangkalnya karena rumah yang dia miliki tarasa magrong-magrong bagi tetangga kanan kirinya. Sobirin juga punya mobil. Padahal orang tidak tahu, Sobirin bisa jadi tidak makan kalau Cuma gajinya saja yang dipakai untuk bayar cicilan.

Suatu hari ada omongan orang kampung, Sobirin itu pelit banget. Bahkan sama anaknya sendiri. Wong ya duwe. Sama anak sendiri kok medit sekali. Kalau Istrinya dapat duit anaknya baru dibelikan. Kalau enggak ya mertuanya yang siap-siap nanggung.

Mendengar itu,  Sobirin cuma senyum-senyum kecil dalam hati. Sobirin tidak marah pada omongan itu. Meskipun Sobirin tahu siapa orang tersebut, dia tetap menghormati dan mencintainya. Pantang bagi Sobirin untuk membenci orang yang tidak tahu perihal detail kehidupan finasialnya.

“Wong ya orang tidak tahu, Tidak pantas untuk dibenci”

Itu adalah konsekuensi dari sikapnya yang tak mau sambat ke orang lain. Tidak ada kata sambat bagi sobirin. Pada hujan deras. Pada panas dingin suhu. Sakit sekujur badan. Pada tidak enaknya makanan di atas meja. Sobirin tidak pernah sambat. Kebanyakan orang mungkin tidak pernah makan makanan sisa orang lain di restoran cepat saji. Kebanyakan orang tidak pernah hampir mati kehausan di gunung. Sobirin pernah.

Jangan sampai orang lain tahu kalau dia susah. Akibatnya orang menganggap sobirin orang kaya punya banyak harta. Sobirin live very well. Toto tentrem kertoraharjo. Adem ayem.

Bahkan sama orang tuanya sendiri Sobirin sangat pandai menutupi kemalangan hidupnya. Sedikitnya gajinya. Banyaknya hutangnya. Serba ngepres. Bahkan tak pegang uang sama sekali, dia tutup rapat-rapat semua keperihan itu.

“Pamali kalau hidup itu banyak sambat ke orang lain, kalau bisa tiap menghadapi apa saja dianggap itu semua rahmat. Kalau sudah berusaha mati-matian, Kaya Alhamdulillah. Miskin ya Alhamdulillah”

Kalau sekedar ada slentingan omong negatif seperti itu masuk ke telinga Sobirin sama sekali tidak jatuh. Dalam prinsip hidupnya, Atas apapun yang terjadi di dunia, dianggap buruk, hina, miskin, bodoh oleh orang lain Sobirin tak peduli. Asalkan Gusti Allah Taala tidak marah padanya.

Tak ada yang paham dengan laku hidup Sobirin.

Sobirin berjalan di jalan gelap nan sunyi

Pandangan tentang ukhuwah islamiyah boleh jadi mengalami perluasan konteks. Tidak hanya dangkal sebatas persaudaraan antar sesama kaum mu...


Pandangan tentang ukhuwah islamiyah boleh jadi mengalami perluasan konteks. Tidak hanya dangkal sebatas persaudaraan antar sesama kaum muslim seperti pemahaman yang selama ini awam di khalayak. Melainkan sanggup dan sangat layak memuai dari padatan beku tersebut.

Memang tidak salah, bila ukhuwah islamiyah hanya terbatas pada perilaku kepada saudara seiman saja. Namun, mengapa tidak lebih indah diijtihadi sebagai persaudaran (ukhuwah) yang bersifat islam (islamiyah). Persaudaraan yang menyelamatkan.

Landasannya jelas, secara harfiah Islam berati selamat. Kata Islam tersusun dari tiga huruf hijaiyah sin, lam, dan mim : Salama, yang bermakna selamat.  Dalam pengertian bahasa, islam sendiri merupakan bentuk mashdar dari kata aslama (turunan Salama) yang memiliki arti damai atau kedamaian.

Hal itu sesuai dengan yang termaktub dalam Al-Quran, “Dan jika mereka condong kepada perdamaian (lis slami) maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (Al-Anfaal – 61).
Ukhuwah Islamiyah bisa bermaksud persaudaraan yang saling mengislamkan, saling menebar kedamaian, saling menyelamatkan bagi apa dan siapa saja. Dengan begitu konsep tersebut akan berlaku dalam konteks yang sangat luas. Baik untuk sesama muslim, di luar muslim, manusia, bangsa dan negara. Bahkan lebih jauh untuk tumbuhan, binatang dan kepada seluruh alam semesta.

Lebih gamblang, contoh teknis apa itu menyelamatkan sudah disabdakan Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari sahabat Ibnu Umar, “Seorang Muslim bersaudara dengan Muslim lainnya. Dia tidak menganiaya, tidak pula menyerahkannya (kepada musuh). Barangsiapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah akan memenuhi pula kebutuhannya. Barangsiapa yang melapangkan dan seorang Muslim suatu kesulitan, Allah akan melapangkan baginya satu kesulitan pula dan kesulitan-kesulitan yang dihadapinya di hari kemudian. Barangsiapa yang menutup aib seorang Muslim, Allah akan menutup aibnya di hari kemudian.”

Sudah jelas bahwa islam itu rahmatan lil alamin. Sayangnya, persoalan di tataran ukhuwah masih belum tuntas. Banyak pertikaian yang muncul akibat perbedaan. Mulai dari perbedaan suku, etnis, ras, bangsa, dan agama. Bahkan hingga perbedaan cara pandang, paradigma, mahdzab, atau ideologi. Konteks terebut berlaku dalam hubungan antar muslim atau secara luas.

Padahal sunnatullah menghendaki apa yang terjadi dalam alam semesta ini berbeda-beda. Tidak seragam adanya. Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al Hujurat – 13)

Rumus hidup dalam perbedaan menurut Allah sangatlah lah clear. Bila anda menemukan perbedaan yang anda lakukan paling utama adalah li taarafu, supaya kamu saling kenal-mengenal. Sayangnya ayat terbut masih kurang dalam kita maknai. Kalau Allah berfirman dalam ayat itu laki-laki dan perempuan kita berhenti pada tataran perbedaan gender.

Namun bila kita mau membuka pori-pori lebih lebar dan menimba hikmah yang luar biasa dahsyat dari ilmu Allah, Dzakari wa untsa juga dapat kita maknai sebagia unsur maskulinitas dan feminitas. Tidak hanya manusia saja. Bahwa alam semesta ini memiliki dua termin unsur. Maskulin atau feminin. Ada yan keras ada yang lunak. Ada yang kasar ada yang lembut.

Lebih jauh, suuban wa qobail juga tidak hanya sebatas suku dan bangsa. Hal itu bisa karakter dan pola kecenderungan akan banyak hal. Karakter macan berbeda dengan kucing. Kelapa berbeda dengan pisang. Bahkan empat sahabat nabi Abu Bakar, Umar bin Khatab, Usman bin Affan dan Ali bin Abu Thalib saling memiliki kecenderungan watak yang berbeda satu sama lain.

Contoh konkret di zaman ini adalah ada beragam identitas mulai dari kelompok, golongan, perbedaan mahdzab, ormas, partai politik, dan seterusnya. Namun di akhir ayat tersebut, Allah menutupnya dengan mengesampingkan identitas yang manusia bangga-banggakan itu dengan menggarisbawahi pentingnya output. Bahwa label mulia atau hina di rapor Allah ditentukan oleh sikap takwa manusia.

Celakanya, dewasa ini kebanyakan orang secara sepihak mengklaim kebenarannya sendiri. Ketika orang berkeyakinan benar mereka akan menyalahkan orang lain. Sehingga yang terjadi adalah perpecahan. Rasa lebih baik dan lebih benar ini sudah disinggung oleh Allah SWT melalui firman berikut.
 Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (Al Hujurat – 11)
Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (Al Hujurat – 10)

Mengapa kita tidak bersikap tawadhu. Rendah hati seperti yang dicontohkan oleh Imam Syafii lewat adagium, “saya mungkin benar, tapi bisa jadi salah dan pendapat selain saya itu mungkin salah tapi bisa jadi benar”.  Lebih jauh, yang paling berhak mengklaim kebenaran hanyalah Allah. Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu (Al Baqarah – 147).

Alangkah indahnyamenjaga persaudaran dengan kunci rendah hati. Indahnya benar tanpa menyalahkan orang lain. Betapa indahnya menang tanpo ngasorake. Menang tanpa meniadakan, merendahkan orang lain.

Gresik, 15 Mei 2018

Langkah-langkah Penggunaan Fingerprint Instalasi Masukkan CD – Buka setup Fpersonnel – centang semua saat install – port diganti (d...

Fingerprint Kana Revo 161B

Langkah-langkah Penggunaan Fingerprint
Instalasi
Masukkan CD – Buka setup Fpersonnel – centang semua saat install – port diganti (di atas 3309) – buka Fpersonnel – masukkan serial number – pilih revo 161b – pilih koneksi USB

Pilih Menu Pengaturan
Ubah Nama Perusahaan – pilih sub menu Jam Kerja – tambah – isi nama misal ‘Senin-jumat’ -  atur jam kerja – atur lembur – tambah jam kerja lagi yang berbeda misal “sabtu” – pilih sub menu Jadwal Kerja Normal – tambah – pilih mulai senin – simpan

Pilih Data Pegawai
Buka file instalasi – Local disk C – Program file X86 – Fingerspot personnel – pilub file import – copy dan pastekan file tersebut – buka, ubah dan tambahkan data pegawai – kembali ke aplikasi – pilih menu pengaturan – pilih sub menu impor data – pilih file – import

Upload list data pegawai ke mesin
Sambungkan mesin dengan laptop dengan kabel USB – pilih menu Mesin – centang revo 161b – pilih upload user – tampilkan user – centang pegawai – upload.

Pilih Menu Pegawai
Centang semua pegawai – pilih jadwal pegawai – jadwal pegawai – pilih jam kerja – simpan
Pilih Menu Mesin
Centang revo 161b – pilih download scan log

Pilih Menu Laporan
Pilih tanggal kerja – pilih rincian harian (merah = tidak masuk) – pilih rekap periode

Pilih Menu Pengaturan
Pilih umum – saya setuju – simpat – exit program – buka lagi aplikasinya

Pilih Menu Penggajian
Pilih sub menu komponen gaji – save – pilh sub menu group gaji – pilub kode 1 – centang rumus – pilih field laporan – pilih kehadiran jumlah – atur kolom uang.
Pilih sub menu group gaji pegawai – centang pegawai dari list pegawai belum masuk grup gaji – klik panah kiri.
Pilih sub menu proses penggajian – tambah – centang group gaji ‘gaji karyawan’ – centang komponen gaji ‘gaji pokok’ – isi nama – pilih tanggal – hitung – simpan – muncul gaji – selesai.

Margana Yodha Samana Tembus lah awan, Menggelegar dikau bersama petir disana Hujami ibu bumi dengan hujan Bermuatan cinta ke sega...



Margana Yodha Samana
Tembus lah awan,
Menggelegar dikau bersama petir disana
Hujami ibu bumi dengan hujan
Bermuatan cinta ke segala

Margana Yodha Samana
Melesatlah progresif ke depan,
Lurus laiknya ampuh pusaka
Bersinar dengan kembang kejernihan
Berisikan presisi cahaya

Margana Yodha Samana
Melajulah, angkut semua bawaan
Jangan sendirian membelah samudera
Dan pada tiap-tiap kabin
Disitu engkau jadi nahkoda

Margana Yodha Samana
Berpaculah dalam patrap keajegan
Teguh dalam nilai dan derma
Berhimpun dalam indah kesejatian
Kebenaran di lubuk dwipa

Gresik 22 Mei 2018

Para ustadz, mubaligh, habib, dan ulama menekankan jangan sampai menjelang ramadhan tiba, hati kita malah dirundung perasaan tidak gembi...


Para ustadz, mubaligh, habib, dan ulama menekankan jangan sampai menjelang ramadhan tiba, hati kita malah dirundung perasaan tidak gembira. Harusnya bulan puasa itu disambut dengan beragam ungkapan senang, rasya syukur, dan bungah.

Kalaulah ada terselip sedikit saja ketidakgembiraan tentang besok 1 Ramadhan, maka derajat keimanan kita sangat pantas dipertanyakan. Semua ceramah-ceramah, khutbah-khutbah, petuah-petuah orang alim berputar-putar dalam konteks itu tiap tahun. Selalu menasehati demi yang terbaik untuk kita.

Bagaimana tidak gembira? Wong ramadhan menyajikan aneka euforia yang ekstase. Kuliner tersaji kian beragam. Kalau biasanya di luar bulan puasa, menu makan kita sangat standar. Kalau puasa ada menu takjil, menu utama dan menu penutup. Kalau sahur kita ada banyak pilihan lauk pauk lebih enak lebih bergizi daripada hari-hari biasanya. Karena kalau makan yang bergizi kita punya sugesti puasa bakalan kuat nanti. Bahkan ada banyak tips agar puasa tidak cepat haus atau lapar dengan begini begitu. Kalau puasa tujuannya untuk bernyaman-nyaman lah buat apa puasa?

Bagaimana tidak gembira? Jelang bedug maghrib ruas-ruas jalan dipenuhi PKL dadakan. Berderet-deret menyajikan aneka masakan. Dari manis, asin, pahit, asam. Komplit tinggal pilih. Dimana-mana pujasera makin ramai. Warung pinggir jalan makin berhias. Selambu-selambu mereka pakai untuk sebagai dekorasi.

Bagaimana tidak gembira? Pola silaturahmi kita saat bulan puasa sanga gegap gempita. Interaksi antar sesama jadi makin gayeng. Tengok saja ada tradisi buka bersama sambil reuni. Ketemu teman-teman yang sudah tak bersua lama. Rasanya begitu muskil, kok niat puasanya sendiri-sendiri tapi wkatu berbuka ramai-ramai. Kalau sahur kita berganti ikut kegiatan bedug sahur atau sahur on the road.

Bagaimana tidak gembira? Geliat entertainment di teve yang makin menarik buat disimak. Ada beratus-ratus program khas ramadhan yang tayang. Iklan pun dipersiapkan secara khusus sebagai startegi content marketing saat ramadhan. Rasanya, selain sidang isbat, kita juga tahu bulan puasa sebentar lagi dari iklan sirup. Belum lagi album musik khusus ramadhan yang makin menjamur.

Bagaimana tidak gembira? Di penghujung bulan puasa kita disibukkan untuk pergi ke pusat perbelanjaan pakaian. Supaya outfit kita terlhat trendi selama lebaran. Bahkan belum juga seminggu puasa, anak-anak sudah dididik orang tuanya untuk segera belanja baju baru.

Sebenarnya kita ini puasa apa tidak? Disuruh menahan kok malah lebih riuh nmelampiaskan. Lantas apa bedanya puasa daripada bulan-bulan biasanya. Semua dagangan laku keras. Semua omset meningkat tajam. Kita makin cengengesan. Kita makin asyik dalam keramaian sempalan hiburan.

Lain soal dengan Kaspolan. Bulan puasa selalu sukses membuat kaspolan sedih. Sebulan sebelum puasa dirinya begitu melankolik. Semiggu sebelum puasa dirinya begitu sedih. H-1 puasa tangisnya pecah.

“Mau gembira bagaimana Gusti? Tunjukilah hamba caranya bagaimana bergembira menyambut ramadhan seperti mereka” seru Kaspolan.

"Sedang, kalau puasa tetap saya begini-begini saja. Puasa sekedar lapar dan haus saja maksiat tetap jalan. Sholat ya sekedar sholat. Hanya sebatas setor absen. Kalau sholat duha dan tahajud itu semua aslinya demi maksud-maksud pengharapan atas dilancarkannya pendapatan saya. Naik pangkat saya. Dibebaskan saya dari jerat hutang. Lancar perniagaan saya. Kami selalu sehat bebas dari sakit"

"Kalaupun terawih dan membaca tadarus Al Quran akan saya niati untuk menumpuk pahala. Demi bisa membayar harga tiket ke surga-Mu. Meskipun ada hadist yang berbunyiTelah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.”

Engkau sendiri yang menjamin membuka pintu-pintu surga dan menutup rapat pintu neraka. Sehingga kami yakin akan dengan begitu gampangnya masuk taman surgamu. Tapi apakah segampang itu kami masuk surgamu. Sedangkan tidak ada penghayatan cinta dan kerinduan buat Mu atas segala ibadah kami. Mungkin kalau hidup kami sudah sakinah, adhem ayem tentrem kertoraharjo kami tak akan pernah kangen lagi padamu.

Padahal khusus ibadah puasa di bulan ramadhan Engkau begitu romantik posesif. "Allah berfirman, ‘Semua amal anak Adam untuknya kecuali puasa. Ia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya." Pernyataan itu Engkau ungkapkan penuh dimensi keintiman. penuh landasan cinta. penuh muatan kemesraan dan rindu. kami yang makhluk ini kalau jatuh cinta pada kekasih hati akan menjadi over romantic dan pencemburu. Apalagi engkau yang Maha Pencinta. Maha Pengasih dan Penyayang.

Sedang kami tidak punya muatan rasa itu dalam setiap peribadatan kami padamu. Di bulan puasa sama sekali tidak kami hayati dengan tafakur dan kontemplasi. Puasa harusnya sepi. lirih. namun kami jalani dengan riuh.

Dunia mendistorsi kami. Bahkan ketakutan nomor satu kami tidak kami persembahkan untuk dirimu. Kami takut puasa kami lemes. Takut lebaran tak dapat THR. Takut tak bisa kerja optimal karena puasa lemes. Takut sakit karena perut kami lapar.

Ketika Engkau menomorsatukan kami. Kami tidak menomorsatukan Engkau.

Kaspolan tersedu dalam keterasingannya.


Gresik 16 Mei 2018